Bapak Penjual Madu

Bapak Penjual Madu

Beberapa hari yang lalu, saya kehabisan madu di rumah.

Jika hal ini terjadi enam bulan yang lalu, saya tidak akan peduli sama sekali. Tapi berhubung sejak tiga bulan terakhir saya mengonsumsi oatmeal hampir setiap pagi dan hampir selalu menggunakan madu sebagai pemanisnya, madu jadi bahan yang cukup penting bagi saya sekarang.

Lucunya, sebelum mengonsumsi oatmeal, saya hampir tak pernah mengonsumsi (bahkan bisa dibilang tidak suka) madu. Rasanya memang manis, tapi manis yang aneh – barangkali kalau sekarang saya disuruh minum madu secara langsung (seperti yang disarankan ibu-ibu kita kalau kita sakit), saya masih tetap tak suka.

Kemarin, karena saya terlalu malas keluar rumah, saya akhirnya ‘mengais-ngais’ sisa madu di dalam botol dengan memasukkan sedikit air panas ke dalam botol. Hanya karena saya malas keluar rumah. (Kalau Deony membaca ini, sepertinya ia akan memarahi saya karena kemalasan saya…)

Tapi berkat kehabisan madu, saya jadi teringat satu momen yang sepertinya tak pernah saya lupa dari masa kuliah saya di FISIP UI.

Dulu, ketika di FISIP, adalah hal biasa kalau beberapa mahasiswa mengemper di teras perpustakan FISIP yang bernama MBRC untuk membuat tugas, mengunduh film, bermain game, atau sekadar berkumpul dengan teman-teman. Saya salah satu yang sering duduk di sana di dua tahun pertama saya (dua tahun berikutnya, biasa saya habiskan di Gedung Komunikasi yang saat itu baru dibuka).

Momen yang tak juga saya lupakan itu adalah bagaimana, dalam beberapa kesempatan, ketika saya sedang berinternet-ria, seorang bapak-bapak dengan baju tradisional gelap seperti orang baduy datang menghampiri. Ia menawarkan sebotol besar madu, dengan harga hanya Rp 70.000. Buat saya yang saat itu tidak suka madu dan tidak punya uang, saya jelas tidak tertarik. Tetapi melihat bagaimana bapak itu berjalan tanpa alas kaki dan terlihat lelah menjajakan madunya, tentu saja sempat muncul rasa iba dan keinginan untuk membeli madunya. Sayangnya, saya tak punya uang.

Tetapi, tahun lalu, saya sempat membaca sebuah berita yang membuat saya patah hati: sekelompok orang ditangkap polisi karena menjual madu palsu (yang entah dibuat dari bahan apa) dan menjajakannya sambil berpura-pura menjadi orang baduy. Suku baduy memang terkenal dengan madu aslinya, dan mereka memanfaatkan reputasi itu untuk menjual madu palsu.

Itu adalah berita yang mengerikan. Dan membuat saya bertanya-tanya: apakah bapak penjual madu yang menawarkannya pada saya bertahun-tahun yang lalu itu juga penipu? Apakah ia bukan benar-benar orang baduy? Hati saya seolah terbelah dua (halah): di satu sisi, saya berharap bapak itu memang orang baduy asli dan madu yang ia jual adalah madu asli, tapi di sisi lain, saya sakit hati karena merasa rasa iba saya dikhianati, ketika memikirkan kemungkinan ia benar-benar penipu.

Rasanya seperti ditipu oleh pengemis yang kita kasihani, tapi dalam suatu kesempatan, tak sengaja kita melihat pengemis itu mengenakan baju bagus dan makan enak di sebuah mall. Mengesalkan, sekaligus menyakitkan.

Karenanya, sampai sekarang saya berharap bapak penjual madu yang datang pada saya di FISIP UI itu benar-benar orang baduy yang menjual madu asli.

Sebab, jika memang ia bukan penipu, ingin sekali saya, kali ini, menghampirinya dan berkata, “Pak, saya mau beli madunya.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *