Kafir

Ceritanya, beberapa pekan yang lalu saya mengeluh di Twitter soal khotib shalat Jumat yang lagi-lagi membicarakan kafir, komunis, syiah, munafik, dan kafir.

Sebagian besar memahami kegundahan saya, tapi ada juga yang membalas twit saya tersebut dengan “di Al Quran ada banyak kata kafir, lho” atau “solusinya kembali ke Al Quran dan Hadist”. Balasan mereka tak ada yang salah secara isi. Tapi sayangnya mereka tidak memahami konteks keluhan saya tersebut.

Tapi toh saya bukan satu-satunya. Beberapa waktu lalu, seorang selebtwit yang saya lupa namanya (karena waktu itu tak sengaja menemukan twitnya) juga mengeluh soal kafir-kafir yang semakin sering dikumandangkan di khotbah dan ceramah, dan ada yang membalas, kurang lebih, seperti ini, “Kan non-muslim memang kafir?”

Lagi-lagi ini tidak salah, tapi sekali lagi, tidak sesuai dengan konteks yang dikeluhkan oleh si selebtwit.

Begini, kalau kita merujuk pada pengertian harfiahnya, seorang non muslim memang seorang kafir. Karena kafir, secara makna kata, adalah orang-orang yang tidak meyakini keberadaan Allah dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Artinya, ya, betul, mereka memang kafir.

Ahok memang kafir.

Non-muslim memang kafir.

Artinya, kita semua tahu bahwa adalah kafir. Tapi apakah hal ini perlu terus menerus dibicarakan?

Masalahnya adalah, istilah ‘kafir’, dalam perkembangannya di Indonesia, memiliki makna peyoratif alias merendahkan. Jika dilihat dari kacamata agama, sebagai muslim, tentu saja boleh, dan sewajarnya, melihat orang-orang non-muslim sebagai orang-orang yang lebih rendah daripada orang-orang muslim karena tidak mengimani apa yang kita tidak imani. Karena mereka ‘tersesat’.

Tapi apakah baik jika kita terus menerus melihat segalanya hanya dari kacamata agama saja?

Perlu diingat bahwa kita hidup di negara yang sangat beragam. Multi-kultural. Multi-agama. Indonesia bukanlah negara Islam – Indonesia adalah negara republik yang mayoritas penduduknya beragama islam. Perlu diperhatikan bahwa keduanya adalah hal yang berbeda; negara ini tidak menganut hukum-hukum Islam sebagaimana negara-negara Islam seperti Arab Saudi. Walaupun, di sisi lain, Indonesia juga bukan negara sekuler karena Pancasila sebagai dasar negara mengakui Ketuhanan yang Maha Esa.

Perlu diingat bahwa kita hidup di sebuah masyarakat yang majemuk, yang tidak 100% diisi oleh muslim. Artinya, kita hidup bersama dengan orang-orang non-muslim, dari Kristen hingga Buddha. Tidakkah menjelek-jelekkan orang-orang non-muslim dengan sebutan kafir dan tuduhan-tuduhan lainnya bertentangan dengan kerukunan dalam hidup bermasyarakat yang sudah semestinya dijaga?

Tidakkah khutbah-khutbah yang menggemakan seruan untuk memusuhi kafir berarti meminta para jamaahnya untuk memusuhi, misalnya, tetangganya sendiri yang memang non-muslim?

Inilah yang seringkali kita lupakan. Saya tidak alergi terhadap kata kafir, dan saya tidak menyangkal jika orang-orang non-muslim memang pantas disebut kafir (karena memang secara arti seperti itu), tapi saya sangat terganggu dengan kebencian yang disuarakan secara lantang lewat pengeras-pengeras suara di masjid-masjid.

Saya tidak alergi terhadap kata kafir dan Al-Quran memang berkali-kali menyebutkan kata ini, tapi saya sangat terganggu dengan usaha untuk menularkan kebencian atau permusuhan pada non-muslim (atau dalam isu yang berbeda, non-sunni) secara terang-terangan lewat khutbah dan ceramah.

Masjid semestinya menjadi tempat yang bisa mendamaikan hati dan pikiran, bukan membuat pusing dengan seruan kebencian yang semakin menambah sampah pikiran.

Sudah cukuplah kita mengonsumsi kebencian di media sosial. Tak perlulah kita menikmati hal yang sama di dalam masjid.

Itulah konteks yang saya maksud dalam twit saya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here