[CERPEN] Naif

[CERPEN] Naif

“Hati-hati di Jakarta, nduk. Banyak orang jahat! Pokoke kudu ngati-ati!” begitu pesan ibuku saat aku hendak berangkat ke ibukota. Demi menjaga perasaan ibuku, tentu saja aku menjawab, “Nggih, Bu.” Padahal dalam hati, aku ingin sekali membantah ucapan ibu dan anggapannya itu.

Selayaknya orang-orang daerah yang tak pernah pergi ke kota besar, ibu memang selalu memiliki pendapat buruk tentang Jakarta atau kota-kota besar lainnya. Baginya, Jakarta hanya diisi masalah. Ada banyak copet, rampok, preman, dan penjahat-penjahat lainnya – tak sedikit yang berdasi dan berjas. Belum lagi dengan kemacetan yang gila-gilaan. “Buat apa tho kamu ke Jakarta?” tanya ibu suatu kali.

Aku, yang sejak kecil berjiwa bebas, tak pernah mau dikungkung dengan kehidupan seadanya di desa kecil seperti ayah dan ibuku. Ada begitu banyak keterbatasan di tempat ini (minimarket pun berjarak tiga kilometer dari sini). Kota memang tak terlalu jauh, hanya 10 kilo, tapi itupun kota kecil yang tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan Jakarta atau Surabaya, kota-kota di mana roda ekonomi bergerak dengan cepat.

Aku tahu pendapat ibu sangat dipengaruhi oleh berita-berita di televisi dan surat kabar yang beliau konsumsi. Aku tidak menyalahkannya jika beliau memiliki pendapat yang sangat negatif soal ibukota. Toh yang diberitakan oleh media memang hanya keburukan saja. Peristiwa seorang ibu dan anak yang disandera oleh seorang rampok di dalam angkot, yang diberitakan dengan gencar oleh media beberapa hari yang lalu, misalnya, sampai membuat keberangkatanku ke ibukota hampir batal karena ibu berkata, “Kalau kamu tetep wani ke Jakarta, aku nggak bakal buka pintu rumah ini lagi buat kamu, nduk!

Apa boleh buat, ibu memang orang yang polos, yang menerima apa saja yang diberikan oleh media. Daripada menyalahkan ibu, aku lebih memilih untuk menyalahkan media yang selalu memberitakan hal-hal buruk saja dan hanya memberikan sedikit porsi pada berita positif.

Media-media yang memegang prinsip bad news is good news. Cih!

***

Aku memutuskan untuk menggunakan bus kota dari Pasar Senen untuk mencapai Kampung Rambutan. Untungnya, karena naik cukup awal, aku mendapatkan tempat duduk di pojok, dekat jendela. Hore!

Bus tidak berangkat sampai cukup terisi penuh, dan di sampingku, duduk dua orang laki-laki yang terlihat ramah. Kami bertukar sapa dan basa-basi; ia bertanya ala kadarnya seperti mau ke mana, dari mana, dan untuk apa ke Depok. Aku jawab untuk kuliah, dan satu dari mereka mengatakan dengan semringah bahwa ia juga dulu kuliah di Depok, namun di universitas yang berbeda. “Saya nggak sepinter Mbak!” katanya. “Ah, saya juga cuma beruntung, Mas,” jawabku.

Setelah basa-basi itu, keduanya asyik dengan ponsel masing-masing, sementara aku melihat ke luar jendela. Lalu memikirkan lagi kata-kata ibuku.

Aku bukan seorang penakut yang selalu khawatir akan sesuatu. Sejak kecil, aku seperti itu. Imbasnya, ibu lebih melihatku seperti anak laki-laki, walaupun tetap berusaha menjagaku untuk tetap seperti perempuan dengan terus memanggilku ‘nduk’. Selain itu, tak seperti ibu, aku meyakini bahwa dunia tidak sekejam yang digambarkan oleh media.

Aku masih mempercayai bahwa meski ada segenap orang jahat yang selalu diberitakan media, masih ada banyak orang baik yang luput dari pemberitaan. Misalnya saja, di bus kota ini. Dari puluhan orang yang ada di dalam bus ini, memangnya berapa banyak yang jahat? Aku yakin, tidak ada. Orang jahat memang ada, tapi itu di luar sana, dan sungguh naif jika terus mencurigai orang asing yang ada di sekeliling kita saat berada di ruang publik.

Hanya orang naif dan mereka yang terlalu banyak diam di rumah lah yang mempercayai bahwa ada banyak orang jahat di sekeliling kita, dan bahwa kita harus selalu waspada di manapun kita berada. Apakah kita harus menurunkan kepercayaan kita pada manusia sampai serendah itu?

Aku selalu ingat, bagaimana orang-orang yang tak dikenal selalu menolongku dalam berbagai kesempatan. Saat aku naik gunung untuk pertama kalinya, misalnya. Atau saat aku tersasar di kota, di daerah yang sama sekali tidak aku ketahui. Selalu ada orang asing yang dengan tulus membantuku. Sekali waktu, aku bahkan pernah menginap di sebuah rumah penduduk ketika aku dan kawan-kawanku melakukan perjalanan panjang dengan motor.

Orang baik itu ada, dan banyak. Dan itulah kenapa, aku masih terus memelihara kepercayaanku pada manusia.

Begitu lama aku melamun sampai tanpa sadar, aku jatuh tertidur. Aku baru terbangun setelah bahuku diguncang-guncang oleh kernet bus di Terminal Kampung Rambutan. “Neng, sudah sampai.” Bus pun sudah sepi, hanya tersisa aku seorang. Ternyata perjalanan kereta semalaman cukup membuatku kelelahan. “Ah, makasih ya, Bang!”

Aku pun turun, membawa tas besarku dan tas jinjingku. Aku lalu berjalan ke arah minimarket untuk membeli air minum karena air mineralku tertinggal di kereta. Namun belum sampai minimarket, aku berhenti. Tanganku mengaduk-aduk isi tas jinjingku, mencari dompet yang biasa aku taruh di sana. Tapi kali ini, ia tak ada di sana.

Aku lalu mencari ponselku di tempat yang sama. Juga tak ada. Aku yakin aku meletakan keduanya di sana, karena aku sempat membuka ponsel di dalam bus untuk memberitahu ibu kalau aku sudah sampai dan membuka dompet untuk membayar bus.

Dompet yang agak tebal karena berisi uang untuk membayar kos dan untukku bertahan di bulan pertama di sini.

Dan sekarang, ia tak ada.

Ibu, maafkan aku…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *