Dua Hari di Cilacap

Dua Hari di Cilacap

Bagi yang terbiasa tinggal di kota besar, mungkin hidup di kota kecil seperti Cilacap adalah sesuatu yang tak bisa dibayangkan.

Cilacap memang tak benar-benar kecil; pada akhirnya, ini adalah sebuah kota di Pulau Jawa yang cukup vital keberadaannya karena keberadaan perusahaan minyak yang membuka kilang minyak di sana, dan juga karena Nusakambangan, pulau kecil yang letaknya hanya sepelemparan batu dari kota Cilacap.

Tapi jika dibandingkan dengan kota-kota besar (bahkan jika dibandingkan Bandar Lampung, kota kelahiran saya), Cilacap terhitung kecil.

Anda bisa merasakannya langsung ketika turun dari Kereta Purwojaya, satu-satunya kereta yang menghubungkan Jakarta dan kota Cilacap*. Stasiun Cilacap adalah stasiun yang terhitung kecil, meski tak sekecil stasiun-stasiun mini yang bisa Anda lihat ketika menggunakan kereta menuju kota-kota jauh di Pulau Jawa – stasiun-stasiun kecil yang kebanyakan hanya dilewati tanpa dihampiri kereta-kereta dari Jakarta.

Cilacap

Anda bisa merasakannya ketika berjalan kaki pagi-pagi dari stasiun ke Alun-Alun Kota Cilacap. Sementara anak-anak sekolah dasar di kota besar banyak diantar menggunakan kendaraan bermotor, Anda bisa melihat anak-anak kecil ini pergi ke sekolahnya menggunakan sepeda.

Rasanya, terakhir kali saya melihat anak sekolah pergi ke sekolahnya menggunakan sepeda adalah ketika masih tinggal di Jogja, dan sudah lama sekali sejak saya pindah dari kota yang kini diterjang ombak pembangunan hotel dan mall itu.

Rasanya menyenangkan – melihat kehidupan kota kecil yang memiliki napas berbeda meski masih berada di pulau Jawa.

(*Catatan: Memang ada beberapa kereta ekonomi seperti Serayu yang melewati beberapa stasiun di wilayah Kabupaten Cilacap seperti Stasiun Kroya atau Gandrumangun, tapi letaknya cukup jauh dari kota.)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *