Buka Pintunya, Woy!

Buka Pintunya, Woy!

“Bikin barisan! Bikin barisan!”

“Woy bikin tiga baris! Bikin tiga baris!”

“Udah baris daritadi! Buka pintunya!”

***

Saya menghabiskan Rabu malam dengan pergi ke Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, dengan niat menonton pertandingan uji coba antara tim nasional Indonesia U-22 dengan Persija Jakarta. Pertandingan ini digelar di Bekasi karena: 1. Stadion Gelora Bung Karno sedang direnovasi, dan 2. Persija akan berkandang di Stadion Patriot pada Liga 1 Indonesia 2017 mendatang. Dan ini berita bagus: jarak rumah ke stadion hanya 4 kilometer saja.

Saya memilih untuk tidak membeli tiket secara daring seperti yang biasa saya lakukan dengan karena hanya tiket untuk kelas VIP yang dijual secara daring dan karena saya ingin berada di tribun bersama suporter Persija untuk pertama kalinya. Ini seharusnya jadi pengalaman pertama saya menonton Persija di tribun, dan merasakan atmosfer pertandingan secara langsung di tengah suporter mereka yang fanatik.

Seharusnya.

Pada kenyataannya, ternyata tiket tribun hanya dijual lewat Korwil suporter sementara tiket VIP sudah habis terjual.

Setelah berkeliling stadion untuk mencari loket tiket, saya bertanya kepada salah seorang petugas yang berjaga.

“Pak, tiket habis semua ya?”

“Iya habis semua. Mau nonton?”

“Iya, Pak.”

“Berapa orang?”

“Sendirian.”

“Ya udah tunggu sini, nanti kita masuk sama-sama.”

Ding dong!

Saya tak sendirian. Ada beberapa orang lain yang menunggu di dekat gerbang luar stadion untuk ‘diselundupkan’ ke dalam, tentu saja dengan harga tertentu. Saya tahu, ini buruk. Tapi saya tentu saja tidak bisa melewatkan kesempatan untuk merasakan langsung ‘diselundupkan’ ke dalam stadion oleh petugas yang berjaga.

Selama ini, rumor mengenai petugas bawa masuk penonton ke stadion atau penonton-penonton gelap yang masuk cuma-cuma lewat ‘jebolan’ sudah sering saya dengar, di mana-mana. Tetapi ini mungkin akan menjadi pertama kalinya saya menyaksikan atau merasakan langsung aktivitas ilegal ini di stadion di Indonesia – sesuatu yang mungkin tidak akan Anda temukan di stadion-stadion negara maju.

Fenomena penonton gelap tentu saja bukan hal baru. Enam tahun yang lalu, ketika meliput final SEA Games 2011, saya merasakan betul dampak negatif penonton gelap. Saat itu, dalam laga final yang digelar di GBK, tribun media ikut dijajah oleh penonton, yang kehabisan tempat di tribun penonton. Entah bagaimana mereka bisa masuk ke sana. Dan entah bagaimana pula, jumlah penonton pertandingan itu di atas jumlah tiket yang terjual.

Masalah ini bahkan mungkin juga sudah ada sejak dulu kala. Anda mungkin pernah mendengar bagaimana penonton final Kompetisi Perserikatan antara Persib Bandung dan PSMS Medan pada tahun 1985 di Senayan bisa sampai meluber ke pinggir lapangan? Kabarnya, jumlah penonton pertandingan itu bahkan di atas 100 ribu orang. Tentu saja panitia penyelenggara tak akan menjual tiket melebihi kapasitas stadion, bukan?

Foto: Goal.com

Mendengar cerita adalah satu hal, merasakan dan melihatnya langsung adalah hal lain. Dan itulah mengapa saya memilih untuk tetap berdiri di luar stadion, menunggu untuk dibawa masuk, alih-alih memilih pulang karena pertandingan sendiri sudah dimulai.

***

Gocap (Lima puluh ribu), kan?” tanya saya ke seorang yang juga menunggu untuk dibawa masuk.

“Iya katanya.”

Saat itu, waktu baru menunjukkan angka 19.08 WIB. Pertandingan baru berjalan sekitar delapan menit. Kami masih menunggu di luar, menanti ‘digiring’ petugas ke dalam.

Kami terus menunggu sampai entah berapa kali sorakan terdengar dari dalam stadion. Kedua tim memang belum mencetak gol (dan sampai akhir pertandingan pun tidak mencetak gol), tapi nampaknya Persija membuat beberapa peluang bagus di awal pertandingan.

Beberapa petugas kemudian pergi ke arah stadion, tapi kami tetap disuruh menunggu di sana.

Jam menunjukkan 19.20 WIB, dan kami mulai gelisah.

Salah satu dari kami kemudian bertanya kepada petugas yang tadi menjanjikan akan membawa kami masuk. Dan petugas berperut buncit itu malah menjawab, “Lho belum masuk? Harusnya dari tadi!”

Kami kebingungan.

“Ya udah, gini deh. Kalian berapa orang ini? 6 ya? Ya udah, 600 deh, semuanya masuk.”

600 ribu, atau 100 ribu per orang. Dua kali lipat dari harga yang dijanjikan. Atau sama dengan harga tiket tribun yang sempat ditawarkan oleh seorang calo ke saya.

Saya tertawa.

Tentu saja saya tidak mengambil tawaran itu. Beberapa orang yang menunggu bersama saya tadi akhirnya menghampiri petugas yang lain, sementara saya berjalan ke arah yang berbeda, ke arah depan gerbang masuk tribun, melihat apa yang terjadi di sana.

Sesuai tebakan, saya melihat ada banyak orang bergerombol di sekitar pintu gerbang di berbagai sektor, menunggu jebolan. Sebetulnya, ada dua jenis orang yang menunggu di sekitar sini: 1. Mereka yang benar-benar hanya menunggu jebolan, dan 2. Mereka yang mencari petugas yang bisa membawa mereka masuk.

Beberapa orang berhasil masuk sebelum babak pertama berakhir. Tentu saja dengan membayar petugas. Saya memerhatikan satu petugas yang berulang kali membawa beberapa orang ke dalam stadion, dan dibiarkan saja oleh petugas tiket yang berjaga di depan gerbang (mereka malah membukakan gerbang agar sang petugas dan ‘bawaannya’ masuk).

Sementara itu, jumlah orang yang setia menunggu jebolan masih cukup banyak, walau tak sebanyak ketika pertandingan baru berjalan 10-15 menit. Di satu gerbang, mereka yang menunggu jebolan ini diminta berbaris, dan seperti diberi harapan bahwa mereka bisa masuk dalam waktu dekat.

Tapi setelah 15-20 menit berbaris, tak ada gerbang yang dibuka untuk mereka.

Hingga babak pertama selesai, tak satu pun gerbang dibuka untuk membiarkan penonton-penonton tak bertiket ini masuk.

Sampai akhirnya, babak kedua akan dimulai.

Sekali lagi, petugas di dalam meminta mereka yang bergerombol di luar berbaris. Buat tiga baris, seru mereka. Dan berbarislah (walau acak-acakan) mereka yang bergerombol di luar itu.

Salah satu gerbang akhirnya dibuka setelah peluit babak kedua dibunyikan.

Barisan pun pecah.

Pernah melihat bagaimana air dalam arus yang deras keluar lewat sebuah celah kecil?

Kaos.

(Ya, kaos adalah padanan Bahasa Indonesia dari chaos. Cek KBBI kalau tak percaya!).

Mereka bertabrakan, beberapa sengaja membuat ulah dengan mendorong yang lainnya.

Sampai akhirnya, gerbang ditutup lagi.

Tidak semua berhasil masuk karena petugas pun ternyata membatasi mereka yang bisa masuk. Hanya sebagian besar yang berdiri cukup dekat dari gerbang yang bisa masuk. Ini bagus. Setidaknya, tribun stadion tidak terlalu sesak, yang bisa berakibat buruk jika sesuatu hal terjadi (ingat Hillsborough?).

Walaupun bagus tidak sama dengan benar.

Karena, jika mengingat lagi bagaimana tidak nyamannya saya bekerja di tribun media yang sesak karena penonton masuk ke sana, saya bisa mengerti bahwa meski aktivitas ilegal ini menguntungkan mereka yang tak bertiket, ini membuat mereka yang membeli tiket secara legal dan ingin menonton pertandingan dengan tenang menjadi merugi dan terganggu.

Dan membuat keamanan penonton sendiri juga terancam.

Untungnya pelan-pelan, saya melihat upaya meminimalisasi penonton gelap seperti ini terus dilakukan di seluruh Indonesia. Penggunaan tiket elektronik (di mana tiket penonton harus dipindai secara elektronik untuk menjamin keasliannya) mulai marak di banyak daerah, tak hanya di ibukota. Kampanye membeli tiket juga mulai diselenggarakan oleh kelompok-kelompok suporter sendiri, sebuah kesadaran yang sangat bagus untuk menuju sepakbola yang lebih profesional.

***

Setelah babak kedua dimulai, saya berjalan lagi, ke sisi lain stadion sebelum beranjak pulang. Masih banyak mereka yang datang namun tak bisa masuk untuk menonton, dan akhirnya hanya duduk-duduk bersama teman-teman di halaman luar stadion. Ada juga yang masih menunggu jebolan lainnya, dan terus bergerombol di depan gerbang masuk tribun.

Ada juga mereka yang pasrah namun tetap ingin menonton pertandingan, dan akhirnya berusaha menonton dengan cara mengintip dari jendela-jendela luar stadion, atau gerbang tempat mobil ambulans dan pemadam kebakaran keluar masuk. Meski hanya bisa melihat sedikit bagian lapangan saja, itu tak masalah buat mereka.

Apapun dilakukan demi menonton sepakbola.

Luar biasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article
  1. Billy Koesoemadinata at 2:23 pm

    buat sebagian orang, nonton sepakbola — terutama tim kesayangan (apalagi timnas) langsung di stadion adalah bentuk ibadah. makanya, semua upaya akan dilakukan.

    jadi rindu untuk ke stadion (lagi) & nonton bola langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *