Beberapa Buku Yang Mengubah Hidup Saya

Saya sebenarnya bukan pecandu buku kelas berat. Bahkan sempat ada beberapa tahun di mana saya tidak membaca buku sama sekali kecuali buku pelajaran sekolah, sebelum akhirnya minat membaca buku saya muncul lagi ketika kuliah. Buku-buku yang saya baca pun cukup mainstream, tak ada yang menonjol atau berbeda dari bacaan orang-orang kebanyakan.

Mumpung hari ini adalah World Book Day alias Hari Buku Sedunia, saya ingin menuliskan beberapa buku yang, barangkali bisa dikatakan, mengubah hidup saya. Postingan ini terinspirasi oleh postingan blog Mahir Pradana yang sempat saya baca tadi pagi.

Mari kita mulai daftarnya (yang ternyata amat pendek ini):

1. Serial Lima Sekawan – Enid Blyton

lima-sekawan-03-minggatLima Sekawan adalah novel pertama yang saya baca sepanjang ingatan saya. Saya dikenalkan pada serial yang menceritakan petualangan Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy ini oleh ibu saya, sebagai kado ulang tahun saya belasan tahun yang lalu. Mulai saat itu, saya mulai senang membaca novel, bahkan sempat berusaha mengoleksi serialnya. Pada akhirnya, niatan untuk mengoleksi itu gagal karena koleksi saya tercerai berai: dipinjam sana-sini dan seringkali tidak dikembalikan padahal saya adalah orang yang pelupa.

Kalau saya dulu tidak mendapatkan kado buku Lima Sekawan dari ibu saya, barangkali saya tidak akan pernah menuliskan postingan semacam ini. 🙂

2. Norwegian Wood – Haruki Murakami

Sejujurnya, 1Q84 adalah buku Murakami yang paling berkesan buat saya, dan yang membuat saya terobsesi untuk membaca karya-karya lain dari penulis populer dari Jepang itu. Tetapi setiap cerita selalu memiliki garis start, dan dalam hal ini, Norwegian Wood adalah garis startnya.

Buku inilah yang membuat saya terkesan dengan gaya penceritaan Murakami, karena inilah pertama kalinya saya menemukan gaya penceritaan yang menurut saya pribadi sangat unik: terasa datar, dengan alur yang pelan, namun di saat yang sama juga begitu dalam dan membuat pembacanya terperosok lebih jauh ke dalam ceritanya. Buku inilah yang membuat saya menjadi fan Murakami – sebelum kemudian naik jabatan menjadi fan berat setelah membaca 1Q84.

Dan karena Murakami pula, saya kini mencoba menulis karya fiksi lagi.

3. Pemikiran Karl Marx – Franz Magnis-Suseno

Semasa saya kuliah, mata kuliah yang paling berkesan bagi saya adalah Pengantar Teori Kritis, dan karena mata kuliah itulah saya akhirnya membaca buku ini dan berkenalan dengan Karl Marx. Buku yang berjudul lengkap “Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Ke Perselisihan Revisionisme” ini menceritakan perjalanan pemikiran Marx dari Marx muda ke Marx tua, dan bagaimana pemikiran tokoh yang mengubah dunia di abad 20 ini bisa mengalami perubahan dalam perjalanannya. Diceritakan juga siapa saja yang mempengaruhi pemikiran Marx, serta apa yang terjadi setelah Marx tiada.

Meskipun pembahasan Teori Kritis selalu membuat otak berputar-putar tak jelas, Franz Magnis-Suseno membuatnya menjadi cukup sederhana sehingga pembaca bisa memahami inti-inti pemikiran Marx. Itulah yang saya suka. Dan itulah yang membuat saya bisa memahami bab Keterasingan Manusia Dalam Pekerjaannya, salah satu inti pemikiran Marx di saat muda yang menjadi pokok pikiran Marx yang sangat saya sukai.

Buku ini adalah salah satu yang sangat mengubah pandangan dan pemikiran saya, walau tak serta merta membuat saya menggemari teori-teori kiri atau menjadi Marxis.

4. Hamba Sebut Paduka Ramadewa – Herman Pratikto

Kalau tidak salah, saya membeli buku ini saat saya semester 1 (atau 2 ya?) perkuliahan. Kala itu, saya sedang mengambil mata kuliah seni wajib wayang di Fakultas Ilmu Budaya UI, dan suatu hari sebelum masuk ke kelas, saya melihat ada yang menjual buku ini di deretan penjual buku bekas yang saat itu berjualan di FIB karena ada sebuah acara di sana. Saya tertarik, lalu membeli buku bekas yang sudah dihiasi dengan lakban itu, dan belakangan saya ketahui buku tersebut produksi tahun 1983.

Berkat buku ini saya mengenal cerita Ramayana dan membuat saya tertarik juga membaca Mahabarata. Saya jadi cukup mengenal beberapa tokoh wayang yang selama ini hanya saya dengar namanya saja.

5. Supernova: Ksatria, Pteri, dan Bintang Jatuh – Dee

Saya membeli buku ini semata karena penasaran. Amat terlambat juga: ketika buku Partikel keluar dan membuat heboh, saya baru mulai membaca buku pertama dari serial Supernova ini. Awalnya membaca buku ini membuat kening saya berkerut tajam. Baru dua halaman, kepala saya sudah pusing. “Kok ada pelajaran fisika di dalam novel?” pikir saya ketika itu.

Pelajaran fisika di bagian awal buku memang membuat otak berputar tak karuan, tetapi lama kelamaan justru menyenangkan, apalagi hukum fisika pula yang menjadi ending dari buku tersebut. Saya akhirnya malah merindukan gaya penceritaan yang agak absurd di buku pertama ini ketika membaca Akar, Petir, dan Partikel. Karena di buku-buku berikutnya, gaya penceritaan Dee menjadi semakin ringan, semakin pop. Walau di satu sisi membaca ketiga buku itu menjadi lebih ringan, tetapi bagi saya, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh tetap juaranya dengan segala keunikannya.

 

Itulah beberapa buku yang, saya anggap, mengubah perjalanan hidup saya, terutama dalam hal pandangan dan pemikiran. Bisa juga dianggap sebagai buku-buku yang paling berkesan yang pernah saya baca. Apapunlah sebutannya.

Hanya lima? Sampai saat ini. Hidup masih panjang (amin!), daftar buku yang harus dibaca pun masih panjang. Mari baca buku!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There is 1 comment for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *