Bagaimana Casey Neistat Mengubah Pandangan Saya Pada Vlog (dan YouTuber)

Sebelumnya, buat saya, vlog itu adalah jenis video yang sangat tidak penting.

Saya selalu bingung mengapa jutaan orang di dunia seperti senang sekali menonton vlog di YouTube selama berjam-jam setiap hari. Melihat kehidupan orang lain, yang dikemas secara biasa-biasa saja, di mana mereka memamerkan entah itu gadget terbaru mereka, tempat liburan mereka, atau hal-hal lain yang menurut saya tidak penting.

Buat apa menonton kehidupan orang lain yang tidak kita kenal yang sebagian mungkin dibumbui kepalsuan demi pamer ke khalayak?

Saya tidak menganggap vlog sebagai konten video bermutu yang menghibur atau konten video yang bisa masuk dalam kategori ‘seni’. For me, they’re all bulshitting in front of the camera with a loud voice and always try to be happy or even dramatic.

Saya berpikir seperti itu… sampai YouTube menyodorkan video Casey Neistat menggambarkan pengalamannya menaiki first class Emirates yang berharga ratusan juta rupiah itu. Itu adalah ‘perkenalan’ pertama saya dengan Casey Neistat dan saya sangat terkesan. Video yang hingga hari ini ditonton 33,9 juta kali. Video yang membawa saya mulai mengenal Casey dan mengubah pandangan saya soal vlog.

Sejak itu, saya mulai menonton video-video yang dibuat Casey Neistat. Dari videonya ber-snowboarding di tengah kota New York yang dilanda badai salju hebat, hingga video di mana ia menggambarkan kondisi kota Washington menjelang sumpah jabatan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Dari video Make it count yang luar biasa edan hingga video liburan keluarganya ke Afrika Selatan.

Tentu saja tidak semua dari ratusan video yang dibuat Casey masuk dalam kategori bagus, sebagus video Emirates atau iklan Nike. Tak semuanya juga pantas masuk dalam kategori vlog. Tapi setidaknya Casey Neistat telah mengubah pandangan saya tentang vlog dan kreator konten di YouTube.

Dan perubahan cara pandang saya itu semakin menjadi kala Casey mengeluarkan video luar biasa ini:

Itu adalah video pendek yang luar biasa.

Itu adalah sebuah video inspirasional yang benar-benar menginspirasi saya untuk; 1.) memiliki kamera, 2.) menciptakan sesuatu yang belum pernah saya ciptakan sebelumnya (bukan, bukan vlog).

Saya benar-benar menjadi fan seorang YouTuber – sesuatu yang tak terpikirkan sama sekali satu tahun yang lalu.

Mengapa Casey Neistat berbeda dengan vlogger lainnya

Casey Neistat berbeda dengan vlogger lainnya. Dan ini memang wajar, karena ia adalah seorang filmmaker yang menguasai teknik pengambilan gambar yang lebih baik daripada vlogger biasa yang tak punya pengetahuan lebih dalam tentang ini.

Saya menyadari aspek ini ketika menonton mini filmnya, The Vietnam Notebook, yang menceritakan petualangannya bersama anaknya, Owen Neistat, di pedalaman Vietnam.

Pada satu adegan, kamera mengambil gambar jalanan desa yang kosong, dan dari kejauhan, Casey, yang berboncengan dengan anaknya menggunakan sebuah motor trail, melaju, melewati kamera dengan kencang. Kamera tetap mengambil gambar ke arah jalan yang kosong, sampai akhirnya Casey berbalik, masuk ke dalam frame lagi, dan mengambil kamera yang diletakkan di pinggir jalan itu.

Saat itulah saya sadar: Casey membuat video-videonya dengan gaya seorang sutradarai membuat filmnya. Ia tidak menggunakan satu sudut pandang kamera saja, namun berusaha mengambil gambar dengan berbagai sudut pandang kamera yang teredit rapi. Jika diperhatikan, bahkan ketika ia hanya sedang bermonolog ria di depan kamera di studionya saja, ia menggunakan berbagai sudut pandang kamera (yang artinya merekam monolognya sepotong demi sepotong) layaknya sebuah acara TV yang dikemas profesional.

Inilah yang membuat video-video Casey Neistat berbeda dengan vlogger-vlogger umumnya, dan yang membuat video-videonya menyenangkan untuk dilihat. Setelah mengetahui ‘rahasia’ Casey ini, saya justru semakin tertarik untuk melihat bagaimana Casey Neistat membuat video-videonya, dan bukan hanya menikmati kontennya semata..

Tapi kekaguman itu kemudian berkembang lagi – lebih dari sekadar aspek teknikal saja. Sebagai seseorang yang seperti sangat awet muda dan menjalani hidup yang tak mudah (ia sudah memiliki anak sejak usia 17 tahun), Casey adalah seorang ayah yang luar biasa. Setidaknya itu yang saya lihat dari video-video yang ia buat bersama Owen.

Ada dua video yang membuat saya bisa menyimpulkan seperti itu: pertama, dalam video My Kid and Me, Casey menceritakan usahanya untuk mendekatkan diri dengan Owen ketika sang anak memasuki usia remaja (usia di mana anak biasanya mulai menjauh dari orang tuanya) dengan cara mengajak Owen berlibur berpetualang ke tempat-tempat yang menantang. Dalam video itu, ia mengajak Owen ke Macchu Picchu, di mana mereka harus berjalan kaki menaiki pegunungan Andes untuk sampai di kota yang hilang.

Ini adalah trip reguler yang memang ia lakukan berdua saja dengan Owen sejak anaknya masih kecil. Inilah usahanya untuk tetap dekat dengan sang anak, yang sehari-hari tinggal bersama ibunya, mantan pacar Casey ketika remaja dulu.

Petualangan Casey dan Owen setiap tahunnya ini, kelak, mengubah karakter Owen untuk menjadi seorang petualang. Dalam tulisan Let’s Get Lost di The New York Times, Jesse Ashlock, yang mengikuti petualangan ayah dan anak itu di Afrika, menceritakan bagaimana Owen kecewa ketika mereka ternyata menginap di cottage dan mengikuti guide. Ini bukan petualangan, pikirnya. Ketika Casey mengajak Owen (dan Jesse) menempuh bahaya ke Devil’s Pool di Zambia ketika arus air sedang kencang, Owen akhirnya merasa gembira. Ia sudah benar-benar memiliki DNA petualang sang ayah.

Ini memang seperti menjadi ciri khas Casey dalam mendidik anaknya. Dalam video kedua yang membuat saya menyadari kualitas kebapakan sang filmmaker, Casey menjelaskan mengapa ia membiarkan anaknya bekerja part-time sebagai penjaga kasir di sebuah toko donat. Padahal, dengan reputasinya, Casey bisa membuat Owen bekerja sambilan di pekerjaan-pekerjaan yang lebih nyaman. Casey berargumen bahwa ia ingin Owen memiliki pengalaman menjalani pekerjaan yang sulit dan melelahkan seperti itu (dan bukannya bekerja di balik monitor komputer di kantor) untuk menempanya. Ia ingin Owen mengerti beratnya pekerjaan tersebut, memberikannya pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Ini agar Owen bisa menghargai pekerjaannya yang lebih baik di masa depan dan menghargai orang-orang yang harus bekerja keras di sepanjang hidupnya.

Dalam satu bagian di My Kid and Me, Casey sebagai narator bercerita, “Bahkan ketika ia kecil, saya tidak pernah memanjakan Owen. Saya lebih memilih untuk mengajarinya kemampuan berpikir kritis. Dan membiarkannya membuat keputusan sendiri.”

Dan itulah mengapa saya semakin mengagumi Casey Neistat.

2 COMMENTS

  1. bener banget tuh, jangan terlalu memaksakan seseorang tuk menjadi apa yang kita inginkan, lebih baik yaa benar apa yang dikatakan oleh casey ” memilih untuk mengajarinya kemampuan berpikir kritis. Dan membiarkannya membuat keputusan sendiri. “, karena dengan ia membuat keputusan sendiri dapat menjadi semakin dewasa dan berwawasan luas mantappss

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here