Banana Pancake Trail: Menuju Phuket

Postingan sebelumnya:
Banana Pancake Trail: Perjalanan Pun Dimulai
Banana Pancake Trail: Kuala Lumpur
Banana Pancake Trail: Tersesat Di Kajang

Untuk menuju Phuket dari KL lewat jalan darat, ada dua cara yang bisa ditempuh: pertama, menggunakan kereta hingga Hat Yai, sebuah kota perbatasan di wilayah Thailand, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus atau minivan (yang biayanya jelas lebih mahal) menuju Phuket. Tidak ada kereta langsung dari Hat Yai menuju Phuket. Jika bersikeras ingin menggunakan kereta, pilihan lainnya adalah melanjutkan menggunakan kereta hingga Surat Thani lalu melanjutkan menggunakan bus.

Cara lainnya adalah menggunakan bus, namun lagi-lagi tetap harus mengganti kendaraan di Hat Yai. Bus dari KL biasanya berangkat dari terminal bus Pudu Raya (tak jauh dari Bukit Bintang dan Petaling), dan berhenti di terminal bus Hat Yai. Dari Hat Yai, ada beberapa pilihan bus menuju Phuket dan Krabi.

Kami tiba di KL dari Kajang sekitar pukul 7 pagi. Sempat menanyakan jadwal kereta menuju Hat Yai, kami lalu pergi ke Pudu Raya karena ternyata kereta menuju Hat Yai hanya ada malam hari. Sesampai di Pudu Raya, kami langsung dihampiri oleh seorang pria yang pada akhirnya kami ketahui ternyata seorang “calo”. Setelah sempat memutar-mutar sebentar di dalam terminal (yang jauh dari kesan terminal, wong ber-AC dan karpetnya bagus), kami memutuskan untuk membeli tiket dari Konsortium Bas Ekspress. Alasannya sederhana: saya paling banyak membaca review bagus mengenai bus tersebut di internet.

Bus berangkat sekitar pukul setengah 10 pagi, dan karena bus yang kami pilih double decker, kami harus berjalan sebentar keluar terminal karena bus tidak bisa masuk terminal. Bus-bus double decker lainnya juga berhenti di depan terminal, dan para penumpang harus naik dari sana. Sedangkan jika memilih bus yang biasa, penumpang bisa turun ke platform-platform yang berada di underground terminal.

Membeli tiket menuju Hat Yai memang tidak perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari. 15 menit sebelum berangkat pun bisa. Karena banyak jam keberangkatannya, bus menuju Hat Yai memang sepertinya tidak pernah penuh. Jadi, kita bisa membeli tiket kapanpun.

Bus biasanya akan berhenti satu kali di rest area jalan tol, sekedar untuk ke kamar mandi karena memang tidak ada wc di dalam bus. Hati-hati jangan terlalu lama keluar bus karena saya sendiri hampir ditinggal akibat terlalu asyik melihat makanan-makanan yang dijual di rest area. Setelah itu, bus akan berhenti kembali sebelum daerah perbatasan, kali ini di semacam rumah makan. Selanjutnya bus berhenti lagi ketika penumpang harus melakukan pengecekan paspor di imigrasi.

Imigrasi Malaysia-Thailand, tak disangka-sangka, ternyata cukup lengang. Hanya diperlukan beberapa menit saja untuk mengantri dan mendapatkan cap di imigrasi. Justru lebih padat perbatasan/imigrasi Thailand-Kamboja, di mana kami sempat harus mengantri selama beberapa jam di sana. Padahal tadinya kami mengira arus turis dari Malaysia menuju Thailand via jalan darat lebih padat daripada arus turis dari Thailand menuju Kamboja.

Setelah perbatasan, diperlukan waktu sekitar 30 menit – 1 jam lagi untuk mencapai Hat Yai. Satu hal yang unik dari perbatasan di daerah Thailand adalah begitu banyaknya 7-11 di sana. Layaknya Indomaret & Alfamart di Indonesia, setiap 50 meter kita bisa melihat 7-11, yang di sana memang merupakan minimarket dan bukannya tempat nongkrong seperti di Indonesia.

Terminal Hat Yai adalah terminal yang cukup sepi. Jarang kami melihat ada turis barat berkeliaran di sini, hanya segelintir saja. Kalau saya tidak salah ingat, beberapa loket penyedia tiket angkutan bus menuju Phuket dan Krabi terletak di dekat platform 10. Ada empat atau lima loket yang menyediakan tiket untuk lima bus berbeda. Jam-jam keberangkatan dan harganya juga bervariasi, tergantung jenis bus dan waktu keberangkatan. Kami mengambil tiket bus termurah, sekitar 500an baht (saya lupa tepatnya) dan berangkat pukul 8.30 malam.

Sayang memang tidak ada bus yang berangkat sekitar tengah malam. Padahal seandainya ada bus yang berangkat sekitar jam 10-12, kami mungkin akan memilih itu. Alasannya sederhana: agar kami bisa sampai di Phuket ketika matahari telah terbit dan tak perlu kebingungan di terminal sana subuh-subuh. Pasalnya, Hat Yai – Phuket memang “hanya” berjarak 6-7 jam, sehingga jika kami berangkat sekitar pukul 8.30, kami akan tiba sekitar pukul 3 atau pukul 4. Padahal, sepanjang pengetahuan kami, bus lokal atau yang dinamakan “songthaew” menuju pusat kota Phuket baru akan beroperasi mulai pukul 6 pagi. Anda bisa bayangkan bagaimana membosankannya menunggu dua-tiga jam di terminal yang sepi dan dingin dengan keadaan mengantuk.

Karena masih ada waktu sekitar dua jam sebelum bus berangkat, kami berkeliaran dulu di sekitar terminal Hat Yai. Yang pertama kami lakukan adalah mencari provider lokal yang bisa kami gunakan untuk tersambung dengan internet. Sempat bertanya-tanya dengan “agen pulsa” di dekat terminal, kami akhirnya membeli kartu perdana dari provider yang mereka sebut “Happy”. Bungkus kartu perdananya berwarna pink-ungu, dengan harga sekitar 50 baht. Membeli kartu perdana ini disarankan dilakukan di minimarket dekat terminal saja, karena harganya ternyata lebih murah daripada di “agen pulsa”. Namun untuk mengaktifkannya, kita tetap memerlukan bantuan dari sang “agen pulsa” yang ada beberapa di sekitar terminal, karena mereka bisa menjelaskan tahap-tahapnya kepada kita. Walhasil, ketika itu, kami memutuskan untuk membeli perdana di minimarket, tetapi membeli pulsanya di “agen pulsa” sekalian meminta tolong untuk diaktifkan paket internetnya.

Setelah selesai mengurus masalah provider, kami lalu mencari makan. Terdapat beberapa warung kecil di pinggir jalan yang menyediakan makan malam, dan beberapa terjamin kehalalannya karena yang menjual adalah orang Melayu Islam yang tinggal di sana. Di wilayah Thailand Selatan memang jamak kita temukan orang-orang Melayu dan beragama Islam, termasuk di Phuket.

Bus berangkat tepat pukul 8.30 malam. Memang bukan bus bagus yang mewah atau baru, namun setidaknya cukup nyaman dan ruang untuk kaki tidak terlalu sempit. Paling tidak, kita masih bisa tidur dengan nyaman di sepanjang perjalanan. Bus akan berhenti satu kali di pertengahan jalan, di sebuah rumah makan yang juga menyediakan oleh-oleh khas daerah setempat.

Kami tiba di Phuket pukul setengah empat pagi. Terminal masih begitu sepi, hanya beberapa penjaga terminal dan supir-supir taksi yang mencari penumpang yang masih bertahan di sana. Ada juga beberapa tukang ojek yang berkumpul sambil beristirahat di pangkalannya di bagian depan terminal. Terminal ini sendiri berada agak di luar kota Phuket, jadi kita tidak mungkin berjalan untuk menuju hostel yang berada di pusat kota. Jika Anda tidak sabar untuk meninggalkan terminal yang sepi dan agak bau tubuh anjing (karena memang banyak anjing berkeliaran di dalam terminal) itu, taksi atau ojek memang bisa digunakan. Namun jika ingin berhemat menggunakan songthaew (karena biaya songthaew hanya 10 baht sampai terminal di pusat kota), Anda harus menunggu hingga pukul 6 pagi.

Karena kami sudah sejak awal mencoret kata “taksi” dari daftar alat transportasi selama di perjalanan, kami pun memutuskan menunggu sambil tidur-tidur ayam di bangku terminal yang keras dan dingin…

(Bersambung ke postingan berikutnya……. kalau masih mood untuk menuliskannya. :P)

Credit: Foto-foto di atas adalah karya Aulia Dwi Nastiti. You can visit her blog here.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail