Buat Apa Fitness?

Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya berkenalan dengan seorang anggota gym tempat saya biasa fitness di Bekasi. Kami sering berlatih di jam-jam yang sama, tetapi tak pernah sekalipun bertegur sapa. Hari itu, saya akhirnya menyapanya dengan cara bertanya apakah dia menggunakan jasa pelatih pribadi alias personal trainer.

Pertanyaan ini saya ajukan karena saya tahu bahwa dia adalah tipikal anggota gym yang habis-habisan ketika berlatih. Tipe-tipe anggota gym yang rajin mengangkat beban berat sampai melenguh dengan suara keras mengalahkan suara musik jedag-jedug yang biasa diputar di gym.

Dia jawab tidak pernah menggunakan jasa PT sejak pertama kali fitness sekitar lima bulan yang lalu. Ia berlatih secara otodidak, sambil rajin-rajin bertanya ke instruktur atau malah dengan PT yang biasa ada di fitness. “Yang penting nggak malu bertanya aja, walau kita nggak bayar,” katanya sambil tertawa.

Dia lalu bertanya, apakah saya juga minum susu khusus untuk mengembangkan otot? Atau suplemen semacamnya?

Itu adalah pertanyaan kedua yang saya dapatkan di hari itu. Beberapa saat sebelumnya, seorang instruktur juga menanyakan hal yang sama, dan ujung-ujungnya menawarkan suplemen pembakar lemak yang dia jual.

Saya katakan saja, saya tidak mengonsumsi susu atau suplemen apapun. Lalu saya jelaskan: saya memang tidak ada niatan untuk membentuk otot atau merampingkan tubuh.

Tapi itu betul, saya memang tak punya niatan untuk membentuk tubuh atau membuat badan saya lebih ramping. Saya fitness semata-mata agar lebih fit, agar hidup saya yang lebih banyak dihabiskan di depan laptop sedikit lebih seimbang, dan agar ketika tua nanti saya bisa lebih sehat daripada kebanyakan orang di usia yang sama.

Menjadi tua dan sakit-sakitan adalah salah satu ketakutan terbesar dalam hidup saya, dan karena itu, saya mulai berinvestasi agar hal itu tidak terjadi.

Karenanya, saya menuruti nasihat salah seorang personal trainer yang pernah saya ajak mengobrol: nggak perlu menimbang badan setiap hari. Latihan dan istirahat saja terus, biar hasilnya dirasakan, tidak perlu dipikirkan.

Pendekatan saya fitness jadi seperti pendekatan saya ketika tim nasional Indonesia bermain di Piala AFF 2016: saya tidak mengharapkan apa-apa dari Indonesia, yang penting bermain habis-habisan. Bisa melaju jauh apalagi bisa juara itu hanya bonus, yang penting adalah usaha maksimal. Begitu pula urusan saya fitness: yang terpenting, usaha maksimal, bisa turun berat badan atau badan terbentuk dengan baik itu adalah bonus.

Tiap orang tentu berbeda-beda, tapi untuk saya, inilah pendekatan yang saya ambil. Kalau kamu, bagaimana?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here