Agar Tak Jadi Orang Jahat di Media Sosial

Agar Tak Jadi Orang Jahat di Media Sosial

Pagi ini Deony tiba-tiba bercerita. Tentang teman masa kecilnya, yang sekarang sudah mengalami perubahan kepribadian drastis. Dulu, katanya, temannya itu adalah anak baik yang bisa dikatakan sebagai ‘teladan’ untuk dirinya. Tipe anak baik yang bahkan menabung sendiri untuk membeli sesuatu yang ia mau, bukan merengek ke orang tua seperti kebanyakan anak lain.

Tapi sekarang dia berubah. Sejak berhenti bekerja untuk mengurus anaknya, temannya ini mulai aktif di media sosial. Bukan untuk menjadi buzzer atau influencer, tapi aktif menjadi komentator di akun-akun gosip yang bertebaran di Instagram. Ia menjadi tipikal netizen yang suka mengomentari sinis kelakuan artis, dan bahkan sampai pernah dengan bangga mengunggah screenshot ketika komentarnya di salah satu akun Instagram gosip diserbu netizen lain karena ia menyindir seorang selebritis yang mengambil langkah menggunakan hijab.

Deony tentu sedih. Kok bisa, temannya yang dulu begitu baik sekarang seperti ini. Ia lantas berteori, “Mungkin ini akibat banyaknya waktu luang yang dia punya setelah berhenti kerja,” katanya. “Aku jadi bersyukur aku masih bekerja, sibuk dari pagi sampai sore, dan nggak punya waktu untuk hal-hal kayak gitu.”

Teori yang diucapkan Deony memang tanpa bukti nyata untuk memperkuat argumennya, tapi kalau dipikir-pikir, ya masuk akal juga. Sekarang, begini: ketika kamu begitu sibuk dengan pekerjaan dan kehidupanmu di dunia nyata, apakah kamu punya waktu untuk membuka media sosial lewat ponsel cerdasmu?

Kalau saya sih tidak.

Tanpa ingin menggeneralisir, mungkin ada benarnya juga bahwa orang-orang yang sering aktif mengomentari sesuatu di media sosial secara negatif kebanyakan adalah orang-orang yang kurang kesibukan di dunia nyata. Dengan waktu luang yang berlimpah, godaan untuk membuka media sosial selama berjam-jam memang begitu besar, apalagi jika orang itu tidak memiliki kesibukan di luar pekerjaan seperti hobi yang bisa membuatnya melupakan sejenak kehidupan maya.

Sejak dulu, saya selalu meyakini bahwa memiliki hobi yang bisa ditekuni adalah salah satu hal yang sangat penting bagi seseorang. Hobi yang dimaksud tentu saja hobi yang positif, lebih bagus lagi jika membuat kita produktif. Dan mendengar ucapan Deony tadi, saya jadi semakin yakin bahwa hobi, meski terdengar remeh, memang sangat penting bagi manusia modern.

Semakin penting lagi jika seseorang ternyata punya waktu luang yang berlimpah. Entah apakah ia karena ibu/bapak rumah tangga atau sedang menganggur/libur. Entah itu merajut, membaca, menyusun Lego, atau apapun itu. Semua kegiatan hobi yang positif seperti itu akan menyita fokus kita dan menghabiskan waktu kita, mencegah kita melakukan sesuatu yang negatif, entah itu di dunia nyata atau dunia maya.

Lebih-lebih lagi jika kegiatan untuk mengisi waktu itu ternyata memberikan kita penghasilan. Seperti bekerja, misalnya, meskipun bekerja, tentu saja, tak melulu menyenangkan.

“Bukan berarti aku senang menjadi ‘budak korporat’,” kata Deony. “Tapi memang jauh lebih baik bekerja daripada punya banyak waktu luang sebagai ibu rumah tangga.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *