Kenapa Saya Lebih Suka Membaca Buku Berbahasa Inggris

Kenapa Saya Lebih Suka Membaca Buku Berbahasa Inggris

Saya pertama kali membaca buku berbahasa Inggris (di luar buku kuliah yang tentu saja cuma dibaca beberapa bagian saja) adalah di tahun pertama saya menjadi mahasiswa.

Sebelumnya, saya tidak pernah membeli buku berbahasa Inggris sama sekali, fiksi maupun non-fiksi. Apalagi harganya cenderung mahal, saya yang hidup pas-pasan di awal-awal kuliah tentu saja tidak sanggup membelinya.

Tapi suatu hari, saya memenangkan voucher toko buku Aksara dari Blackberry berkat sebuah kuis di Twitter. Lumayan, Rp250.000 nilainya ketika itu. Saya pun langsung menggunakannya di Aksara Pacific Place – saya ingat, saat masih cupu itu, kaget melihat bahwa buku yang dijual di Aksara ternyata sebagian besar berbahasa Inggris. Dan sangat mahal.

Sebelum datang ke sana, saya sempat berpikir saya bisa membawa pulang empat atau lima buku. Pada akhirnya, saya memang berhasil membawa pulang empat buku, tapi hanya dua yang impor, dua yang lainnya buku berbahasa Indonesia, dan itupun harus nombok beberapa puluh ribu.

Dua buku impor yang saya beli adalah Norwegian Wood dan Kafka on the Shore karya Haruki Murakami. Kenapa Murakami? Satu, saya pernah mendengar nama pengarang ini sebelumnya (kalau tidak salah lewat obrolan dengan Uli). Kedua, harganya lebih murah daripada yang lain.

Norwegian Wood pun menjadi novel berbahasa Inggris pertama yang saya baca. Meski kemampuan bahasa Inggris saya terbatas, saya tetap bisa menikmati buku itu, walau tentu saja dalam waktu yang lebih lama daripada membaca buku bahasa Indonesia.

Sejak saat itu, saya ketagihan membaca buku berbahasa Inggris, dan saya mungkin lebih banyak membeli buku berbahasa Inggris ketimbang berbahasa Indonesia sejak itu.

Ada beberapa alasan mengapa saya (dan mungkin juga Anda) lebih menyukai buku berbahasa Inggris.

Pertama, mendengar/membaca bahasa asing memberikan sensasi yang berbeda daripada ketika mendengar bahasa sendiri. Ini yang terutama terjadi pada, misalnya, dialog di film atau lirik lagu.

Mari bayangkan bagian chorus lagu Ed Sheeran yang berjudul Shape of You ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

I’m in love with the shape of you
We push and pull like a magnet do

Terjemahan:

“Aku jatuh cinta pada bentukmu
Kita saling mendorong dan menarik seperti magnet”

Ketika kita membaca liriknya dalam bahasa Inggris, kita akan berpikir, oh, puitis. Tapi dalam bahasa Indonesia?

Inilah yang membuat saya sekarang tidak mau membaca buku, terutama novel, dalam terjemahan bahasa Indonesia. Ini bukan karena sombong. Kesan cheesy yang sering muncul dalam dialog, terutama dalam novel romantis, agak sedikit tertanggulangi jika membacanya dalam bahasa asing. Ini sepele, tapi buat saya penting. Selain itu, buku terjemahan juga seringkali mengalami dua masalah: satu, penerjemahan yang terlalu kaku sehingga sulit untuk dinikmati, dan, kedua, gagal menangkap gaya atau kesan utama yang ingin ditampilkan oleh sang penulis.

Sebagai seseorang yang salah satu pekerjaannya adalah menerjemahkan artikel feature, saya tahu beratnya menerjemahkan suatu karya. Apalagi kalau karya tersebut sangat kental unsur-unsur yang hanya berlaku pada bahasa itu saja, misalnya idiom atau bahkan jokes. Sebagai penerjemah, kita tidak bisa mengubah begitu saja isi tulisan karena ada ‘hak cipta’ sang penulis di dalamnya. Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis ulang dalam bahasa Indonesia karena artikel tersebut bergaya sangat British. Di satu sisi, niatnya bagus, agar pembaca Indonesia bisa menikmati artikel tersebut sebagaimana mereka menikmati artikel berbahasa Indonesia. Tapi di sisi lain, isi tulisan benar-benar dirombak dan ini tidak bagus karena ini artinya, tulisan tersebut sudah bukan lagi milik sang penulis, tapi milik sang penerjemah.

Sekarang, bayangkan sebuah buku yang harus mengalami dua loncatan bahasa: dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris, lalu ke bahasa Indonesia, seperti novel Murakami. Bayangkan seberapa banyak konteks yang mungkin hilang dalam dua penerjemahan itu.

Meski begitu, saya tak serta merta meninggalkan novel-novel Indonesia karena alasan bahasa juga. Tapi saya semakin selektif: saya tak lagi membaca novel-novel metropop dan lebih senang membaca yang bertema menarik atau yang lebih, uhuk, ‘sastrawi’. Beberapa favorit saya, misalnya, adalah Pulang, Ibu, atau Bilangan Fu. Misalnya saja, sekarang saya sedang menggemari karya-karya Eka Kurniawan. Di mata saya, bahasa Indonesia memang lebih kompleks, meski di sisi lain, juga lebih indah. Baca saja lirik-lirik lagu Efek Rumah Kaca dan Barasuara; bahasa Indonesia seharusnya seindah itu!

Alasan kedua saya senang membaca bahasa Inggris adalah secara tidak langsung, membaca buku berbahasa Inggris membantu saya meningkatkan kosakata bahasa Inggris saya – meski secara pasif (!). Ini mungkin tidak terlalu membantu bahasa Inggris aktif Anda kecuali Anda mempraktikkan kata-kata baru yang Anda temukan ketika membaca itu dalam kehidupan sehari-hari, tapi setidaknya tetap ada proses belajar di sana.

Alasan lain yang masih berkaitan dengan alasan kedua ini adalah karena bahasa Inggris, harus diakui, memiliki kosakata yang lebih kaya ketimbang bahasa Indonesia. Selain itu, kata dalam bahasa Inggris juga lebih fleksibel, dan inilah yang membuat bahasa Inggris menjadi jauh lebih kaya: fleksibilitas ini menghasilkan banyak terma baru yang menarik dan penting. Misalnya saja, saya menemukan istilah yang menarik: ‘chill-hop‘. Meski kata ini mungkin belum masuk dalam kamus bahasa Inggris di manapun (kecuali Urban Dictionary, tentu), namun ketika orang mendengar kata ini, kita tahu bahwa kata ini berasal dari dua kata: chill yang berarti santai dan hop dari kata hip-hop. Kita pun tahu bahwa istilah ini merujuk pada musik-musik elektronik dengan beat dan tempo yang lambat, seringkali memadukan hiphop dan jazz.

Istilah lain yang juga terpenting dari fleksibilitas bahasa Inggris: deep-lying playmaker, untuk posisi pemain yang ditunjuk sebagai pusat permainan tim di sepakbola, namun berposisi lebih ke belakang daripada umumnya (di depan para bek tengah, alih-alih di belakang para penyerang seperti peran playmaker yang dikenal dulu). Bisakah kita membuat terma yang sama singkatnya untuk posisi ini dalam bahasa Indonesia? Saya kira, sulit. Inilah yang saya maksud sebagai fleksibilitas bahasa Inggris.

Perihal kosakata ini, saya sempat membaca tulisan yang menarik dari Gustaaf Kusno tentang masalah ini di Kompasiana. Klik di sini untuk membacanya.

Alasan terakhir: buku bahasa Inggris terlihat lebih ‘wah’ ketika kita membawa atau membacanya di tempat umum.

Betul, kan? Ayolah, mengaku saja.

Foto utama di atas begitu buruk karena lensa LG G3 saya yang lawas sedang bermasalah. Baca di sini untuk penjelasannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 5 comments for this article
  1. Fajar at 8:58 am

    Gua juga sama, terutama alasan yang pertama
    Coba bandingin buku The Alchemist, Paulo Coelho
    Yang bahasa inggris dan bahasa indonesia
    Jadi kayak fail gitu wkwkwkwk

    • ekkyrezky Author at 6:16 pm

      Susah memang nerjemahin karya orang, apalagi yang punya ciri khas sendiri. Apalagi kalau bahasanya njelimet dan sering pakai kosakata yang jarang dipakai di Bahasa Indonesia…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *