32 Jam Dibius Aroma Karsa dari Dee Lestari

32 Jam Dibius Aroma Karsa dari Dee Lestari

Peringatan: review ini mungkin ada spoilernya. Mungkin. Saya juga gak yakin.

Setelah 32 jam bergulat dengan Aroma Karsa, satu kesan yang langsung tersirat setelah selesai membacanya – dan memikirkannya – adalah: ini novel yang kaya.

Bukan cuma karena novel ini begitu tebal, sekitar 700 halaman, tetapi karena kisahnya dibangun dengan berbagai latar belakang: perjuangan di lingkungan tempat pembuangan akhir sampah, kehidupan serba mewah salah satu wanita terkaya di Indonesia, dan kehidupan gunung yang masih begitu kental dengan aspek spiritualitas. Semuanya disajikan untuk mengisahkan sebuah mitologi lokal, yang dibalut dengan pelajaran sejarah Kerajaan Majapahit dan ilmu pengetahuan tentang indera penciuman dan tumbuh-tumbuhan..

Sekilas, terdengar berat, tetapi Dewi Lestari mampu membuatnya lebih sederhana. Itulah kekuatannya: ia bisa menyatukan berbagai aspek yang sekilas tak terlihat saling terkait tadi menjadi satu kesatuan untuk membangun kisah yang membius dari awal hingga akhir. Dan jika meminjam salah satu kutipan terkenal yang konon diucapkan Albert Einstein, yaitu bahwa “definisi jenius adalah mengambil sesuatu yang kompleks dan membuatnya menjadi sederhana”, maka Dee adalah seorang penulis yang jenius.

Sebagaimana seri Supernova dan buku-buku Dee lainnya, saya yakin diperlukan riset yang tidak sedikit untuk menghasilkan Aroma Karsa. Bahwa ada nama Ananda Mikola di halaman terima kasih di bagian depan buku menunjukkan kalau satu aspek yang tak terlalu signifikan seperti urusan mobil balap (salah satu karakter dalam Aroma Karsa adalah seorang pebalap) pun diriset secara serius dan tak sekadar mengandalkan Google semata. Lalu bayangkan bagaimana ia menggambarkan kehidupan di TPA hingga jalur tengah Gunung Lawu – bayangkan riset seperti apa yang ia lakukan untuk menggambarkannya dengan baik.

Inilah mengapa saya selalu mengapresiasi karya-karya Dee, termasuk Aroma Karsa. Apalagi dengan kemampuannya untuk ‘menjahit’ berbagai hasil riset tadi ke dalam cerita dengan bahasa yang apik dan membuatnya cukup sederhana untuk bisa dipahami dan diimajinasikan oleh banyak orang. Aroma Karsa sekali lagi membuktikan kualitas Dee sebagai salah satu penulis terbaik di dunia sastra Indonesia.

Meski begitu, Aroma Karsa tentu tidak sempurna. Ada beberapa bagian yang membuat saya mengerutkan dahi, seperti bahasa Jati yang terlampau tertata dan saintifik untuk ukuran lelaki yang menghabiskan separuh hidupnya di tempat pembuangan – tak peduli meski belakangan diungkap bahwa ia menghabiskan sebagian penghasilannya untuk belajar tentang banyak hal di warnet. Mungkin saya terlalu meremehkan orang seperti Jati, tetapi bagi saya, tutur bahasanya (terutama di awal pertemuannya dengan Suma, ketika ia menjelaskan kritiknya atas Puspa Ananta di halaman 142) terlampau wah untuk seseorang sepertinya.

Selain itu, lompatan waktu dari Raras muda ke Raras dewasa juga sempat membikin bingung – saya cukup terkejut ketika diceritakan bahwa meninggalnya Janirah terjadi pada 1960an –, dan bahwa porsi Raras di akhir novel menjadi terlampau kecil dan karakternya menjadi sepenuhnya antagonis juga terasa cukup menganggu.

Unsur ceritanya sangat mengingatkan saya akan Perfume: The Story of a Murderer karya Patrick Süskind, salah satu novel terpopuler dari Jerman yang juga sudah diadaptasi ke layar perak. Saya merasa ada banyak kemiripan antara tokoh Jati dan Jean-Baptiste Grenouille, yang sama-sama berangkat dari bawah untuk menjadi seorang perfumer andal dengan kekuatan hidung mereka yang di luar normal. Selain itu, aspek keingintahuan yang besar, yang sampai-sampai membuat keduanya mencari unsur parfum dari hal-hal yang tak terpikirkan, juga membuat saya sulit untuk tidak memikirkan Perfume ketika membaca Aroma Karsa. Satu lagi kemiripan lain: sementara Grenouille yakin bahwa karya parfum terbaiknya hadir ketika ia mampu mengambil wangi dari tubuh seorang perawan, Jati berhasil menghasilkan karya terbaiknya setelah mencium lalu mengabadikan wangi tubuh Suma dalam bentuk parfum, yang kemudian dijadikan unsur dasar atau pengikat Puspa Karsa versi dirinya.

Dee mungkin sangat terinspirasi novel karya Süskind tersebut, dan itu jelas tidak salah. Tetapi bagi saya, terlalu banyak kemiripan antara dua tokoh utama di dua novel ini, yang membuat Aroma Karsa jadi terasa kurang terlalu istimewa sebagai sebuah karya orisinal.

Meski begitu, hal-hal tadi pun tidak mampu membendung hasrat untuk membaca Aroma Karsa lagi dan lagi. Seolah, di setiap lembarnya ada mantra khusus yang membuat mata kita tak mau berpaling. Bahwa saya mampu menyelesaikannya dalam 32 jam bisa menjadi bukti, bahwa buku ini mungkin benar-benar ada mantranya. Pada akhirnya, saya tetap menikmati pengalaman membaca Aroma Karsa, terlepas dari berbagai hal yang mengganggu tadi, dan membuat saya harus memberikan bintang empat untuk buku ini dan kemampuan bercerita Dee Lestari.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *