Ketika Saya Bertemu dengan Chelsea

Ketika Saya Bertemu dengan Chelsea

“Hey, kamu mau foto dengan Jose?” tanya Matt, saat kami duduk-duduk di bangku pemain cadangan di Gelora Bung Karno, menunggu sesi latihan Chelsea sore itu dimulai.

“Ah, jangan. Saya nggak enak,” jawab saya. Saat itu, keinginan untuk berfoto bersama memang sangat besar. Jose Mourinho, manajer terbaik dunia, sedang duduk di bangku yang sama, hanya di pojok yang berlawanan. Sendirian, tanpa berbicara apapun, dan hanya melihat ke arah lapangan. Seandainya saya berada di sana sebagai seorang fans, saya pasti tanpa malu akan langsung meminta foto. Tapi saya di sana sebagai seorang profesional, pekerja, dan rasanya segan ‘memanfaatkan’ pekerjaan saya untuk mendapatkan foto bersama dengan manajer favorit saya.

Tapi Matt seperti tahu isi hati saya dan langsung menarik saya untuk mendekati Jose. “Ah, tak apa. Mumpung bisa.”

Lalu pria Inggris yang tingginya tak jauh berbeda dengan saya itu memperkenalkan saya dengan lelaki Portugal yang terlihat penuh wibawa itu.

“Hey Jose, ini Rezky. Dia bekerja untuk situs Chelsea dalam Bahasa Indonesia.”

“Halo Jose,” sapa saya. Ia hanya tersenyum sambil bersalaman dengan saya.

“Boleh berfoto?” tanya saya. “Tentu, tentu,” jawabnya.

Lalu tablet saya diambil oleh Matt, yang langsung mengambil foto saya. Foto yang belakangan saya sadari adalah foto terbaik yang saya dapatkan dalam pekerjaan yang mengasyikkan selama tiga hari kunjungan Chelsea di Indonesia.

Bukan hanya karena foto ini diambil dengan sempurna – tanpa blur dan cahaya sore Jakarta membuat foto ini terang tanpa harus diedit sedikitpun. Tapi juga melihat bagaimana pose kami berdua seperti dua orang yang saling kenal bertahun-tahun yang sedang duduk mengobrol bersama di bench pemain, lalu berfoto bersama.

Saya akan terus mengenang momen itu selama bertahun-tahun lamanya.

Pekerjaan impian

Sekitar empat tahun yang lalu, untuk pertama kalinya, saya bertemu langsung orang-orang di klub favorit saya, Chelsea FC. Tidak, saya tidak pergi ke London, ke Stamford Bridge, atau ke Cobham, markas latihan mereka. Saya hanya pergi ke Jakarta menggunakan sepeda motor dari Depok, dan bertemu dengan mereka.

Semuanya berkat pekerjaan saya sebagai penerjemah untuk situs resmi Chelsea dalam bahasa Indonesia. Saya bekerja untuk Chelsea (lebih tepatnya, untuk pihak ketiga yang menjadi partner Chelsea untuk memproduksi situs resmi mereka dalam beberapa bahasa di Asia, yaitu Bahasa Jepang, Korea, Tiongkok, Thailand, dan Indonesia) selama hampir tiga tahun, tepatnya sejak April 2012 hingga November 2014, dan untungnya, di tengah-tengah masa bekerja saya itu, Chelsea untuk pertama kalinya datang ke Jakarta, Indonesia.

Saya sudah mengetahui tur itu sejak 8 bulan sebelumnya, dan selama delapan bulan itu, saya seperti tidak bisa menahan rasa girang saya. Bos saya di Hong Kong sudah mengatakan bahwa saya akan berkesempatan untuk mengikuti Chelsea terus selama di Jakarta, untuk memberikan update di Twitter resmi Chelsea dalam bahasa Indonesia, @chelseafc_indo.

Chelsea datang pada Selasa, 23 Juli 2013, dan langsung mengadakan konferensi pers di Hotel Grand Hyatt, Jakarta. Oleh atasan saya di HK, saya diminta datang ke Grand Hyatt untuk bertemu dengan Jessica Loh, marketing Chelsea Asia Pasifik yang berkantor di Singapura.

Sialnya, saya tak bisa masuk ke ruangan konferensi pers karena tidak memiliki bukti apapun kalau saya seorang ‘pegawai’ Chelsea, baik ID card maupun kartu nama. Resepsionis yang berjaga di depan ruang konferensi pers pun tak mengenal nama Jess, karena saya rasa mereka dipekerjakan oleh pihak promotor dan bukan pihak Chelsea. Gugup, saya mulai merasa takut. Jangan-jangan, saya “tidak diakui” oleh pihak Chelsea dan impian untuk bertemu dengan pemain-pemain favorit saya dari dekat itu akan sirna?

Untungnya, tak lama kemudian, di antara staf-staf Chelsea yang datang dan berjalan menuju ruangan konferensi pers, seorang perempuan mungil menghampiri saya. “Rezky? Saya Jess. Ayo kita masuk,” katanya. Ia lalu berkata kepada resepsionis yang berjaga bahwa saya bersama rombongan Chelsea.

Kami masuk tepat sebelum konferensi pers dimulai – di dalam ruangan konferensi pers, puluhan wartawan sudah duduk di area belakang sementara beberapa tamu undangan duduk di kursi-kursi depan. Saya lalu berjalan bersama Jess hingga kursi nomor dua dari depan, membuat sebagian wartawan melihat ke arah saya dan mungkin bertanya-tanya dalam hati, “Dia pemenang kuis kali ya?”

Saat itu saya memang menggunakan kaus biasa berwarna hitam dan celana jeans, lebih mirip wartawan biasa atau malah mahasiswa ketimbang seorang staf tur Chelsea. Kami lalu mengikuti konferensi pers dan saya pun melakukan pekerjaan saya: memberikan update melalui Twitter dan Facebook.

Setelah konferensi pers, Jess mengajak saya duduk di restoran hotel dan memberikan saya satu paket lengkap merchandise, jersey tandang, kaus polo, tour programme, dan, yang paling penting, ID card bertuliskan: Chelsea FC All Access.

Chelsea FC. All Access.

Wow.

ID Card inilah yang membuat saya bisa masuk ke Keraton Hotel keesokan harinya, yang eksklusif disewa oleh Chelsea selama tiga hari dua malam. Orang-orang yang tak memiliki izin tidak akan bisa masuk ke area hotel, bahkan wartawan dari Inggris sekalipun. Ini adalah sesuatu yang berbeda dengan kunjungan Chelsea ke negara-negara Asia Tenggara lainnya – saya pernah menonton Chelsea di Malaysia, dan biasanya hotel tempat Chelsea menginap, orang-orang tetap boleh datang dan menunggu para pemain pujaannya lewat untuk bisa meminta tanda tangan.

Saya ingat, ketika saya berjalan masuk ke dalam hotel keesokan harinya untuk bertemu dengan Matt dan pergi ke Gelora Bung Karno dan melaporkan acara coaching clinic, beberapa wartawan dari Inggris (saya ingat ada wartawan dari Daily Mail saat itu) sedang berdebat dengan satpam hotel yang tidak mengizinkan mereka masuk. Mereka lalu kaget melihat seorang anak muda dengan kaus polo Chelsea menunjukkan kartu All Access dan diperbolehkan masuk ke dalam hotel.

John Terry setengah telanjang

Hari kedua adalah tur Chelsea FC di Jakarta adalah hari yang paling penting dan paling tak terlupakan. Pada hari itulah saya bertemu dengan Jose Mourinho dan banyak pemain Chelsea lainnya. Dan pada hari itu juga saya melihat John Terry setengah telanjang.

Oke.

Kembali ke adegan di Keraton Hotel, saya akhirnya bertemu dengan Matt setelah menunggu sekitar satu jam di lobi hotel, di mana orang-orang hotel pun tidak mengetahui seorang staf Chelsea bernama Matt. Namanya tak tercantum di daftar penyewa ruang, dan bisa dikatakan itu memang wajar karena hotel itu disewa atas nama Chelsea atau promotor, bukan perorangan.

Tapi Matt akhirnya menemui saya ketika ia dan timnya turun ke lobi, dan ia pun menjelaskan kepada saya apa-apa yang harus saya lakukan hari itu.

Chelsea mengadakan coaching clinic di Lapangan ABC Senayan hari itu, sekaligus juga peluncuran Chelsea FC Soccer School di Indonesia. Ada beberapa pemain yang akan menjadi tamu dalam acara tersebut, termasuk Ramires, Lucas Piazon, Branislav Ivanovic, dan Nathaniel Chalobah. Saya pun ikut dalam bus mereka.

Matt juga yang berinisiatif untuk mengajak saya berfoto dengan para pemain Chelsea di bus. Ia memperkenalkan saya, lalu mengambil foto saya bersama mereka.

Matt adalah pahlawan saya hari itu.

Dia tidak hanya bersikap ramah dengan saya ketika bekerja bersama-sama selama tur, tapi ia berusaha untuk membuat saya merasa sebagai satu tim dengannya, dan bukan anak-kemarin-sore-yang-tak-tahu-apa-apa-dan-ingin-foto-bareng-idola. Ia tidak mengatakan pada para pemain atau Jose Mourinho bahwa saya ingin berfoto bersama mereka, tapi ia memperkenalkan saya sebagai orang yang bekerja untuk Chelsea sebagai penerjemah situs resmi Chelsea dalam Bahasa Indonesia.

Itu adalah gestur sederhana yang sangat saya hargai dan benar-benar membuat saya merasa dihargai.

Di akhir hari itu, setelah acara coaching clinic dan latihan tim Chelsea di Senayan selesai, ia bahkan menarik saya untuk ikut dengannya berdiri di dekat ruang ganti Chelsea. Kami berdiri di sana, menunggu para pemain The Blues selesai mandi dan berganti baju (di mana saya sempat melihat John Terry berjalan dari kamar ganti satu ke kamar ganti lain hanya dengan kolor saja!). Ketika satu per satu pemain Chelsea keluar dan berjalan ke bus, Matt mencegat satu per satu pemain dan lagi-lagi memperkenalkan saya lalu membuat saya berfoto bersama dengan mereka.

Saya benar-benar ‘butek’ di foto-foto ini. Maklum, setelah kerja keras seharian.

Saya benar-benar beruntung bisa bekerja bersamanya selama Chelsea di Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan jika bukan Matt orang yang bekerja bersama saya hari itu dan tidak ‘tanggap’ seperti Matt, saya mungkin akan kehilangan kesempatan sekali seumur hidup itu. Karena jujur saja, saya tidak akan berani meminta foto bersama mereka karena saya merasa sebagai seorang profesional, saya harus bersikap layaknya seorang profesional. Pikiran naif yang bisa membuat saya tidak mendapatkan kenangan sehebat ini jika hal itu terjadi.

Sayangnya, pada hari ketiga saya ternyata tak mendapatkan akses seluas dua hari sebelumnya karena pada hari pertandingan ID card yang digunakan berbeda dengan ID card yang saya dapatkan dan kabarnya, jatah ID card untuk pihak Chelsea sudah habis (saya bahkan tidak bisa duduk di tribun pers sekalipun). Akhirnya saya harus puas hanya mendapatkan tiket menonton saja dan menonton tim asuhan Jose Mourinho itu berdesak-desakkan dengan para pendukung Chelsea lainnya yang hadir di GBK.

No space left. Total attendance: 80,106. Amazing. #CFCTour #Indonesia #Jakarta

A post shared by Muhammad Rezky Agustyananto (@ekkyrezky) on

Tapi tak apa. Saya sudah sangat puas bisa merasakan pengalaman yang tak akan terlupakan di hari kedua tur Chelsea di Jakarta, dan rasanya itu sudah cukup.

Saya sungguh beruntung.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *