Jeda Internasional Bukan Kiamat Sepakbola

Jeda Internasional Bukan Kiamat Sepakbola

Tak ada pertandingan liga-liga Eropa akhir pekan ini. Jeda internasional ‘merenggut’ kebahagiaan kita menyaksikan pertandingan-pertandingan berkualitas tinggi yang biasanya mampir di layar kaca setiap akhir pekan, dari sore hingga menjelang subuh. Bagi sebagian, ini adalah masalah. Tapi bagi sebagian lainnya, ini bukan problematika kehidupan yang perlu dibesar-besarkan.

Bagi yang selalu mengisi akhir pekannya dengan menonton sepakbola, ketiadaan pertandingan-pertandingan top Eropa memang jadi isu tersendiri. Karena itulah, kadang jeda internasional tak hanya dibenci oleh para manajer papan atas Eropa yang tak senang pemain-pemainnya dipakai tim nasional negara masing-masing, jeda internasional juga tak disukai oleh penggemar.

Meskipun sepakbola tak berhenti berjalan, karena ada banyak sekali pertandingan internasional yang tersaji dalam jangka waktu satu minggu, sensasi menyaksikannya tak sama seperti menonton klub-klub papan atas Eropa bertanding. Tak ada gairah yang sama. Seringkali pula, intensitasnya pun tak serupa. Imbasnya, pertandingan-pertandingan internasional ini jadi sering tak menarik.

Makanya, tak mengherankan jika stasiun televisi pun tak pernah berlomba-lomba menyajikan pertandingan atau setidaknya menginformasikan pertandingan-pertandingan internasional pada jeda internasional ini. Penikmatnya tak banyak. Jamie Carragher pernah menulis begini di Daily Mail, “Tidak ada yang menyalakan TV saat jeda internasional untuk mencari hiburan. Orang-orang hanya ingin melihat apakah pemain dari klub favorit mereka bisa melaluinya tanpa mendapatkan cedera.”

Ada banyak alasan memang pertandingan-pertandingan di masa jeda internasional cenderung tak menarik. Pertama, pertandingannya cenderung membosankan. Terutama jika yang berlangsung adalah pertandingan persahabatan, di mana pelatih-pelatih timnas seringkali memainkan tim eksperimen mereka.

Kedua, pertandingannya tak seimbang. Dengan timpangnya kekuatan negara-negara top dengan negara-negara semenjana, bukan hal yang mengherankan jika jarang ada kejutan yang tercipta di masa jeda internasional. Skor telak malah bisa tercipta, dalam pertandingan di mana pemain-pemain top yang mencetak gol merayakannya dengan setengah hati karena apa yang mereka lakukan seperti bukan sesuatu untuk dirayakan.

Dengan sistem seperti saat ini, pertandingan-pertandingan di jeda internasional, bahkan yang statusnya pertandingan kualifikasi Piala Dunia sekalipun, memang cenderung tak menarik. Seruan agar ada perubahan sistem kualifikasi untuk membuatnya lebih menarik (misalnya dengan mengadakan dalam bentuk turnamen) sudah diteriakkan sejak dua tahun terakhir, tapi hingga perubahan itu benar-benar terjadi, sepertinya sulit mengharapkan jeda internasional akan se-menyenangkan pertandingan liga-liga top Eropa.

Tapi, ingat, semua ada hikmahnya – semua selalu ada hikmahnya. Jeda internasional pun begitu: meski kita tak bisa menonton sepakbola top Eropa di akhir pekan, kita jadi punya waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman atau keluarga, misalnya. Sementara dari sisi sepakbola, ada hal lain yang mungkin selama ini luput kita perhatikan berkat jeda internasional: mungkin ini saatnya kita mulai menikmati sepakbola secara lebih luas lagi, dan bukan hanya bergantung pada pertandingan-pertandingan top Eropa yang sangat komersil itu.

Ini saatnya kita menyadari bahwa sepakbola bukan hanya Eropa. Kita bisa mulai menikmati pertandingan-pertandingan di Asia yang lebih menarik dan dengan waktu pertandingan yang lebih ramah bagi kita, karena seringkali kick-offnya sekitar petang waktu Indonesia Barat. Atau mungkin saatnya menikmati pertandingan-pertandingan di Amerika Latin, yang biasanya dilangsungkan subuh atau pagi hari.

Jika ingin menikmati sepakbola secara lebih utuh lagi, pergilah ke lapangan-lapangan atau stadion di dekat rumah, dan tontonlah pertandingan-pertandingan level tarkam yang memiliki daya tariknya sendiri. Atau mungkin, dengan beberapa pertandingan persahabatan yang digelar klub-klub Liga 1, kita bisa ke stadion untuk menikmati sepakbola lokal yang mungkin tak pernah kita perhatikan sebelumnya.

Karena sepakbola bukan hanya Eropa, dan sepakbola tak hanya di layar kaca. Jangan patah semangat karena jeda internasional, karena sepakbola tak pernah berhenti bergulir di mana-mana.

Artikel ini juga dimuat di FourFourTwo Indonesia pada 24 Maret 2017. Baca di sini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *