Jangan Marah Dong, Angkot!

Jangan Marah Dong, Angkot!

Untuk entah keberapa kalinya, keributan antara transportasi umum konvensional dan transportasi umum online terjadi lagi. Sementara taksi konvensional kini sudah ‘menyerah’ dan mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman, angkot kembali berjuang untuk melawan keberadaan transportasi online dengan melakukan mogok massal di beberapa kota (yang kemudian diikuti dengan aksi kekerasan dan bahkan kriminal, seperti insiden ditabraknya seorang supir ojek berbasis aplikasi di Tangerang oleh seorang supir angkot).

Satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana keributan yang tak kunjung reda ini diwarnai berbagai opini di media sosial. Kebanyakan pengguna Twitter, yang notabene adalah kelas menengah di perkotaan besar, jelas memberi dukungan bagi transportasi berbasis aplikasi. Salah satu yang paling menarik yang terjadi di Twitter pekan lalu adalah serial tweet @aMrazing tentang pengalaman buruknya menjadi pengguna angkot sejak kecil, sesuatu yang ternyata juga dialami oleh banyak orang.

Semua berawal dari screenshot sebuah tulisan yang diunggah @aMrazing aka Alexander Thian dengan tagar #IRememberHowItHurt. Isinya tentang sebuah sentilan pada supir-supir angkot yang seringkali ‘merendahkan’ penumpang dengan berbagai sikap mereka, yang membuat para penumpangnya kesal dan kini lebih memilih transportasi online. Intinya: wahai supir angkot, jangan marah jika kalian kini kalah bersaing karena ingat apa yang kalian lakukan pada kami (penumpang) dulu…

Serial tweet @aMrazing tersebut kemudian mengundang komentar dari banyak pengikutnya. Isinya pun kurang lebih serupa, yaitu curhat tentang apa yang mereka alami sebagai penumpang angkot dan metromini, umumnya di Jakarta. Mulai dari pengalaman dicopet sementara supir dan kernet pura-pura tak melihat dan tak mau membantu, sampai ‘pelecehan’ oleh supir angkot; dari yang dikerjain oleh supir angkot yang berhenti mendadak sehingga penumpang-penumpangnya kaget (sementara sang supir malah tertawa), hingga ada yang hampir diculik oleh supir angkot.

Jangan lupa juga kalau angkot sering sekali ngetem sembarangan dalam waktu lama atau bisa seenaknya menurunkan penumpang di tengah jalan dengan berbagai alasan. Semua keluhan dan curhatan ini kemudian dirangkum oleh @aMrazing dengan tagar #IRememberHowItHurt.

Karma itu ada, Ngkot!

Apa yang dikritik oleh @aMrazing dan para pengikutnya (juga oleh siapapun yang menulis status Facebook yang kemudian menjadi awal serial tweet @aMrazing tersebut) adalah sesuatu yang valid memang. Meski mungkin tidak semua supir angkot ‘sejahat’ apa yang dikatakan oleh @aMrazing dan para pengikutnya, fakta bahwa pengalaman yang mirip pernah dirasakan oleh banyak penumpang angkot menunjukkan bahwa ada banyak supir angkot yang ‘nakal’ di Indonesia.

Toh bukan kali ini isu mengenai pengalaman buruk di angkot menjadi sebuah pembicaraan hangat. Pendapat umum yang tercipta mengenai angkot (dan bus umum seperti metromini) memang sudah negatif sejak cukup lama.

Ketidaknyamanan yang dirasakan ketika menaiki angkot inilah yang menjadi alasan mengapa orang pelan-pelan mulai meninggalkan jenis transportasi umum ini. Tapi yang saya rasa menarik untuk diperhatikan dari isu ini adalah bagaimana komplain utama para penumpang angkot (dan pengalaman buruk mereka) sebetulnya bukan disebabkan oleh kualitas produk alias kendaraannya, tapi dari jasa yang diberikan oleh supir angkot.

Tentu saja, kasus kualitas angkot dan metromini yang buruk yang kadang mengakibatkan kecelakaan bukan sekali dua kali menjadi isu, tapi dari sisi penumpang, masalah utamanya bukan di sana. Pengalaman buruk yang mereka rasakan dari perlakuan supir dan kernet bagi para penumpangnya lah yang menjadi penyebab.

Masalah ini terutama dirasakan pada kasus umum yang dialami penumpang angkot: waktu yang terbuang percuma karena menunggu angkot ngetem di suatu tempat dan bagaimana mereka kadang bisa seenaknya diturunkan di tengah jalan dengan berbagai alasan. Apa yang supir angkot lakukan ini menunjukkan sikap tidak menghargai penumpang, yang seharusnya dilayani dengan baik karena itulah tugas mereka: melayani. Ingat, angkot, dan jasa transportasi umum lainnya, tidak berjualan produk, tetapi jasa. Dan kualitas utama yang bisa dinilai dari bisnis jasa adalah bagaimana penjual melayani pembeli, dan dalam kasus ini, bagaimana sikap supir angkot selaku penjual kepada penumpang-penumpangnya selaku pembeli. Dan sayangnya, angkot memiliki nilai yang buruk di mata penumpang.

Dulu, penumpang tidak punya pilihan lain yang lebih terjangkau selain angkot. Di beberapa area, mungkin ada pilihan lain dalam bentuk ojek, namun ojek konvensional cenderung mahal (dan bisa seenaknya menentukan harga) dan sering tidak bisa (atau tidak mau) mengantar penumpang untuk jarak yang jauh. Selain itu ada taksi, tapi tentu saja, tarifnya sangat tinggi. Pilihan terakhir adalah mempunyai kendaraan sendiri, dan bagi beberapa orang, ini bukan pilihan yang menarik karena alasan-alasan tertentu (macet membuat lelah, biaya pembelian dan servis yang tinggi, dll.).

Lalu datanglah transportasi berbasis aplikasi (online) yang relatif terjangkau, fleksibel, dan memberikan layanan yang jauh lebih baik ketimbang angkot. Belum lagi ada banyak diskon yang ditawarkan. Dengan alternatif yang jauh lebih baik seperti ini, ditambah dengan faktor semakin meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat, bagaimana angkot tidak ditinggalkan?

Karenanya, apa yang dituliskan oleh seseorang-entah-siapa di status Facebook yang kemudian di-screenshot dan dibagikan oleh @aMrazing itu (rumit ya…), bagi saya, sangat on point. Daripada marah-marah karena kalah bersaing, dan sampai-sampai menimbulkan korban segala, ini memang waktunya angkot untuk bercermin, melihat apa yang salah sehingga mereka kalah bersaing, dan mulai berbenah. Seperti taksi konvensional yang akhirnya mulai berbenah (Bluebird, misalnya, mulai meningkatkan kualitas aplikasi mereka sendiri dan bahkan mau bekerja sama dengan Go-Jek), pilihan terbaik untuk angkot, ya, berbenah. Apa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil dengan Angklung, yaitu angkot modern di Bandung yang punya berbagai fasilitas di dalamnya, bisa jadi contoh. Atau mungkin mengikuti cara bajaj yang juga membuat aplikasi online-nya sendiri.

Atau setidaknya, seminimalnya, memperbaiki sikap supir dan kernetnya. Karena, jangan lupa, itu kan permasalahan utamanya?

Regulasi untuk angkutan umum online memang perlu

Meski angkot memang tak layak marah-marah karena kalah bersaing dengan transportasi umum berbasis aplikasi, tapi tuntutan agar Go-Jek, Grab, dan Uber, untuk dipayungi oleh regulasi, memang masuk akal. Bagaimanapun, regulasi ini perlu untuk menjaga kompetisi bisnis transportasi agar tetap sehat dan agar keselamatan dan keamanan masyarakat Indonesia selaku konsumen tetap terjaga juga.

Tarik ulur tentang regulasi ini memang masih terjadi, di mana saat ini para penyedia jasa transportasi umum online ini masih tidak menyetujui beberapa butir aturan yang ditetapkan pemerintah dalam Permenhub 32/2016 (selengkapnya, lihat di sini). Dari aturan-aturan yang tercantum dalam Peraturan Menteri tersebut, memang masih terlihat bagaimana pemerintah belum sepenuhnya ‘memahami’ bagaimana mengatur transportasi umum online yang benar-benar berbeda dengan konvensional ini. Salah satunya yang paling menarik adalah aturan STNK kendaraan yang harus atas nama badan hukum. Ini seperti bertentangan dengan ide dasar transportasi umum berbasis aplikasi, bahwa perseorangan yang bukan karyawan sebuah badan usaha legal bisa mencari uang dengan mengandalkan kendaraan pribadinya (dan tanpa terikat dengan badan usaha tersebut).

Memang sangat disayangkan bagaimana pemerintah terlambat untuk bereaksi ketika transportasi umum berbasis aplikasi ini muncul dan mulai ramai sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, dan baru mulai mengatur ketika keributan muncul, dan itupun masih belum sepenuhnya bisa memayungi (dan memahami) bisnis kreatif yang benar-benar baru muncul di era smartphone ini. Tapi terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Harapannya kemudian adalah ada jalan keluar bagi kontroversi aturan ini sehingga semua pihak bisa berjalan bersama-sama, berkompetisi secara sehat, dan tak perlu ‘iri-irian’ lagi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *