Ayah

Ayah

Ibu memaksa diri untuk tidak tidur malam ini. Tapi sejatinya ia lelah. Ia telah menghabiskan segenap energinya untuk menangis begitu keras entah berapa kali dalam 10 jam terakhir, dan mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan ayah.

Sampai akhirnya ia sempat tertidur, sebentar. Di sisi tubuh ayah yang tergolek kaku, dengan bibir yang telah membiru.

Sebuah pemandangan yang sendu.

Ini hari yang panjang memang. Ayah meninggal hari ini. Dan akhirnya saya merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang ditinggal seseorang yang sangat dicintai: kekosongan, ketidakpercayaan, dan lalu akhirnya, kepasrahan.

Sejujurnya, saya tidak menyangka akan menangis sampai sebegitu kerasnya. Begitu lama. Dan berkali-kali. Saya memang lelaki yang cengeng, tipe lelaki yang bisa menangis begitu rupa ketika menonton Hello Ghost, tapi saya hampir tak pernah menangis sekeras ini. Saya pun tak pernah merasakan kesedihan yang sedahsyat ini.

Mungkin, jika saya berposisi sebagai orang lain yang melihat diri saya seperti ini, saya akan menganggap sikap seperti ini berlebihan. Dan bisa dengan mudahnya mengatakan, “Sudah, sudah. Ayah sudah pergi dengan tenang. Jangan menangis, istighfar. Doakan…” Tapi ketika merasakannya langsung sebagai pihak yang mengalaminya, ternyata benar-benar tak semudah itu untuk tidak emosional. Untuk tidak menangis.

Ada perasaan yang luar biasa mendesak, yang tak mungkin bisa ditahan, ketika melihat tubuh ayah terbujur kaku, dengan tangan bersedekap, di bawah beberapa lapisan kain putih dan kain batik yang menutupinya. Juga ketika penutup wajah ayah dibuka, dan melihat wajah itu di sana, tak lagi bernafas.

Sungguh sureal.

***

Kalau ada pertanyaan apa lagu U2 favorit saya, maka jawabannya sudah jelas adalah Sometimes You Can’t Make It On Your Own.

Selain memang bagus, lagu ini punya cerita yang dalam. Ini adalah lagu yang digubah Bono untuk ayahnya, Bob Hewson, dan dinyanyikan pertama kali olehnya di pemakaman sang ayah. Ini lagu yang sangat personal bagi Bono, dengan lirik yang memang bercerita tentang dirinya dan sang ayah.

Saya sangat menyukai lagu ini. Saya menyukai emosinya. Dan karena alasan itu pula, sepertinya saya akan menyanyikannya besok. Mungkin ketika mengangkat keranda, atau ketika ayah diturunkan ke tanah. Atau malah setelah liang kubur telah ditutup dan nisan sudah ditancapkan.

Tentu saja dalam hati. Saya tidak tahu reaksi seperti apa yang akan diperlihatkan orang-orang jika saya bernyanyi layaknya orang gila di pemakaman ayah saya sendiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *