Empat Jam di Bandara

Empat Jam di Bandara

I have a long way to go
But there are no taxis
And it feels like it’s gonna rain
The weight of today on top of my sagging shoulders
I wanna put it down for a moment
Home is far away

Epik High ft Hyukoh – Home is Far Away

DSC04782

Sebisa mungkin, ketika saya harus pergi ke bandara untuk pergi entah ke mana, saya akan selalu datang jauh lebih awal.

Bukan, bukan karena takut ditinggal pesawat karena terjebak macet di jalan tol menuju bandara. Saya hanya sangat suka duduk di bandara, melihat orang lalu lalang dengan koper atau ransel mereka, entah akan pergi atau baru tiba dari suatu tempat yang jauh.

DSC04820

Pernah, suatu kali, saya sampai menginap di bandara hanya memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Tak ada alasan khusus; hanya ingin melihat orang bepergian, entah itu untuk urusan bisnis, keluarga, atau hanya liburan.

DSC04724

Sangat menyenangkan bisa melihat begitu banyak manusia yang berbeda bertemu di bandara. Ada yang bepergian dengan pakaian seadanya, tapi ada juga yang mengenakan pakaian mewah yang tak lupa dipercantik dengan kacamata hitam dan perhiasan di leher dan lengan.

DSC04762

Waktu itu, saya memang sedang tidak ada rencana untuk pergi jauh karena kondisi keuangan yang pas-pasan. Untuk mengobati kerinduan akan ‘bepergian’, saya memilih cara termurah; naik damri ke bandara, lalu bermalam di sana.

Terminal 3 baru yang mungil tapi modern masih beroperasi ketika itu, dan menginap di sana adalah pilihan terbaik yang bisa saya ambil.

DSC04811

Bagi saya ketika itu, bandara bukan sekadar titik di mana saya bisa melihat pelancong bepergian, tapi juga simbol kemewahan yang tak bisa saya nikmati karena harga tiket pesawat, meski sudah jauh lebih murah ketimbang bertahun-tahun sebelumnya, masih terlalu mahal untuk seorang kantong mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu untuk bisa menikmati hidup sebagai anak muda di kota besar.

Bandara juga sebuah tempat yang begitu kental dengan romantisme; dan saya rasa alasan ini pula yang membuat Rudy Sudjarwo memilih bandara sebagai tempat perpisahan Rangga dan Cinta; bukan terminal atau stasiun.

DSC04743

Itulah mengapa, bertahun-tahun kemudian, ketika saya sudah bisa memiliki uang yang cukup untuk membeli tiket pesawat untuk pergi ke manapun yang perlu saya kunjungi, saya selalu memilih pesawat – bahkan juga untuk pulang ke Lampung, yang jaraknya hanya 50 menit penerbangan.

Bukan hanya karena pesawat adalah moda transportasi massal tercepat yang bisa manusia ciptakan hingga saat ini, tapi karena saya selalu menikmati perjalanan ke dan waktu-waktu saya di bandara.

DSC04787

Sore ini, saya bahkan berangkat empat jam sebelum waktu penerbangan saya ke Lampung. Menikmati waktu-waktu menunggu penerbangan dengan mendengarkan ‘Home is Far Away‘ dari album baru Epik High, meresapi suara Hyukoh yang bersenandung pilu di chorus-nya.

Home is so far away..

DSC04832

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article
  1. Andhikamppp at 8:47 am

    Untuk mengobati kerinduan akan ‘bepergian’, saya memilih cara termurah; naik damri ke bandara, lalu bermalam di sana.

    Ini sebuah dedikasi yang luar biasa untuk ‘hobby’ 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *