4 Pelajaran yang Saya Dapatkan Setelah Menjadi ‘Fotografer Sepakbola’ Untuk Pertama Kalinya

4 Pelajaran yang Saya Dapatkan Setelah Menjadi ‘Fotografer Sepakbola’ Untuk Pertama Kalinya

Salah satu alasan saya belajar fotografi adalah karena saya tertarik dengan fotografi olahraga, dan senang rasanya akhir pekan kemarin saya mendapatkan pengalaman pertama untuk meliput sebuah pertandingan sepakbola sebagai fotografer.

Saya kembali meminjam lensa Sony E PZ 18-105mm f/4 milik Tama untuk menjadi senjata saya di Gelora Bung Karno hari Minggu kemarin. Meski jangkauannya tak terlalu jauh (bahkan dengan sensor APS-C yang berarti focal length maksimalnya mencapai 157,5mm, jangkauannya hanya sampai kotak penalti!), tapi jelas ini jauh lebih baik ketimbang menggunakan lensa kit 16-50mm saya atau lensa prime saya yang baru, Sigma 30mm f/1.4.

DSC07376

Ada beberapa pelajaran penting yang saya dapat dari pengalaman meliput pertandingan sepakbola sebagai fotografer hari Minggu malam kemarin, dan saya ingin menuliskannya di sini untuk pembelajaran saya lagi ke depannya:

1. Pikirkan sejak awal di mana kamu akan berdiri dan segera amankan tempatmu

Untuk mendapatkan foto terbaik dari berbagai situasi, seorang juru foto harus mencari sudut terbaik untuk mengambil foto – dan di pertandingan sepakbola, apalagi di laga besar seperti pertandingan persahabatan Indonesia vs Islandia kemarin, itu berarti harus cepat mencari posisi terbaik dan mempertahankannya sepanjang waktu.

Saya menyadari hal ini setelah tertinggal dari fotografer lainnya ketika semua juru foto dipersilakan bersiap di dekat gerbang masuk para pemain, di depan bench pemain, untuk memotret ketika mereka keluar dari lorong stadion dan berjalan menuju lapangan.

DSC06908

Saya tidak mendapatkan posisi yang bagus dan harus rela memotret dari atas pundak juru foto lainnya. Posisi yang sangat tidak ideal untuk mencari foto yang bagus.

Ini bisa dihindari jika sedari awal, kita sudah tahu di mana kita harus berdiri, dengan merencanakan foto seperti apa yang hendak kita dapatkan dan segera mengamankan posisi ideal tersebut.

2. Mempersiapkan segala kemungkinan

Sehari sebelum pertandingan, saya sempat melihat ramalan cuaca dan menemukan bahwa meski seminggu sebelum laga Jakarta hampir selalu cerah, hari Minggu akan turun hujan di wilayah ini. Bahkan sedari sore, hujan sudah turun lebat di area Senayan. Tapi entah bagaimana saya tidak terpikir apa yang harus saya lakukan jika hujan turun, padahal kamera Sony a6000 saya bukanlah kamera yang weather-sealed.

DSC06938

Saya sampai harus ‘meminta-minta’ pada penonton yang sedang makan untuk menyerahkan kantong plastik yang ia miliki karena tidak menemukan plastik lainnya. Plastik itu lalu saya gunakan untuk menutupi sebagian body kamera dan lensa, walau itu juga tidak melindungi benar kamera dan lensa yang saya pakai.

3. Persiapan baterai cadangan… atau setidaknya power bank

Salah satu kekurangan menggunakan mirrorless adalah baterainya yang tidak terlalu tahan lama (jika dibandingkan DSLR), dan itu baru saya rasakan benar akhir pekan kemarin. Kalau biasanya satu kali mengisi daya baterai bisa digunakan sampai dua hari (misalnya ketika liburan di Bali kemarin), dalam kegiatan seperti meliput pertandingan di mana kamera harus selalu hidup untuk merekam semua momen penting, baterai yang gampang habis daya jadi terasa sekali efeknya.

DSC07105

Karena sudah digunakan sejak berjalan masuk ke komplek Gelora Bung Karno, baterai saya akhirnya benar-benar habis ketika peluit babak pertama berakhir dibunyikan. Saya sampai harus berlari ke media center untuk mengisi daya dan setelah telat keluar hingga lima menit pun, baterai hanya terisi 20an persen. Kamera tetap bisa hidup sampai akhir pertandingan, itupun harus diakali dengan sering mematikan kamera dan menonaktifkan layar utama.

Keberadaan setidaknya satu baterai cadangan akan sangat krusial dalam kegiatan seperti ini. Atau setidaknya, persiapkan power bank – kalau kameramu memang bisa di-charge menggunakan power bank seperti Sony A6000.

DSC07205

4. Jangan selfie sebelum pertandingan berakhir

Ini kejadian paling memalukan sekaligus pelajaran yang paling berharga yang saya dapatkan akhir pekan kemarin.

Ceritanya, menjelang berakhirnya babak pertama, baterai kamera saya sudah hampir habis dan babak juga sudah hampir selesai. Saya memutuskan untuk mematikan kamera, lalu memfoto diri… tepat ketika Islandia menyerang dan mencetak gol ke gawang Indonesia (saya berdiri di sisi gawang Indonesia di babak pertama.

DUH!!

Untungnya saya sempat mengabadikan selebrasi para pemainnya yang tepat di depan saya, untuk kemudian dijadikan foto utama di laporan pertandingan ini.

DSC07131

Pokoknya, fokus ke pertandingan selama pertandingan masih berlangsung!

International Friendly: Indonesia vs Iceland

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 5 comments for this article
    • ekkyrezky Author at 11:15 am

      Kalau di kompetisi resmi kayak Liga 1 ya harus apply untuk dapat ID Media ke PT. LIB (sebelum musim dimulai), atau ke PSSI Pers kalau untuk pertandingan tim nasional Indonesia.

      Susah kalau nggak kerja di media, kecuali kamu dapet kerjaan di tim media PT. LIB atau PSSI atau kerja di sponsor/partner mereka, karena gak bisa sembarang orang masuk ke pinggir lapangan gitu. Karena setelah dapet ID Card untuk fotografer, pas hari H ID media kita juga ditahan untuk dituker sama rompi fotografer yang harus dipake di lapangan.

      Kalau di turnamen-turnamen non-resmi, belum pernah tau, mungkin bisa deketin panitia turnamen/orang humasnya. Atau kalau mau latihan, coba motret temen-temen main bola aja dulu. Kalau saya memang kerja di media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *