Brigata Curva Sud: Ultras Santun yang Menjadi Anomali di Sepakbola Indonesia

Brigata Curva Sud: Ultras Santun yang Menjadi Anomali di Sepakbola Indonesia

Siang itu, Kamis (9/2/2017), Sleman tampak cukup cerah cenderung gerah. Matahari bersinar cukup terik, dan di Maguwoharjo, orang-orang mulai berkumpul dengan atributnya masing-masing – tak sedikit yang masih menggunakan seragam kerja karena langsung datang dari kantor. PSS Sleman akan menghadapi Mitra Kukar di laga kedua Piala Presiden 2017 sore itu, dan misi mereka selaku tuan rumah tetap sama seperti ketika menahan Persipura Jayapura di pertandingan pertama: berjuang sebaik-baiknya untuk menciptakan kejutan atas lawannya yang bermain di kasta tertinggi.

Awalnya, Maguwo nampak sepi. Maklum, hari kerja. Tak seperti di hari pembukaan di mana stadion penuh sesak, karena jatuh di akhir pekan. Meski begitu, tribun selatan stadion, yang diisi oleh orang-orang berkaus hitam-hijau, tetap penuh. Bendera-bendera besar di pinggir tribun pun tetap menghiasi.

Saya sungguh beruntung datang di hari yang tepat. Anak-anak muda PSS Sleman bermain luar biasa dan seperti tanpa beban menghadapi lawannya yang satu level lebih tinggi. Mereka bahkan tak diperkuat oleh satu pun pemain asing, sementara lawannya diisi oleh satu atau dua ‘bule’. Dengan luar biasa, mereka mampu unggul satu gol di babak pertama.

Tak berhenti sampai di situ, mereka bahkan mampu unggul tiga gol di awal babak kedua. Tiga gol, atas tim Liga 1! Sayangnya saya tidak bisa menikmati penuh keunggulan PSS (yang ternyata hanya sementara) itu. Pada jeda pertandingan, langit yang tiba-tiba menghitam, secara tiba-tiba juga menjatuhkan hujan yang sangat deras dengan angin yang kencang. Sebagian besar penonton yang berada di tribun timur langsung tunggang langgang ke bagian atas tribun yang sedikit terlindungi atap tribun, termasuk saya. Ketika babak kedua dimulai, saya harus puas melihat pertandingan lewat celah-celah kepala penonton lainnya karena tak bisa duduk lagi di tempat sebelumnya yang sudah diisi orang lain.

Tapi bahkan sebelum saya terhibur dengan keunggulan tiga gol PSS itu, saya melihat hiburan lainnya yang jauh lebih menyenangkan: sementara di tribun timur para penonton berlari mencari perlindungan atap, mereka yang berada di tribun selatan terus berdiri di tempat mereka berada, bernyanyi di tengah hujan dengan penuh keceriaan. Mereka benar-benar seperti menikmati diri mereka sendiri; menikmati sebuah kegembiraan yang hakiki.

Mereka adalah Brigata Curva Sud, kelompok suporter terbesar PSS Sleman saat ini, yang benar-benar mencuri perhatian seluruh nusantara, dan bahkan juga di level dunia, dalam beberapa tahun terakhir.

Mendukung PSS dengan cara berbeda

Saya mengetahui keberadaan Brigata Curva Sud sebetulnya sudah cukup lama. Sebelum saya pindah dari Sleman untuk menuntut ilmu di Jakarta, saya sudah melihat mural BCS di perbatasan Tempel-Magelang. Kemudian, saat menonton PSS melawan PSIM Mataram di Maguwoharjo (yang tentu saja diwarnai lempar batu di luar stadion), saya diberi tahu oleh seorang teman bahwa ada sebagian kecil pendukung PSS yang mengenakan kaus hitam.

Kejadian itu terjadi sekitar tahun 2009, dan saat itu, jumlah mereka benar-benar masih segelintir. Slemania, kelompok suporter PSS yang jauh lebih tua, masih yang terbesar saat itu, meski mungkin ‘kekuatan’ mereka tak seperti ketika masih di masa-masa jaya dahulu, saat PSS masih bermain di Tridadi.

BCS ternyata pelan-pelan terus berkembang, dan mulai menarik ketertarikan suporter PSS lainnya untuk bergabung. Identitas yang lebih unik dengan gaya ultras yang lebih eksotis sepertinya cukup efektif untuk menarik perhatian para Sleman Fans. Apalagi, mereka memiliki pendirian yang kokoh tentang bagaimana mendukung PSS dengan gaya mereka yang benar-benar berbeda dibandingkan suporter sepakbola Indonesia lainnya.

Timing kehadiran mereka memang seperti sangat pas: ketika Slemania mengalami penurunan, mereka hadir menjadi alternatif dengan gaya yang berbeda, lebih progresif, dan, meminjam ucapan seorang kawan, ‘seperti ultras-ultras luar negeri yang sering kita lihat di TV’.

Gaya berbeda inilah yang menjadikan mereka begitu menarik, dan pada akhirnya, membuat mereka mengalami perkembangan yang pesat. Anak-anak Sleman, yang dulunya mungkin tak terlalu peduli pada klub lokal mereka, menjadi bersemangat ketika gerakan ultras seperti suporter-suporter Eropa sana hadir di wilayah sendiri. Mereka ingin bergabung, merasakan kultur ultras yang sebenarnya dan tak hanya membayangkan saja bagaimana rasanya menjadi pendukung Borussia Dortmund atau AC Milan di tribun selatan Westfalenstadion atau San Siro.

Harus diakui, gerakan ultras sepakbola, sejak dulu, memang merupakan hal yang ‘seksi’. Meski di satu sisi ultras identik dengan kekerasan, tapi di sisi lain, loyalitas, semangat, dan kreativitas ultras di Eropa memang selalu menarik minta hampir semua pecinta sepakbola di seluruh dunia.

Karenanya tak mengherankan ketika BCS mengadopsi gaya yang sama, banyak orang menaruh minat pada mereka. Menariknya, gaya ultras Eropa ini tak diadopsi mentah-mentah oleh BCS. Brigata Curva Sud berusaha mengambil aspek positif dari gaya ultras Eropa dan berusaha membuang aspek kekerasan dari gerakan mereka. Hasilnya: BCS menjadi sebuah gerakan ultras yang santun!

Ultras yang mendidik

Sebetulnya, sulit dipercaya bahwa sebuah gerakan suporter yang begitu masif dan luar biasa seperti Brigata Curva Sud bisa berjalan tanpa adanya kepengurusan yang jelas sebagaimana kelompok suporter normalnya. Tapi inilah kenyataannya: salah satu manifesto BCS adalah ‘No Leader, Just Together’ (Tak ada pemimpin, hanya kebersamaan).

Ini memang bukan hal yang baru. Seperti yang pernah dikisahkan dalam Seri Suporter Indonesia di FourFourTwo sebelumnya, salah dua kelompok suporter terbesar di Indonesia, yaitu Bonek dan Aremania, juga memiliki kultur serupa: tak ada ketua, tak ada struktur kepemimpinan. Tapi jika Anda melihat apa yang sudah dihasilkan oleh BCS selama ini, Anda mungkin akan lebih kaget dengan fakta bahwa tidak ada kepemimpinan yang sebenarnya di tubuh kelompok suporter ini.

Begini, BCS bukan hanya berkreasi dengan pyro, bom asap, dan nyanyian sebagaimana suporter Indonesia biasanya – mereka juga secara reguler menampilkan koreo-koreo yang rumit yang hanya bisa dihasilkan lewat koordinasi panjang antar member dan mungkin komunitas yang menjadi anggota BCS. Selain itu, mereka juga menunjang kebutuhan kreatif mereka dengan usaha sendiri, di antaranya lewat CS Shop (distro) dan CS Mart (toko kebutuhan sehari-hari).

Singkatnya, BCS bukan hanya sebuah kultur, komunitas, atau kelompok suporter biasa sebagaimana Bobotoh, Bonek, atau Aremania. Apa yang mereka lakukan sejauh ini lebih mirip seperti sebuah organisasi suporter yang tersusun rapi.

Untuk sebuah kelompok suporter yang tak memiliki kepengurusan yang jelas, apa yang mereka hasilkan sejauh ini adalah luar biasa. Tanpa kepemimpinan yang pasti, BCS bisa beroperasi dengan baik dengan mengandalkan kontribusi setiap anggotanya. Ini semacam situasi utopis yang diimpikan kaum sosialis di seluruh dunia: kehidupan di mana setiap anggota masyarakat, atau dalam hal ini anggota kelompok, memiliki dan menjalani tugasnya masing-masing tanpa harus ada paksaan dan kepemimpinan dari negara atau partai.

Apa yang dihasilkan oleh BCS sejauh ini juga menjadi bukti nyata pendirian mereka. Ini bukan hanya soal bersenang-senang di tribun untuk mendukung tim favorit mereka bertanding, tetapi juga bagaimana mereka bisa memberikan dukungan dengan semaksimal mungkin dan sekreatif mungkin dengan usaha mereka sendiri. Itulah sikap yang menjadi salah satu manifesto mereka: ‘Mandiri Menghidupi’.

“Tidak ada 1 rupiah pun yang diberikan oleh manajemen sebagai modal usaha, menjadi sebuah tantangan untuk kami bagaimana kami bisa terus berkembang dan mempertahankan apa yang menjadi idealisme kami,” tulis BCS di situs resmi mereka.

Apa yang dilakukan oleh BCS selama ini memang layaknya sebuah anomali di sepakbola Indonesia. Bukan hanya dari segi kreativitas dan kemandirian mereka, tapi juga dari sikap mereka. BCS bukan hanya menjadi wadah bagi para suporter PSS yang ingin mendukung PSS dengan cara yang berbeda; BCS juga menjadi medium pendidik bagi para anggotanya dan juga bagi pendukung PSS Sleman lainnya untuk mendukung tim mereka dengan sebaik-baiknya.

Seperti apa maksudnya? Sederhana: selain berkreasi dengan berbagai atraksi yang menarik dilihat, BCS juga rajin melancarkan kampanye-kampanye menarik yang bertujuan untuk mendidik para suporter PSS menyaksikan pertandingan dengan lebih bertanggung jawab. Salah satu kampanye yang paling menonjol adalah ‘No Ticket, No Game’, di mana BCS mewajibkan para anggotanya untuk selalu membeli tiket pertandingan dan tidak mengharapkan ‘jebolan’. Mereka mendidik para suporter bahwa mereka perlu juga membantu PSS agar klub selalu memiliki keuangan yang sehat, dan salah satu caranya adalah selalu membeli tiket resmi pertandingan.

Satu kampanye lain yang juga sangat menyita perhatian saya adalah seruan BCS agar para anggotanya menggunakan sepatu saat menonton PSS. Jujur, ini adalah sesuatu yang sangat unik. Sebuah kelompok ultras mengajak para penonton pertandingan untuk menggunakan sepatu! “Pertandingan adalah hal sakral yang memberi kewajiban pada kita untuk menghormatinya sebagai sesuatu yang suci. Kenakanlah sepatu, baju terbaikmu,” tulis BCS dalam tulisan ‘This Is Sleman Fans!’ di situs resmi BCS.

Ada beberapa aturan lainnya yang menarik juga dari BCS, seperti menyalakan cerawat hanya di luar waktu pertandingan. Kritik atau teror kepada lawan hanya dilakukan lewat handbanner dan bukan lewat nyanyian dengan kata-kata kasar. Dan tidak ada terompet: semua harus bernyanyi untuk memberikan dukungan, bukan mengandalkan terompet-terompet sumbang yang dibunyikan tanpa koordinasi.

Ini adalah bentuk pendidikan suporter yang langka, yang bahkan mungkin tak banyak atau malah tak terjadi di negara-negara barat sekalipun. Apa yang mereka lakukan sejauh ini membuktikan bahwa BCS adalah sebuah anomali di sepakbola Indonesia – sebuah anomali yang sangat-sangat positif bagi dunia sepakbola Indonesia.

Tentu saja BCS tak melulu memberikan kesan yang positif selama keberadaan mereka sejak masih embrio hingga saat ini. Tetap ada noda-noda hitam yang menghantui, seperti insiden bentrokan dengan suporter lainnya yang bahkan sampai menghasilkan korban jiwa. Ini memang masih menjadi PR besar bagi para suporter sepakbola di Indonesia, termasuk BCS yang ‘santun’ sekalipun. Sepakbola memang kerap menghasilkan fanatisme yang cenderung tak sehat, apalagi dengan jumlah massa suporter yang besar yang sulit diatur.

Meski begitu, noda-noda itu tak semestinya menghapus progres yang sudah dicapai BCS sejauh ini.

Ketika sepakbola negeri ini tengah berjalan ke arah yang lebih profesional, sudah sepantasnya jika para suporter pun bersikap dan bertindak lebih baik lagi. Dan Brigata Curva Sud, meski masih memiliki PR besar yang perlu mereka kerjakan di masa depan, saya kira sudah memberikan contoh yang baik untuk kelompok-kelompok suporter lainnya di nusantara.

Foto utama dari bcsxpss.com. Artikel ini tayang di FourFourTwo Indonesia pada 23 Maret 2017 lalu. Klik di sini untuk melihatnya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *