Jangan Menutup Diri dari Perbedaan Pendapat

Jangan Menutup Diri dari Perbedaan Pendapat

Saya muslim, dan mempraktekkan agama saya sehari-hari.

Meski begitu, saya tidak setuju ketika seorang non-muslim yang terpeleset lidah membicarakan ayat Al-Quran harus dimusuhi dan dipenjara. Tentu saja, jika kita melihat satu sisi saja, apa yang dilakukan Ahok salah. Saya memahami kegusarannya karena ada banyak kampanye negatif yang diarahkan kepadanya dengan menggunakan ayat dalam kitab suci, dan dilakukan secara terbuka dalam khotbah dan ceramah di berbagai tempat. Tapi ia memang tidak semestinya membicarakannya karena itu adalah ranah yang sensitif, terutama karena ia memang bukan seorang muslim.

Tapi toh ia sudah meminta maaf, dan kalau kita memang cukup cerdas dan mau membuka pikiran, kita tahu, ia memang tidak berniat ‘menista Al-Quran’, sebagaimana yang dituduhkan. Ia hanya gusar, karena agama dibawa-bawa untuk menjatuhkannya. Wajar.

Ia tentu saja tidak perlu dipenjara. Ia sudah meminta maaf di hadapan publik, lebih dari sekali bahkan, dan sebagai muslim yang baik, tentu saja kita harus memaafkannya. Tapi, apa daya, ada banyak orang yang tidak menyukainya (dan tidak menyukai ada orang non-muslim menjabat posisi tinggi di pemerintahan), juga ada lawan politik yang jelas-jelas menunggangi isu ini, dan akibatnya, cerita ini pun berlanjut ke bagian yang sangat tidak menyenangkan.

Saya menyadari, tidak semua orang sependapat dengan saya, termasuk dengan teman-teman saya sendiri. Beberapa teman jelas-jelas menyuarakan ketidaksukaannya pada Ahok, atau menunjukkan di sisi mana mereka berdiri. Seperti juga saya, dan mereka yang mendukung Ahok, yang bisa bebas mengemukakan pendapat saya di media sosial, mereka yang kontra pun juga bebas melakukannya. Menyuarakan pendapat bukan hanya hak pendukung Ahok saja, dan saya, sebagai pihak yang berseberangan, harus menerima itu.

Toh perbedaan pendapat adalah hal biasa. Kita hidup di dunia yang majemuk, di negara yang memiliki keragaman (walau sekarang keragaman itu sedang diinjak-injak), dan tentu saja, isi otak manusia yang satu dengan manusia yang lain berbeda. Yang mendukung Ahok memiliki pendapatnya sendiri, dan yang mencerca Ahok pun punya alasannya sendiri. Itu wajar.

Masalahnya, salah satu problem utama di era yang semakin terpolarisasi ini adalah kecenderungan kita untuk hanya melihat pendapat yang sejalan dengan yang kita yakini. Konsumsi media pun (ini terutama terjadi di negara-negara maju) dipengaruhi aspek ini. Di Amerika Serikat, misalnya, mereka yang konservatif akan menonton Fox News, sementara kaum liberal akan membaca The New York Times atau menonton Stephen Colbert.

Hal yang sama pun saya kira terjadi di Indonesia (walau di Indonesia, medianya belum terlalu terpolarisasi, kecuali media abal-abal), terutama di ranah media sosial. Kita hanya mengikuti mereka yang sependapat dengan kita, dan meng-unfollow dan meng-unfriend mereka yang tak sejalan. Tak peduli jika mereka sebenarnya berkawan dan bertukar sapa di dunia nyata.

Ini terjadi pada dua teman saya hari ini di Facebook. Yang satu seorang pendukung Ahok, yang satu tidak. Yang kontra Ahok menulis sebuah status yang bernada menyindir Ahok (dan pemerintahan Jokowi). Teman saya yang mendukung Ahok tidak terima, lalu mengatakan, “Gue unfriend ya, soalnya di timeline gue lo memperkeruh suasana.”

Demokrasi memang keruh. Ada pendapat A, ada pendapat B, ada juga pendapat C – semua orang bebas berpendapat, apalagi di dunia maya. Tapi itulah pilihan kita, yang hidup di Indonesia. Bukan sistem totalitarian, di mana semua harus sependapat dengan negara dan tidak bisa mengungkapkan isi pemikirannya masing-masing. Mengagung-agungkan pendapat A dan dengan tegas menolak pendapat yang berbeda tak ubahnya menjadi bigot – status yang selama ini banyak dilemparkan oleh pendukung Ahok kepada mereka yang berdemo menentang Ahok dan meminta Ahok dihukum. Singkatnya: lantas apa bedanya?

Menyikapi pendapat yang berbeda memang tidak mudah, saya akui itu. Selalu ada rasa kesal dan sedih ketika melihat teman baik kita tidak sependapat dengan kita (pendapat yang, menurut kita pribadi, adalah benar dan masuk akal). Tapi penting untuk mencoba melihat berbagai masalah dari sisi-sisi yang berbeda, membuka pikiran kita terhadap pendapat yang berbeda. Pada akhirnya, pendapat kita mungkin tidak akan berubah – kita akan tetap berpikir bahwa pendapat yang kita yakini adalah benar – tapi setidaknya kita bisa memahami pendapat yang berbeda, sudut pandang mereka, dan menghargainya.

Setidaknya, menghargainya.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *