“Hmmm… Naik Motor, Ya?”

“Hmmm… Naik Motor, Ya?”

Pada tahun kedua saya di universitas, saya menyukai seorang teman satu jurusan. Selama kuliah, saya memang gampang sekali suka dengan seseorang – tapi yang satu ini cukup istimewa karena satu alasan: perempuan ini memenuhi berbagai aspek perempuan ‘impian’ saya. Kecantikannya unik dan eksotis – ia memiliki tipe wajah yang unik dan berbeda dengan perempuan-perempuan cantik lainnya, terlihat Chinese (walau belakangan saya baru mengetahui kalau dia bukan Tionghoa), dan, cerdas.

Masalahnya, ia kaya raya – dan sebagai anak desa yang baru datang ke Jabodetabek, biasanya saya sangat minder di hadapan perempuan-perempuan seperti ini. Pada akhirnya, saya memang minder, tapi kemudian saya tetap mencoba mendekatinya karena, ya itu tadi, dia memenuhi berbagai aspek perempuan ‘impian’ versi saya.

Saya tidak tahu apakah ini naif atau bagaimana; tapi ketika itu, saya memang sangat ‘bodo amat’ saat mendekati perempuan. Dalam artian, saya tidak merasa malu mendekati seorang perempuan yang, istilahnya, ‘berkasta di atas saya’. Atau sangat berbeda dengan saya, termasuk agama. Saya suka, saya dekati, saya tunjukkan. Seperti itulah kira-kira motto saya ketika itu… motto yang jelas bikin saya gagal total selama tiga setengah tahun berkuliah.

*tertawa miris dalam hati*

Karena kos kami yang searah, terkadang kami jalan pulang bersama atau tak sengaja bertemu saat berangkat kuliah. Kami pun mengobrol segala macam hal. Suatu kali, saya memberanikan diri mengajak ia ‘jalan’. Saya mengajaknya menonton film di bioskop di mall terbesar di Depok.

Awalnya, ada sambutan yang positif. Walau tidak dijawab dengan muka tersipu malu ala-ala perempuan di film atau sinetron ketika diajak jalan gebetan yang disukainya, ia menjawab, “Boleh aja sih.” Tapi kemudian, ketika saya menanyakan sekali lagi untuk memastikan kapan dia bisa pergi menonton, dia bertanya seperti ini: “Emmm… Naik motor, ya?”

Satu pertanyaan pendek itu saja sudah cukup untuk meruntuhkan segala optimisme dan kepercayaan diri saya saat itu. Hanya satu pertanyaan, tetapi seolah menekankan satu hal yang, mungkin, sudah saya tahu dalam hati: saya tidak punya peluang sekecil apapun, untuk mendapatkan hati perempuan yang kastanya lebih tinggi seperti dirinya.

Hingga saat ini, kisah itu masih terus menghantui saya, apalagi setelah saya mengetahui, bertahun-tahun kemudian, kalau perempuan yang sama bercerita kepada teman-temannya soal kisah ini. Seorang kawan bercerita soal itu ketika kami bekerja bersama, tentu saja sambil tertawa-tawa. Tentu saja saya juga ikut tertawa, walau dalam hati, rasanya sakit sekali.

Tetapi di sisi lain, cerita tentang kejadian tersebut juga mengingatkan saya betapa beruntungnya saya memiliki Yohanna Deony sebagai istri saat ini.

Dengan segala kekurangan yang ia miliki, ia adalah satu-satunya perempuan yang bisa memenuhi segala yang saya butuhkan dari seorang pendamping hidup: ia bisa menerima segala keadaan saya, baik fisik maupun mental; ia adalah perempuan yang terus mendampingi di titik tertinggi dan dalam titik terendah dalam hidup; dan, yang paling penting, ia mencintai saya begitu dalam. Bagi saya, tidak ada yang lebih berharga dari ketiga hal tersebut, dan saya mendapatkannya dari seorang Deony.

Ada banyak sekali momen yang bisa saya ceritakan untuk membuktikan ketiga aspek tersebut, tapi rasanya tidak ada yang lebih luar biasa daripada ketika ia mendampingi saya melewati empat bulan menganggur padahal belum saya baru mulai mencicil sebuah sepeda motor… yang saya ambil dengan cicilan hanya selama setahun. Itu adalah kondisi yang luar biasa sulit: dengan tabungan hanya dua kali dari gaji bulanan saya sebelumnya, saya harus bertahan selama empat bulan dengan tanggungan kos dan cicilan motor yang besar.

Tapi perempuan yang satu ini tetap bertahan. Terus mendorong saya untuk berusaha, mengangkat saya ketika mental saya jatuh, dan bahkan membantu finansial saya ketika saya butuh.

Deony bahkan sebetulnya punya kesempatan untuk kabur sejak awal kenal dengan saya.

Ketika pertama kali kami bertemu dan ‘jalan’, saya harus pergi dengan motor pinjaman karena motor saya sedang bermasalah. Dua bulan kami jalan dengan mengandalkan motor pinjaman yang kondisinya juga jauh dari kata bagus, tapi ia bertahan.

Momen-momen seperti inilah yang kemudian membuat saya yakin untuk menikahinya. Untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup.

Tentu saja, sebagai dua manusia dengan latar belakang yang sangat berbeda, ada banyak keraguan yang sempat melanda. Tapi ketika mengingat kembali momen-momen luar biasa yang kami lewati bersama, momen-momen yang bisa saja membuat ia pergi memilih laki-laki lain, saya hanya bisa berpikir, “Apa lagi yang ingin saya cari?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *