OVO Menyalip GO-PAY? Kok Bisa?

Beberapa hari lalu, sebuah thread Twitter dari @supermomo viral. Pembahasannya menarik, tentang data survei yang membahas bahwa saat ini OVO menyalip GO-PAY dalam hal jumlah pengguna. Data tersebut dibagi dalam bentuk tangkapan layar atau screenshot dari artikel Katadata. Sayangnya, ketika saya cari artikelnya, yang muncul adalah not found page.

Saya tidak tahu apakah datanya benar atau tidak. Apalagi, dari tangkapan layar pada bagian diagram, hanya OVO yang disebutkan mereknya. GO-PAY atau merek dompet elektronik lainnya hanya disebut Brand 1, Brand 2, dan Brand 3. Tentu saja ini menimbulkan kecurigaan tersendiri – walau perlu dicatat bahwa saya cukup percaya dengan Katadata dan sering mencari referensi di sana.

Akun @supermomo juga kemudian menggelar polling sendiri mengenai mana yang paling banyak dipakai, OVO atau GO-PAY, dan hasilnya juga mirip. Dari 5.519 responden polling tersebut, OVO lebih unggul dengan persentase 58% berbanding 42% untuk GO-PAY.

Bagi saya, fakta ini menarik sekali. Saya sendiri mengalami pergeseran kebiasaan dalam penggunaan dompet elektronik. Senada dengan hasil-hasil survei di atas, saya pun sekarang jauh lebih sering menggunakan OVO daripada GO-PAY. Dan hal ini, sepertinya, juga dialami oleh banyak orang lainnya. Itu juga mungkin yang menjadi alasan bagaimana bisa OVO menyalip GO-PAY saat ini.
Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya menjadikan OVO sebagai alat pembayaran primer, dan GO-PAY sekunder. Pertama, tentu saja soal cashback. Tidak bisa dipungkiri, cashback yang dipromosikan OVO memang seringkali lebih menggiurkan ketimbang promosi dompet elektronik lainnya. Saya pun sempat menuliskan soal perang cashback OVO dan GO-PAY di sini, dan menjelaskan kenapa menurut saya cashback OVO lebih menarik daripada GO-PAY.

Kedua, sistem poin OVO ternyata malah membuat pengguna loyal. Sistem cashback ke OVO Point awalnya memang membingungkan. Kalau Anda belum mengerti sistem poin OVO (yang sebetulnya sederhana), memang juga akan berpikir, buat apa saya ngumpulin poin? Sekilas, cashback ke saldo utama (sehingga lebih terasa seperti diskon) memang lebih menggiurkan. Tapi ternyata, sistem poin di OVO justru membuat penggunanya, setidaknya saya, lebih loyal.

Memangnya seperti apa sih sistem poin di OVO? Sederhana, sih: mirip dengan sistem BCA Rewards, nilai poin OVO setara dengan rupiah. Artinya, 20.000 OVO Points berarti 20.000 rupiah, dan Anda bisa menggunakannya langsung saat hendak melakukan pembayaran.

Dengan sistem poin seperti itu, OVO membuat pengguna tak ubahnya “menabung cashback” dari yang mereka berikan setiap kali pengguna melakukan pembayaran. Sistem menabung cashback ini ternyata memberikan efek yang lebih menyenangkan bagi pengguna: cashback yang kita kumpulkan ujung-ujungnya bisa ditukarkan untuk membeli sesuatu yang kita inginkan. Cashback pun jadi lebih terasa manfaatnya. Ini berbeda dengan sistem cashback yang mengembalikan langsung dana ke saldo utama: jadinya, lebih terasa seperti diskon dan dampaknya pun jadi tak terlalu terasa.

Misalnya, dalam kasus saya, seperti ini: saya mengumpulkan OVO Point sebanyak mungkin selama sebulan, lalu seluruhnya kemudian saya gunakan untuk membayar tagihan listrik. Saya pun jadi bisa berhemat pengeluaran tagihan bulanan, dan dampak yang terasa itulah yang membuat saya menjadi merasa senang dengan OVO Point dan loyal menggunakan OVO. Hal ini juga mungkin terjadi pada orang lain.

Ketiga, promo jor-joran dari OVO. Ketimbang GO-PAY, promo OVO memang lebih jor-joran: selain soal cashback, promosi OVO rasanya bisa kita temukan di mana-mana: pintu lift mall, standing banner besar-besar di hampir setiap restoran, dll. OVO pun jadi begitu terlihat, dan hal ini membuat nama dan programnya bisa menempel dengan baik di kepala pengguna.

Sejak awal, Lippo memang tampak begitu mendorong OVO untuk menjadi begitu besar. “Pemaksaan” di gedung-gedung milik Lippo, baik gedung perkantoran maupun mall, untuk menerapkan pembayaran menggunakan OVO memang terlihat menyebalkan pada awalnya. Tapi toh sukses juga untuk menghadirkan banyak pengguna baru.

Keempat, efek Tokopedia. Tak bisa dipungkiri juga, kerja sama OVO dengan pihak ketiga seperti Grab dan Tokopedia benar-benar menguntungkan bagi banyak pihak: OVO mendapatkan begitu banyak pengguna baru berkat Tokopedia, Tokopedia bisa meningkatkan penjualan berkat promo cashback OVO, dan pengguna bisa memanfaatkan berbagai program cashback untuk membeli atau membayar hal-hal yang mereka perlukan.

Kehadiran OVO di Grab juga membuat ketiga belah pihak diuntungkan: bagi pengguna, sistem cashless di Grab jadi lebih menarik karena OVO bisa digunakan di luar aplikasi Grab (berbeda dengan GrabPay dulu), Grab sukses meningkatkan transaksi cashless mereka, sementara bagi OVO, penetrasi layanan mereka pun menjadi semakin luas.

Saya pun akhirnya menggunakan OVO karena kerja sama dengan Tokopedia ini, sebagaimana saya ceritakan di postingan berikut. Pun demikian dengan Grab – saya juga jadi lebih sering menggunakan Grab karena OVO mudah digunakan – serta tentu saja karena Grab Rewards yang sangat menguntungkan. Apakah Anda juga begitu?

Tentu saja ada faktor-faktor lainnya yang mungkin juga bermain, seperti bagaimana OVO diintegrasikan ke grup Lippo secara besar sehingga mall-mallnya menggunakan sistem pembayaran parkir menggunakan OVO, para pegawainya (yang jumlahnya ribuan) juga menggunakan OVO, dan lainnya. Tapi bagi saya, empat alasan yang dijelaskan di atas lah yang jadi penyebab utama bagaimana OVO saat ini telah berhasil menggeser posisi GO-PAY.

Bagaimana menurut Anda? Apakah ada alasan lain yang membuat OVO menyalip GO-PAY saat ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here