Cita-Cita Saya Setinggi Tiang Listrik

Cita-Cita Saya Setinggi Tiang Listrik

Rumah idamanmu… seperti apa?

Pikiran seperti itu tiba-tiba mampir di kepala saya ketika saya dalam perjalanan menuju Bekasi di atas motor saya yang setia menghadapi jalanan Kalimalang yang kejam itu. Tapi ini bukan hal baru, karena saya memang cukup sering memikirkan rumah idaman saya di masa depan. Bukan sesuatu yang aneh, misalnya, kalau saya sedang berjalan di komplek perumahan tante saya (di mana saya tinggal sekarang), saya sering melihat-lihat rumah yang berjejer dengan berbagai macam rupa. Lalu saya pun mulai menilai satu per satu: “Bagian depan rumah kok garasi semua,” “Atap di tempat mobilnya bikin rumah ini terkesan gelap,” “Duh, kok gak teratur amat pekarangannya,” dan sebagainya.

Untungnya, sebagaimana ambisi saya yang tak seberapa tinggi, keinginan saya akan rumah masa depan saya pun tak muluk-muluk. Tak perlu yang terlalu luas, asal ada ruang cukup untuk teras kecil di belakang untuk bersantai dan mungkin menaruh beberapa alat olahraga. Tak perlu bertingkat dua atau tiga, asal ada sebuah ruangan untuk saya bekerja, di mana saya bisa menyusun semua buku yang saya punya dan membuatnya menjadi sebuah perpustakaan pribadi.

Buat saya, rumah impian saya adalah yang punya dua unsur itu: teras belakang yang cukup untuk menaruh peralatan olahraga seperti treadmill (demi menghemat biaya gym!) dan ruangan kerja yang juga menjadi perpustakaan pribadi. Jika kelak saya mempunyai rumah dengan dua unsur itu, itu artinya, cita-cita saya ketika saya masih tinggal menumpang seperti sekarang ini tercapai sudah.

Kalau dipikir-pikir lagi, saya memang tak pernah punya cita-cita yang muluk-muluk.

Ketika anak-anak lainnya bercita-cita menjadi orang sukses yang bekerja di perusahaan besar, atau, jika ia lebih ambisius lagi, menjadi presiden atau menteri, saya hanya bercita-cita menjadi penulis atau jurnalis. Tak terlalu muluk, dan bukan cita-cita yang terlalu besar. Bahkan untuk cita-cita itu pun saya tak pernah punya ambisi yang besar: sejak dulu, saya hampir tidak pernah berpikir untuk menjadi yang terbaik. Saya tidak pernah ingin menjadi seorang penulis/jurnalis terbaik yang memenangi penghargaan dan sebagainya – saya hanya ingin menjadi penulis/jurnalis yang baik yang karya-karyanya dikenal dan disukai orang.

Bahkan saat ini, cita-cita saya yang ingin saya capai dalam jangka panjang juga bukan sesuatu yang besar: saya hanya sangat ingin mempunyai kafe-cum-perpustakaan seperti Kineruku di Bandung, di mana saya bisa mengurusnya setiap hari sambil tetap bekerja secara online di depan laptop saya. Serius. Entah kenapa, sejak kecil, impian dan cita-cita saya tak pernah begitu besar, begitu tinggi, dan begitu sulit dicapai.

Saya tak pernah punya ambisi untuk hidup begitu sukses dan begitu bergelimang harta. Hanya secukup yang saya perlukan untuk mewujudkan cita-cita saya itu.

Saya tak pernah memiliki impian menjadi orang besar. Keinginan terbesar saya hanyalah hidup damai.

Sesederhana itu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *