Tim yang Disanksi FIFA Setahun Penuh Itu Melaju Hingga ke Final…

Tim yang Disanksi FIFA Setahun Penuh Itu Melaju Hingga ke Final…

Artikel ini juga diterbitkan di FourFourTwo Indonesia. Klik di sini untuk membacanya di FFT…

Sebagai penyuka sepakbola, ada banyak pertandingan yang pernah saya saksikan (kebanyakan di depan layar kaca, tentu) dan selalu saya ingat sampai bertahun-tahun mendatang. Saat AS Roma mengalahkan Parma 3-0 yang memastikan gelar scudetto 2001, misalnya. Atau kemenangan Italia atas Jerman di semifinal Piala Dunia 2006. Bahkan pertandingan yang tak penting-penting amat tapi sangat berkesan seperti kemenangan 2-1 Chelsea atas Stoke City yang dramatis di musim 2008/09.

Pertandingan semifinal leg kedua AFF Suzuki Cup 2016 yang berkesudahan Vietnam 2-2 Indonesia pun, sepertinya, akan bersanding dengan pertandingan-pertandingan dramatis yang akan terus saya kenang. Bukan hanya karena hasil imbang yang membuat Indonesia, di luar dugaan, berhasil lolos ke final Piala AFF meski merupakan underdog di turnamen tahun ini. Tapi juga karena drama-drama yang terjadi di atas lapangan Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, selama 120 menit lebih malam tadi (7/12/2016).

Seakan sudah ditakdirkan dari awal (“Ini rencana Tuhan,” tutur Boaz Solossa, kapten kita, pasca pertandingan), pertandingan ini sangat menegangkan sejak awal pertandingan. Meski diberitakan para pemain tampak rileks sebelum pertandingan, kenyataan di lapangan berbeda; hampir semua pemain tidak bisa membuang bola dengan tenang, terburu-buru memberikan umpan, dan seringkali salah mengantisipasi lawan.

Tidaklah adil memang jika menyebut keberhasilan ini disebabkan oleh keberuntungan, tetapi aspek itu memang cukup terasa di sepanjang pertandingan. Merah Putih cukup beruntung Vietnam tidak mampu menyerang dengan lebih baik lagi sehingga tak terlalu banyak peluang berbahaya yang mengarah ke gawang Kurnia Meiga.

Jangan salah, pemain-pemain bertahan Indonesia bermain baik memang, terutama Fachruddin Aryanto yang luar biasa, tapi seandainya Nguyen Van Quyet dkk. juga bermain lebih tenang, mereka mungkin bisa lebih mengancam gawang Indonesia di babak pertama.

Drama dalam pertandingan ini muncul dalam berbagai jenis dan kesempatan: ada sundulan Le Cong Vinh yang mengenai tiang gawang, ada keputusan-keputusan wasit yang kurang menguntungkan Indonesia, dan, tentu saja, ada gol-gol yang di luar dugaan.

Tapi drama sebenarnya baru dimulai ketika umpan silang (atau tendangan cungkil?) Boaz Solossa mengenai tiang gawang, salah diantisipasi bek kiri Vietnam, Tran Dinh Dong, dan membuat Stefano Lilipaly bisa mencetak gol pembuka. Sebuah gol yang aneh dalam situasi yang aneh: Indonesia dibombardir Vietnam sejak awal laga, namun malah mencetak gol lebih dahulu dengan cara yang tak lazim.

Setelah itu, pertandingan ini berjalan semakin aneh: ada kartu merah yang mengejutkan untuk kiper The Golden Stars, Tran Nguyen Manh, karena menendang Bayu Pradana setelah terkena sikut gelandang Indonesia itu dalam sebuah duel udara di depan gawang. Ada Que Ngoc Hai yang harus menjadi kiper darurat karena Nguyen Huu Thang, pelatih Vietnam, telah menghabiskan jatah pergantian pemain. Dan ada keputusan Alfred Riedl untuk menarik Boaz, Lilipaly, dan Andik Vermansyah padahal Vietnam hanya bermain dengan 10 orang dan kiper mereka pun ‘kiper jadi-jadian’.

Ini gila. Kenapa Riedl malah lebih fokus mempertahankan keunggulan tipis daripada mencoba mencetak gol kedua yang akan, meminjam istilah Jose Mourinho, ‘membunuh’ pertandingan? Toh, logikanya, Indonesia hanya membutuhkan satu atau dua peluang tepat sasaran untuk bisa mencetak gol tambahan. Alih-alih, Riedl malah fokus untuk memperkuat pertahanan.

Riedl, bagi saya, seperti ‘mengkhianati’ kata-katanya sendiri bahwa bagi Indonesia saat ini, menyerang adalah pertahanan terbaik. “Dalam waktu sempit, sulit untuk mengubah gaya bermain, jadi kami berharap bisa terus mencetak lebih banyak gol dibandingkan lawan,” jelasnya menjelang semifinal leg pertama lalu. Keputusan Riedl untuk memainkan Manahati Lestusen sebagai gelandang bertahan memang patut diapresiasi – pemain 22 tahun ini bermain cukup baik di laga semalam – tapi bermain dengan cara aman seperti ini, dengan hanya memainkan Boaz sebagai penyerang tunggal, berarti Indonesia tampil lebih defensif dan Riedl seperti menelan kembali kata-katanya.

Faktanya, Indonesia memang tak punya kemampuan istimewa dalam bertahan. Lihatlah bagaimana Singapura bisa tetap mencuri gol ketika Indonesia bermain dengan formasi 4-5-1 di pertandingan ketiga babak grup lalu, atau lihat juga bagaimana Indonesia tak bisa-bisa mencatatkan clean sheet sama sekali dalam empat laga sebelum leg kedua ini.

Keputusan Riedl ini jelas sulit untuk dimasukkan ke akal, walaupun pemikiran Riedl ini masih kalah aneh dengan keputusan wasit Fu Ming dan asistennya untuk menganulir penalti yang tadinya akan diberikan kepada Indonesia karena Rizky Pora dilanggar Ngoc Hai di dalam kotak penalti. Anda gila, Sit?! (Ngomong-ngomong, ternyata Fu Ming adalah wasit yang sama yang memberikan penalti kontroversial kepada Arab Saudi di Kualifikasi Piala Dunia 2018 yang merugikan Thailand baru-baru ini.)

Selanjutnya: final

Saya tidak pernah berpikir Indonesia akan bisa melangkah sejauh ini, karena, realistis saja, di atas kertas, peluang Indonesia untuk masuk ke semifinal saja cukup kecil. Saya sudah menduga Singapura akan tampil buruk di babak grup tahun ini, tapi saya tidak menyangka Filipina juga begitu mengecewakan. Dan, di luar semua itu, saya tidak menyangka Indonesia bisa bermain begitu menyenangkan.

Tak satu pun pertandingan Indonesia di AFF Suzuki Cup 2016 yang membosankan. Merah Putih hampir selalu tampil menyerang, membuat kocar-kacir pertahanan lawan, dan menambah hiburan dengan membuat jantung berdegup kencang berkat pertahanan yang tak bagus-bagus amat. Lolosnya Indonesia ke final bukan hanya sebuah anugerah bagi negeri ini – keberhasilan Garuda juga merupakan anugerah bagi turnamen ini karena artinya, dua laga final nanti hampir pasti akan menghibur semua orang.

Pertandingan-pertandingan Indonesia juga penuh dengan drama: ada dua gol penyeimbang di laga vs Thailand, kejar-kejaran skor dengan Filipina, dan aksi comeback yang luar biasa melawan Singapura. Dan semua pecinta sepakbola, terutama mereka yang di kubu netral, jelas menyukai drama sepakbola, bukan?

Harapan saya sekarang hanyalah Indonesia bisa tetap bermain lepas di laga puncak nanti, dan tak perlu merasa terbebani beragam ekspektasi dari masyarakat, PSSI, dan pemerintah. Jangan sampai penampilan penuh rasa gugup seperti di leg kedua semifinal kemarin terulang kembali. Jangan sampai rasa gugup menutupi potensi besar yang dimiliki Indonesia. Bagaimanapun, seperti kata Stefano Lilipaly, Indonesia bisa mengalahkan siapapun.

Tentu saja saya sekali lagi akan berusaha sebisa mungkin meredam ekspektasi saya. Walau sulit memang tidak berharap Indonesia akan juara ketika kita sudah datang sejauh ini. Tapi sekali lagi, mari kita ingat bahwa baru tujuh bulan yang lalu Indonesia terbebas dari sanksi FIFA dan punya berbagai masalah yang menghambat persiapan timnas (termasuk liga lokal yang entah bagaimana tetap berjalan seolah tak ada apa-apa).

Sekali lagi, saya akan berpikir sederhana: Indonesia bisa main menghibur dan berjuang habis-habisan saja sudah cukup membuat hati puas. Bisa juara dan mengakhiri puasa gelar yang sudah berlangsung selama 25 tahun? Anggap saja itu bonus.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *