A Little History of Science: Buku Sejarah Sains yang Menyenangkan untuk Awam

A Little History of Science: Buku Sejarah Sains yang Menyenangkan untuk Awam

Kata ‘science’ memang baru banyak digunakan di bidang sains pada abad ke-19, namun sejarah sains, sebetulnya, sudah dimulai sejak peradaban kuno di berbagai belahan dunia. Karenanya, merangkum semuanya dalam sebuah buku yang tebalnya tak sampai 300 halaman bukanlah pekerjaan mudah, apalagi jika harus menjelaskannya dengan sesimpel mungkin. William F. Bynum, saya rasa, cukup sukses dengan A Little History of Science.

Ini mungkin bukan buku yang pas untuk mereka yang memang telah terjun di dunia sains, tapi bagi orang-orang awam, seperti saya, misalnya, yang ‘berpisah’ dengan fisika, biologi, dan kimia sejak masuk IPS di kelas 2 SMA, ini adalah buku yang cukup pas untuk mengingat kembali beberapa pelajaran sains ketika sekolah dulu atau untuk mengenal kembali beberapa tokoh sains penting seperti Charles Darwin, Sir Isaac Newton, atau Albert Einstein.

Bynum, seorang profesor sejarah obat-obatan di University College London, memulai ceritanya tentang sejarah sains dari peradaban Babylonia, yang kemudian dilanjutkan dengan peradaban Islam di mana ia menyoroti beberapa hasil karya penting para ilmuwan Islam bagi dunia sains. Ini, bagi saya, adalah sesuatu yang cukup menarik; di tengah maraknya islamofobia yang dialami dunia barat, membaca bagaimana karya ilmuwan-ilmuwan peradaban Islam diakui adalah sesuatu yang menyegarkan.

Tapi Bynum memang terlihat tak ragu untuk memasukkan unsur agama dalam ceritanya tentang sejarah sains ini. Pada pembahasan mengenai usia bumi, misalnya, ia ikut membahas bagaimana para ilmuwan di masa lampau juga mempertimbangkan kisah bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta dalam tujuh hari, yang terdapat di Kitab Kejadian, dalam upaya mereka memperkirakan usia bumi. Saat itu, gereja memang memiliki kuasa yang besar sehingga tidak mengherankan jika para ilmuwan merasa harus mempertimbangkan apa yang tertulis di Kitab Suci, baik itu karena dorongan pribadi (bagi ilmuwan yang relijius) atau karena tidak ingin membuat gereja tersinggung.

Cara Bynum bercerita dalam A Little History of Science memang menarik dan mengalir. Inilah yang membuat buku ini bisa saya selesaikan dengan cukup cepat, walau beberapa penjelasan terkait hukum fisika seringkali membuat saya membacanya hati-hati dan berulang-ulang untuk memahaminya dengan benar. Bynum juga bercerita dengan cukup runtut, dengan menggunakan pembahasan tokoh-tokoh penting sebagai acuan waktu dalam kisah-kisahnya.

Latar belakang Bynum sebagai ahli dalam sejarah obat-obatan juga terlihat dengan jelas dari bagaimana pembahasan mengenai topik-topik di bidang biologi (dari teori revolusi Darwin sampai perkembangan obat-obatan dengan memanfaatkan bakteri) terasa lebih mudah dicerna daripada cerita-ceritanya tentang topik-topik di bidang fisika. Fakta bahwa Bynum adalah seorang Inggris juga terlihat benar dengan pemilihan tokoh-tokohnya; dalam buku ini, terasa bahwa Bynum seolah hendak memperlihatkan bagaimana orang-orang Inggris begitu berjasa bagi dunia sains. Pembahasan Bynum juga sangat Eropa-sentris. Barangkali inilah hal yang paling mengganggu saya ketika membaca A Little History of Science – bahkan porsi pembahasan sains di Amerika Serikat, yang saya rasa berperan besar dalam perkembangan sains di era modern, cukup minim.

Tapi di luar masalah Eropa-sentris itu, saya rasa A Little History of Science tetaplah buku yang bagus dan, yang paling penting, mudah untuk dinikmati oleh kaum awam. Seperti saya.

Penilaian: Saya suka!

A Little History of ScienceA Little History of Science by William F. Bynum
My rating: 4 of 5 stars

View all my reviews

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *