Barcelona Tidak Maksimal, Tapi Juve Tetap Kalah

Barcelona Tidak Maksimal, Tapi Juve Tetap Kalah

Juventus+v+FC+Barcelona+UEFA+Champions+League+bRKt7jT5c9FxJika ada satu sosok yang sungguh populer di dunia maya pasca final Liga Champions 2015 dini hari tadi (7/6/2015), maka sosok itu adalah Andrea Pirlo.

Fotonya yang menangis setelah Neymar mencetak gol ketiga Barcelona lewat sepakan terakhir di pertandingan tersebut menjadi viral – banyak orang memposting ulang foto tersebut untuk menunjukkan betapa menyakitkannya kekalahan Bianconeri di pertandingan terpenting mereka dalam satu dekade terakhir. Laga tersebut mungkin akan menjadi laga terakhir sang maestro bersama Juventus, dengan rumor menyebutkan ia akan melanjutkan karier di Amerika Utara, dan kekalahan di final Liga Champions bukanlah akhir yang ideal untuk siapapun. Apalagi untuk Pirlo, gelandang pengumpan yang sungguh ikonik di generasinya – satu dari dua gelandang pengumpan terbaik pada dekade 2000an bersama Xavi Hernandez, yang telah memastikan diri akan bermain di Qatar musim depan. Tapi, sebelum laga final ini berlangsung pun Pirlo semestinya sudah tahu, bahwa peluang juara timnya memang jauh lebih kecil ketimbang lawannya. Rasanya semua orang juga tahu.

Lawan mereka adalah Barcelona, tim terbaik Eropa dalam satu dekade terakhir. Senjata mereka adalah trio tersubur dalam sejarah sepakbola Spanyol, mungkin bisa juga disebut sebagai salah satu trio terbaik dalam sejarah sepakbola. Para pemain Juventus pun tahu: Leonardo Bonucci mengatakan Juventus satu langkah di bawah Barcelona, dan Gianluigi Buffon mengaku peluang Juve untuk juara hanya 35 persen. Tapi toh mereka, termasuk Pirlo, tetap percaya bahwa mereka mungkin saja bisa menang. Buffon pun, pasca pertandingan, mengakui, “Pada satu titik, saya benar-benar percaya kami bisa menang.”

Titik yang dimaksud itu mungkin adalah ketika Alvaro Morata menyamakan kedudukan bagi La Vecchia Signora di awal babak kedua, yang diwarnai dengan membaiknya permainan Juventus setelah Paul Pogba dan Pirlo mulai mengambil alih kontrol di lini tengah setelah 45 menit pertama yang kacau. Mereka yang mendukung atau sekadar bersimpati pada Juventus pun pasti memiliki sedikit keyakinan tersebut ketika gol itu tercipta. “Mungkin saja Juve bisa menang, mungkin saja setelah ini mereka bisa mencetak satu gol lagi, lalu bertahan habis-habisan agar tim dari Catalan itu tidak mencetak gol lagi.”

Tapi, sebagaimana yang kita tahu, manusia boleh berencana, tapi pada akhirnya Lionel Messi yang menentukan.

Bahkan ketika ia tidak dalam performa terbaiknya pun, Messi tetap menjadi kreator dan momok paling menakutkan dari skuat Barça. Dribble yang berujung pada gol Luis Suarez menjadi bukti, meski di sisi lain, lemahnya upaya para pemain bertahan Juventus untuk menghentikannya patut dipertanyakan. Tak hanya Messi. Secara keseluruhan, permainan Barcelona dini hari tadi di Berlin bukanlah permainan terbaik mereka. Mereka bahkan sempat menurunkan tempo dan terlihat agak santai. Tapi dengan performa yang hanya, mungkin, 70-80 persen dari kemampuan terbaik mereka pun, Juve terlihat bukan tandingan yang pas bagi Blaugrana. Seperti diucapkan Bonucci: mereka masih satu langkah di belakang Barcelona.

Juventus+v+FC+Barcelona+UEFA+Champions+League+q0egiwQ0Vrnx

Meski bukan tandingan Barcelona, bukan berarti Juve tak pantas berada di final. Sebaliknya malah, mereka sangat pantas berada di sana. Mereka berhasil membalikkan prediksi dan mengalahkan Real Madrid di semifinal dengan meyakinkan, dan di laga puncak pun mereka tak mau mengikuti prediksi orang dengan bertarung habis-habisan. “Hanya” tertinggal satu gol di kala jeda, dan sempat memberikan secercah harapan lewat gol lelaki muda dari Madrid yang mereka boyong dengan harga 20 juta euro, bukankah itu sudah cukup bagus? Setidaknya Juve membuktikan bahwa mereka bukan sekadar turis di Berlin. Mereka sudah berjuang dan inilah hasilnya. Meski sekali lagi mereka gagal, dan menjadi tim di Eropa dengan kegagalan terbanyak di final piala Eropa, Juve setidaknya bisa menyambut musim baru nanti dengan optimisme tinggi. Bahwa mereka bisa saja kembali ke puncak pada musim depan, dan merebut gelar yang terakhir mereka rengkuh pada 1996, hampir dua dekade yang lalu. Atau, mengutip kata Buffon, “setidaknya berada di semifinal kompetisi ini setiap musimnya“.

Mereka pasti mampu. Apalagi dengan 100 juta euro yang mereka bawa pulang dari Liga Champions musim ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *