Harta yang Paling Berharga Memang Keluarga

Harta yang Paling Berharga Memang Keluarga

Saya beruntung bisa lahir di sebuah keluarga yang berkecukupan. Tapi di atas itu, saya merasa lebih beruntung lagi karena saya lahir di keluarga yang memiliki hubungan yang sangat baik satu sama lain.

Saya tumbuh di keluarga yang memiliki hubungan yang dekat, baik keluarga inti maupun keluarga besar. Saya tetap bisa terus merasa dekat dengan ayah ibu dan adik-adik saya meskipun saya sudah belasan tahun hidup terpisah dengan mereka. Saya dekat dengan Om-Tante saya (atau setidaknya tetap berhubungan baik), dan saya juga beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk dekat (dan masih terus dekat) dengan almarhum Datuk-Mamam (kakek-nenek dari ibu) dan Mbah Kakung-Mbah Putri (dari almarhum ayah) saya.

Keluarga-1

Meski sepintas terlihat bukan sesuatu yang istimewa, saya tahu bahwa tidak semua orang seberuntung saya. Ada anak-anak yang tidak bisa dekat, dalam artian bisa mengobrol dengan akrab, dengan ayah-ibunya meski tinggal serumah hingga sang anak dewasa. Ada anak-anak yang tak bisa akur dengan kakak atau adik kandungnya sendiri ketika beranjak dewasa, meski saat kecil mereka memiliki hubungan yang baik dan bahkan biasa bermain bersama. Ada juga mereka yang tak sempat bisa dekat dengan kakek-neneknya, atau merasa asing dengan om-tante-nya sendiri.

Saya beruntung hal itu tidak terjadi pada saya.

Keluarga-2

Karena di luar keberuntungan soal materiil (bahwa kita berasal dari keluarga yang berkecukupan meski bukan yang benar-benar berada), keberuntungan akan hubungan yang erat antar anggota keluarga adalah hal terpenting yang saya rasa patut disyukuri. Tidak semua orang bisa merasakan kehangatan keluarga yang seperti itu, meski memang pada hakikatnya, keluarga adalah orang-orang yang seharusnya bisa memiliki hubungan paling dekat dengan diri kita.

Awalnya, saya selalu sulit untuk menerima fakta bahwa tidak semua keluarga berfungsi layaknya keluarga saya. Tidak semua anak bisa memiliki hubungan yang begitu akrab dengan orang tua dan saudara kandungnya. Sering saya berpikir, “Kok bisa sih?!” ketika melihat hubungan yang tak harmonis itu dengan jelas di depan mata saya. Tetapi kemudian saya mulai menyadari bahwa memang tidak semua keluarga bisa berkembang seperti keluarga saya – ada anak-anak yang tidak bisa akrab dengan orang tuanya (terutama setelah mereka berkembang menjadi dewasa), dan ada orang tua yang tidak bisa terlalu akrab dengan anak-anaknya. Ada juga hubungan kakak-adik yang juga bernasib serupa; akrab saat kecil, tapi kemudian berjalan sendiri-sendiri ketika berkembang dewasa.

Semuanya sangat bergantung pada dinamika di dalam keluarga dan terutama, bagaimana orang tua bisa menekankan pentingnya hubungan keluarga. Orang tua saya, misalnya, selalu menekankan komunikasi dan pentingnya hubungan keluarga. Hal itu kemudian berimbas besar pada, misalnya, bagaimana hubungan saya dengan adik-adik saya, terutama adik yang yang paling besar. Kami hanya terpaut tiga tahun, dan sempat ‘menjauh’ ketika saya beranjak SMP-SMA, meski kami tetap tinggal bersama di Jogja. Tapi doktrin yang terus menerus ditanamkan ayah dan ibu itu membuat kami mendekat kembali ketika kami kuliah, dan hal itu terus bertahan hingga sekarang. Kami memang bukan kakak-adik paling kompak dan di dunia – kami tidak memiliki hubungan yang begitu dekat layaknya sahabat, tetapi kami memiliki keakraban yang tidak saya lihat di beberapa hubungan kakak-adik yang lain.

Keluarga-3

Komunikasi jugalah yang membuat saya dan orang tua saya bisa tetap dekat meski bertahun-tahun saya sudah tinggal jauh dari mereka. Saat saya SMP-SMA di Jogja, misalnya, saya hanya bisa pulang satu atau dua kali dalam setahun, tapi toh kami tetap bisa memiliki hubungan akrab, di mana saya bisa memiliki komunikasi yang lancar dan bahkan bercerita apa saja dengan keduanya. Itu karena saya dan orang tua selalu berkomunikasi sejak kecil, dan komunikasi itu terus dipertahankan orang tua ketika saya beranjak besar.

Saya kemudian tersadar bahwa kunci dari semua ini adalah orang tua. Dan saya pun belajar, bahwa inilah yang juga akan saya tekankan jika saya menjadi orang tua kelak. Saya ingin meneruskan nilai-nilai yang membuat saya merasa beruntung itu pada anak-anak saya nantinya, bahwa keluarga adalah hal utama yang harus didahulukan daripada yang lain.

Karena pada akhirnya, saya bukan beruntung karena memiliki hubungan yang begitu dekat dengan keluarga saya sendiri, tapi saya beruntung memiliki orang tua yang begitu menekankan pentingnya keluarga sejak saya masih kecil.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *