Fokus ke Artikelnya, Bukan ke Penulisnya!

Fokus ke Artikelnya, Bukan ke Penulisnya!

Linimasa saya, yang kebanyakan diisi oleh akun atau orang-orang penggemar bola, sedang ramai dengan pembicaraan terkait seri artikel investigasi Tirto terbaru tentang kepemilikan klub-klub di Indonesia. Kemarin, empat artikel dalam seri ini diluncurkan oleh Tirto, dengan tiga artikel terkait kepemilikan Persija Jakarta sementara satu artikel lainnya terkait kepemilikan Bhayangkara FC, sang jawara Liga 1 2018.

Walau artikel terkait Bhayangkara FC sebetulnya sangat menarik, fokus publik, tentu saja, mengarah ke tiga artikel lainnya terkait Persija Jakarta. Tirto mengungkap bagaimana Joko Driyono, Wakil Ketua Umum PSSI sekaligus Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI, ternyata merupakan pemilik saham mayoritas di Persija, lewat perusahaan yang ia miliki, PT. Jakarta Indonesia Hebat.

Publik pun geger. Pemilik Persija ternyata salah satu orang tertinggi di PSSI (bahkan sebetulnya yang tertinggi sekarang menyusul cutinya Edy Rahmayadi yang fokus ke Pilkada Sumatera Utara), dan tentu saja fakta ini kemudian menjadi pembicaraan karena tentu saja, ketika seorang petinggi organisasi sepakbola diketahui ternyata memiliki salah satu klub terbesar di negeri ini, akan muncul dugaan-dugaan negatif.

Semakin geger lagi karena artikel ini disambut oleh para pendukung Persib Bandung, yang sepanjang musim lalu dijuluki ‘Anak Emas’ karena keberadaan beberapa petinggi klub di tatanan organisasi operator liga, termasuk sang bos, Glenn Sugita, yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT. Liga Indonesia Baru.

Sementara itu, sebagian penggemar Persija di dunia maya pun gerah dengan pengungkapan ini. Ya bagaimana tidak, sekarang, mereka bisa jadi ‘sasaran’ tagar #AnakEmas yang musim lalu hanya dilekatkan ke Persib, rival besar mereka. Yang menarik, artikel-artikel Tirto ini pun dipertanyakan, dan latar belakang Aqwam Fiazmi Hanifan, sang penulis utama, sebagai pendukung Persib diungkit.

Imbasnya, tercipta situasi yang aneh: alih-alih memunculkan diskusi publik terkait janggalnya sistem kepemilikan klub di Indonesia, artikel-artikel yang memicu kegerahan sebagian orang ini malah menghadirkan tuduhan-tuduhan yang tidak enak: bahwa Tirto dan Aqwam bias, sengaja mengeluarkan artikel ini untuk menjatuhkan Persija. Bahwa sengaja timing-nya dibuat pas saat ini, ketika Persija tengah ‘di awan’ karena keberhasilan mereka merebut gelar juara Piala Presiden 2018 dan meraih kemenangan di Piala AFC 2018.

Kritik yang muncul ke artikel-artikel Tirto ini pun tidak menyoal konten, tapi soal kredibilitas sang jurnalis.

Walau ini bisa dimengerti, tapi rasanya sungguh disayangkan. Artikel-artikel sebagus itu, yang saya yakin disusun dengan penuh kerja keras, pada akhirnya hanya dinilai berdasarkan latar belakang sang penulis. Padahal sudah jelas bahwa kontennya sangat bagus dan sulit untuk disanggah: ini bukan artikel opini yang dibuat berdasarkan rumor-rumor belaka, tetapi lewat penelusuran data dan konfirmasi pihak-pihak terkait.

Jika semua artikel itu hanya artikel opini yang data dan argumennya tidak bisa dipertanggungjawabkan, wajar lah jika kredibilitas Aqwam dipertanyakan. Lha ini datanya ada (walau memang akta kepemilikan Persija tidak dilampirkan dalam artikel), konfirmasi ke Gede Widiade dan Joko Driyono pun ada. Keduanya sudah mengakui. Lalu apa yang salah? Tidak ada. Dan karena itu, tidak ada yang bisa menyerang konten artikelnya. Serangan hanya ditujukan pada Aqwam selaku penulis, dengan anggapan ‘ah dia kan pendukung Persib, pantes mau menyerang Persija!’.

Meski ini bisa dimengerti – pada akhirnya Aqwam memang tidak bisa mengelak dari tuduhan ‘pendukung Persib’ – tapi tuduhan-tuduhan ini terlalu lemah. Apakah hanya karena dia pendukung Persib, lantas hasil investigasinya menjadi tidak valid? Lagipula, kredibilitas seorang jurnalis tidak bisa dilihat hanya dari afiliasinya terhadap satu pihak tertentu. Kita juga harus melihat rekam jejak Aqwam sebagai salah satu jurnalis investigatif era digital yang memang jempolan: dia pernah meliput langsung perang Filipina dengan ISIS di Marawi, juga melaporkan investigasi pencurian bangkai kapal perang Belanda yang bahkan menyita perhatian Belanda dan Inggris. Lagipula, tahun lalu, ia pun sudah menulis soal siapa di balik banyaknya sponsor di jersey Persib Bandung dan gurita ‘kuasa’ sang bos Persib. Apakah

Ketika Gary Neville mengritik habis-habisan Arsenal atau Liverpool, apakah orang lantas menganggap kritik-kritiknya dibuat hanya karena ia adalah mantan pemain sekaligus pendukung Manchester United?

Hal yang sama pun bisa kita tanyakan dalam kasus ini: apakah hanya karena dia pendukung Persib Bandung, lantas laporan sang jurnalis tentang Persija Jakarta merupakan produk dari sikap dan pikiran ‘bias’ sang jurnalis?

Ketika isinya bisa dipertanggung jawabkan dan dinilai objektif, tentu saja jawabannya adalah tidak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *