Membeli Gadget Mahal, Layakkah Harga yang Dibayar?

Macbook Air adalah gadget termahal yang pernah saya beli. Ditebus menjelang pertengahan 2015 lalu, laptop tersebut mendadak mati total pada Desember 2018. Ironisnya, ia tak bisa diperbaiki walau sudah berpindah tempat servis hingga tiga kali. Masalah ini kemudian membuat saya bertanya-tanya sendiri: apakah layak membeli gadget mahal?

Sejak digunakan hingga mati total, usia Macbook Air saya hanyalah 2,5 tahun. Ini jauh dari yang saya ekspektasikan dulu: saya berharap Macbook Air saya bisa bertahan hingga 4 tahun atau lebih. Terlebih, hingga menjelang kematiannya, gadget mahal yang satu ini tidak mengalami penurunan performa saat digunakan sehari-hari – satu-satunya yang alami penurunan adalah performa baterainya saja.

Wajar, tentu, kalau saya kemudian jadi bertanya-tanya sendiri. Ini tentu saja jadi bahan pertimbangan saya untuk (mungkin) membeli laptop baru di masa depan. Apakah saya akan membeli laptop mahal lagi, atau beli saja yang biasa-biasa dengan harga yang tak terlalu mahal pula?

Saya cukup beruntung bisa menggunakan gadget mahal dalam bentuk laptop, ponsel, atau bahkan headphone. Saya beruntung punya penghasilan yang cukup untuk bisa menikmati privilese itu. Tetapi sebelum bisa menikmati “kemewahan” gadget mahal tersebut, saya juga pernah merasakan pengalaman dengan gadget-gadget berharga “biasa”: laptop saya sebelum Macbook Air adalah HP low-level, dan ponsel saya sebelum Samsung Galaxy S8 adalah Xiaomi Redmi Note 3. Headphone saya sebelum Sennheiser HD 4.40 pun hanya earphone yang harganya hanya sepersepuluhnya.

Kondisi tersebut membuat saya bisa membandingkan dua dunia yang berbeda ini. Dan bagi saya kesimpulannya tetap sama: gadget mahal memang layak dibeli karena memberikan begitu banyak keuntungan yang jauh lebih besar daripada menggunakan gadget “biasa”.

Tentu saja, tingkat kelayakan gadget mahal ini perlu ditimbang juga dengan kebutuhan personal kita. Misalnya, saya tidak membutuhkan sebuah Macbook Pro seharga Rp 40 juta karena saya memang tidak membutuhkan laptop dengan spesifikasi begitu wah – toh, saya hanya menggunakannya untuk menulis, membuat presentasi, membuka belasan tab di Google Chrome, menonton video, atau, paling maksimal, mengedit foto di Lightroom. Saya pun tidak membutuhkan smartphone dengan harga yang tak masuk akal seperti Samsung Galaxy S10+ 1TB yang sampai Rp 24 juta (buat apa?!).

Tetapi pengalaman menggunakan Macbook Air (versi lama) yang harganya hanya Rp 15 juta tentu saja akan sangat berbeda dengan laptop Dell yang harganya hanya Rp 6 juta. Saya tidak mendapatkan performa yang secepat Macbook Air, laptop seringan Macbook Air, dan pengalaman minim hang seperti di Macbook Air. Imbasnya, saya juga bisa bekerja dengan jauh lebih lancar dengan Macbook Air daripada Dell yang harganya kurang dari setengahnya.

Begitupun dengan smartphone. Dengan S8, saya bisa menggunakannya untuk melakukan banyak hal, bahkan termasuk mengedit artikel atau menulis blog di sana. Hal tersebut sulit (walau bukan tidak bisa) dilakukan di Redmi Note 3 saya yang lama karena performanya tidak semulus S8. Singkatnya, pengalaman dalam menggunakannya pun berbeda, dan, karena saya menggunakannya juga untuk kegiatan yang produktif yaitu untuk pekerjaan, manfaat yang saya rasakan pun berbeda.

Ini belum menghitung gengsi yang berbeda juga – perasaan meeting dengan klien sambil membawa Macbook Air tentu berbeda dengan saat membawa Dell yang bertubuh tebal dan lambat (kalau Dell XPS 13 yang tipis dan mahal sih… beda cerita). Tidak bisa disangkal: menggunakan gadget mahal, tentu, akan mengerek gengsi Anda walau Anda jelas tidak boleh menggunakannya sebagai alasan utama untuk membuang banyak uang untuk membelinya.

Ya kecuali Anda memang punya terlalu banyak uang, sih.

Jadi apakah layak membeli gadget mahal? Bagi saya, layak. Pertimbangannya kemudian adalah, apakah Anda benar-benar membutuhkannya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here