Haruskah Saya ke Pameran Buku?

Haruskah Saya ke Pameran Buku?

Dalam postingan sebelumnya, saya sudah menceritakan pengalaman buruk saya datang ke preview sale Big Bad Wolf 2017, salah satu bazar buku murah terbesar di Indonesia. Pertanyaannya kemudian: layakkah menghabiskan seharian penuh untuk belanja buku diskon?

Is it worth?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan membandingkan langsung harga buku-buku yang tersedia di BBW dengan harga di pasaran.

Dalam hal ini, saya membandingkan buku-buku yang saya beli dengan harga di toko buku daring. Untuk buku impor, saya membandingkannya dengan Book Depository, toko buku daring murah yang bebas biaya kirim ke seluruh dunia. Dan juga Amazon, seandainya buku tertentu tidak tersedia di Book Depository. Sementara untuk buku lokal, saya mengeceknya di toko daring Mizan.

Dan ini perbandingannya:

Catatan:

  • Semua harga dalam rupiah
  • Untuk mempermudah penghitungan, saya membulatkan harga toko daring ke atas dengan kelipatan Rp 5.000.
  • Saya sebisa mungkin mencari edisi buku yang sesuai dengan yang saya beli karena harga buku di setiap terbitan/edisinya bisa berbeda.
  • Beberapa buku hanya tersedia harga dalam dolar AS, jadi saya mengonversinya menjadi rupiah dengan menggunakan kurs Rp 13.000.
  • Toko buku daring yang saya gunakan sebagai perbandingan adalah Book Depository, Amazon, dan Mizan.
  • Ya, saya beli Ayat-Ayat Cinta. Bukan titipan.

Hasil hitung-hitungan di atas menunjukkan kalau saya hanya mengeluarkan 34,8% uang dari jumlah yang seharusnya saya bayarkan jika membeli buku-buku di atas secara daring. Persentase ini bisa lebih kecil lagi jika kita menghitung ongkos kirim yang dibebankan oleh Amazon dan Mizan (Book Depository tidak membebankan ongkir ke pembeli, padahal mereka mengirimkan buku dari UK. Entah bagaimana caranya).

Itu perbedaan yang cukup jauh. Dan jika hanya melihat nilainya saja, kunjungan saya jauh-jauh ke BSD City dan mengantri di kasir selama 2,5 jam untuk mendapatkan buku-buku di atas tentu terlihat layak (worth).

Tapi di luar nilai uang di atas, ada aspek lain yang perlu kita lihat juga.

Satu aspek yang menurut saya perlu untuk ikut diperhitungkan adalah: apakah itu adalah buku-buku yang memang saya cari/masuk dalam daftar beli saya sebelum saya datang ke BBW?

Jawabannya adalah: sebagian besar, tidak!

Dari daftar di atas, hanya sekitar empat buku yang memang ingin saya beli dan saya niatkan untuk koleksi (Wind/Pinball, The Da Vinci Code, The Dark Phoenix Saga, dan, ehm… Ayat-Ayat Cinta). Sisanya, saya beli dengan alasan harganya murah dan saya cukup tertarik untuk mengoleksinya.

Menambah koleksi memang bagus, tapi imbasnya, bujet saya untuk membeli buku-buku yang memang niatkan beli (seperti The Emperor of Maladise, Homo Sapiens, dan komik-komik Saga) sudah terpakai. Artinya, saya harus menunggu lebih lama untuk bisa membelinya. Ini adalah nilai minus yang muncul dari aktivitas belanja saya di BBW 2017, yang menurut saya mengurangi nilai kelayakan usaha saya menghabiskan seharian penuh untuk belanja di sana.

Lalu, apakah saya perlu ke BBW lagi tahun depan?

Mengapa perlu ke BBW atau bazar buku lainnya dan apa yang perlu dilakukan

Jawabannya adalah, ya, perlu.

Menurut saya, BBW adalah bazar yang sangat menarik untuk dikunjungi, terutama jika antrian kasirnya tidak seperti hari preview sale yang saya alami kemarin. Harganya memang jauh lebih murah daripada toko daring termurah sekalipun, dan bisa mendapatkan buku yang selama ini diidam-idamkan dengan harga yang masuk akal (seperti The Dark Phoenix Saga yang memang saya inginkan sejak lama) adalah hal yang sangat-sangat menyenangkan.

Jika kamu belum datang ke BBW (atau bazar buku lainnya) dan berniat datang ke sana, saran saya, jika ingin mendapatkan diskon yang maksimal, carilah buku-buku hardback atau buku-buku komik Amerika. Dari yang saya lihat, dua jenis buku inilah yang selisih harganya dengan harga asli lebih jauh ketimbang buku-buku paperback, apalagi jika ‘hanya’ novel.

Karena setelah menghitung-hitung seperti di atas, saya jadi cukup menyesal terlalu banyak membeli novel paperback padahal masih ada komik yang ingin saya beli dan saya yakin selisih harganya lebih besar. Yah, setidaknya ini sebuah pembelajaran bagi saya jika ingin pergi lagi ke acara yang sama tahun depan.

Tapi, jika saya benar-benar datang tahun depan, sepertinya saya harus datang dengan mindset yang berbeda, dengan niat yang berbeda; tahun depan, saya harus datang dengan niatan saya mencari buku yang memang ingin saya beli.

Begini, masalahnya dengan buku di era digital saat ini adalah semakin sedikit waktu kita untuk membeli buku. Lalu buat apa kita membeli begitu banyak buku jika pada akhirnya kita tidak sempat membacanya?

Belilah buku yang memang ingin kamu baca, atau mungkin ingin kamu koleksi. Setidaknya, usaha dan uang yang dikeluarkan di bazar buku murah seperti BBW ini akan jauh lebih terasa manfaatnya ketimbang hanya menghabiskannya untuk membeli buku-buku yang sebetulnya tidak kita perlukan tapi kita beli dengan alasan harganya super murah.

Karena pada akhirnya, yang perlu kita pertimbangkan bukan hanya selisih nilai harga buku dibandingkan dengan harga di luar bazar. Tapi juga apakah buku yang ingin kita beli itu memberikan nilai tambah bagi hidup kita (dalam artian membantu kita mengurangi daftar wishlist) atau tidak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 7 comments for this article
    • ekkyrezky Author at 2:04 pm

      Kayaknya ada mas. Saya juga belum pernah ke sana tengah malam, tapi kalau liat dari tweet-tweet/mention ke akun BBW tengah malam memang lebih lega.

      Setau saya sekarang antriannya jauh lebih manusiawi kok walau dateng siang juga, gak kayak preview sale.

  1. wanda syafii at 3:44 pm

    belom pernah ke bbw. tapi denger cerita dari kawan-kawan sih kok ya kasian banget. nunggu berjam-jam dan kasirnya juga suka error. kalo diliat dsri perbandingan harga yang mas rizky tunjukin sih emang terasa ya bedanya. nggak heran orang-orang rela ngantri lama…

    mantap post mas 🙂

    • ekkyrezky Author at 12:28 pm

      Makasih mas sudah berkunjung.

      Iya hari pertama memang separah itu. Tapi sepertinya hari kedua dan seterusnya gak separah itu, beberapa temen bilang kalau mereka antri normal, paling lama setengah sampai satu jam.

      Ya walaupun koleksinya gak sebanyak hari pertama sih. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *