Catatan Sebelum Tidur: Vinyl

Catatan Sebelum Tidur: Vinyl

Mengapa orang mau membuang banyak uang demi mengoleksi vinyl records? Mengapa ada orang yang mau repot-repot mengurusi puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan piringan hitam yang harus dijaga baik-baik, dan. sekali lagi, menghabiskan begitu banyak uang untuk mendapatkannya? Demi kepuasan telinga, atau hanya demi menjadi beda?

Dulu, saya berpikir faktor ‘ingin menjadi beda’ atau ‘ingin terlihat vintage‘ adalah faktor utama bangkitnya kembali hobi mengoleksi piringan hitam. Sebagian orang mungkin akan berargumen bahwa suara yang dihasilkan oleh piringan hitam memiliki kualitas yang jauh lebih baik ketimbang mp3 atau bahkan CD sekalipun, meski saya yakin bahwa sebagian besar dari kita sebetulnya tak sadar-sadar amat perbedaan kualitas suara di antara ketiga media tersebut. Tak semua orang diberkahi satu set telinga yang mampu membedakannya. Saya termasuk yang kesulitan kalau harus menunjukkan perbedaan kualitas suara yang dihasilkan oleh mp3 dengan bitrate 320bps dengan suara yang dihasilkan oleh CD, misalnya.

Kemudian saya menemukan video ini, menontonnya, dan mulai memahami alasan dibalik hobi mengoleksi piringan hitam.

Sebetulnya, alasan mereka yang mengoleksi piringan hitam ini tak jauh berbeda dengan alasan beberapa orang, termasuk saya, masih mengagung-agungkan buku dalam bentuk cetak ketimbang e-book. Selain alasan kenyamanan dalam mendengarkan musik (dan membaca teks dalam buku), ada juga alasan lainnya yang membuat orang mau bertahan dengan model media yang dianggap tak lagi efisien di era digital ini: romantisme. Sebagaimana penggemar buku yang selalu menyenangi saat-saat berkeliling toko buku untuk mencari buku yang diinginkannya alih-alih berselancar di dunia maya untuk mencari e-book, berburu piringan hitam yang sangat diinginkan, terutama yang jadul, juga memberikan kepuasan sendiri bagi para penggemarnya. Dan sebagaimana penggemar buku yang mengagung-agungkan sensasi membuka plastik buku baru dan mencium bau kertas dari buku tersebut, penggemar piringan hitam pun merasakan sensasi tersendiri saat menarik keluar piringan hitam dari sampulnya, menaruhnya di atas pemutar, memencet tombol play, menaruh jarum di atas piringan, lalu mendengarkan surface noise yang sungguh khas itu. Romantisme yang tak akan pernah dirasakan oleh mereka yang hanya mendengarkan musik lewat file-file digital di laptop atau Digital Audio Player.

Tapi bagi saya, bagian paling menarik dari penggemar vinyl adalah yang diungkapkan oleh Simon Poole, salah satu orang yang diwawancara dalam video Why Vinyl? di atas. Menurutnya, mendengarkan musik dengan vinyl adalah sebuah pengalaman mendengarkan musik yang berbeda dengan yang kita kini lakukan di era digital. Ia menjelaskan bagaimana di masa kini, orang mendengarkan musik di internet sambil mengecek email, mengerjakan tugas, atau membuat update status, sehingga kita tak pernah bisa benar-benar fokus pada musik itu sendiri. Sementara mendengarkan musik menggunakan vinyl adalah slow experience. Anda harus memilih piringan yang ingin Anda putar, lalu mengambilnya dari dalam cover, menaruhnya dengan hati-hati di atas pemutar, lalu memutarnya dan menaruh jarum di atas piringan. Ada tahapan yang panjang, yang tak sekadar klik-klik-klik, lalu musik dimulai. Lagipula, memutar piringan hitam juga membuat Anda harus bersabar – jika di era digital kita mengenal fitur shuffle, vinyl tentu saja tak memilikinya. Slow experience.

Apa yang dikatakan oleh Simon Poole ini membuat saya tiba-tiba ingin mempunyai turntable alias pemutar piringan hitam. Karena yang ia katakan memang sangat menohok!

Tapi mengoleksi piringan hitam atau vinyl memang memiliki konsekuensi materi yang besar. Pemutarnya tidaklah murah, album-albumnya pun demikian. Turntable yang baru dan standar, jika ingin membeli secara online, harganya sekitar 99 USD, misalnya turntable Crosley yang memang terkenal ini, tapi entah apakah ia bisa dikirim ke Indonesia atau tidak, dan apakah kita akan kena biaya cukai yang tinggi atau tidak (saya rasa iya). Sebuah toko records di Kemang juga menjualnya, sebetulnya, tapi harganya menjadi di atas 2 juta rupiah. Sementara harga satu album vinyl sendiri berkisar antara 150 ribu hingga 500 ribu rupiah. Modal besar.

Jadi untuk sementara ini, saya mundur dulu…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *