Bagaimana Konten Digital Bisa Membantu Penjualan Rilisan Fisik

Bagaimana Konten Digital Bisa Membantu Penjualan Rilisan Fisik

Berhubung saya sedang senang-senangnya dengan buku, saya ingin mbacot lagi soal buku di postingan ini. Kali ini, saya ingin membahas soal berita turunnya penjualan eBook (buku elektronik atau buku digital) dan meningkatnya penjualan buku fisik di UK, seperti yang dibahas Paula Cocozza dalam tulisannya di The Guardian.

Cocozza membahas soal laporan penjualan buku tahun 2016 yang diumumkan The Publishers Association. Dalam laporan itu, tercatat bahwa meski nilai penjualan digital mengalami peningkatan (berkat meningkatnya penjualan audiobook dan eBook akademik), nilai penjualan eBook untuk konsumen umum mengalami penurunan hingga 17%. Sementara itu, buku fisik mengalami peningkatan sebesar 8%, dan total penjualan buku di UK mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, mencapai 4,8 milyar poundsterling.

Ini juga bukan untuk pertama kalinya terjadi penurunan penjualan eBook. Pada tahun 2015, nilai penjualan eBook untuk pertama kalinya mengalami penurunan sejak dihitung oleh TPA pada tahun 2007 lalu. Tentu saja ini menghasilkan tanda tanya: bukankah eBook selama ini dianggap ancaman besar bagi buku fisik dan bahwa masa depan yang paperless semua orang akan membaca buku elektronik alih-alih buku fisik?

Cocozza kemudian membahas beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya: dari Kindle yang terlihat tak seksi lagi hingga peningkatan penjualan buku anak yang rata-rata berbentuk fisik dan kurang cocok jika dalam bentuk digital.

Tapi yang saya rasa paling menarik adalah bagian ini:

To complicate matters, some publishers of physical books are treating ebooks “almost as a marketing tool” before a book comes to print, says Summerhayes. One recent title, for instance, had little interest in its forthcoming print publication, so the publisher released it as an ebook for 99p. It began to sell, to be noticed and get reviewed. At which point the publisher went to the supermarkets that had previously spurned it and they took it up.

Saya pikir ini menarik karena buat saya pribadi, seperti inilah hubungan eBook dengan buku fisik di mata saya.

Saya bukan penikmat sejati eBook, dan mungkin baru beberapa waktu terakhir mulai benar-benar memanfaatkan tablet lama saya untuk kembali membaca buku elektronik. Meski bukan fan berat eBook, buat saya pribadi, keberadaan buku elektronik sangat penting karena berkatnya, saya bisa membaca buku-buku yang rilisan fisiknya (menurut saya) terlampau mahal untuk dibeli seperti The Science of Interstellar, salah satu dari sedikit buku yang saya selesaikan di tablet.

Buku elektronik sendiri memang rawan dibajak (harus diakui, saya sendiri beberapa kali membaca buku-buku bajakan di tablet, termasuk Interstellar), tapi di sisi lain, eBook bisa menjadi alat marketing yang bagus: ketika sebuah buku bagus selesai dibaca, biasanya akan muncul keinginan yang besar untuk bisa memiliki buku itu secara fisik dan mengoleksinya. Bahkan ketika rasa suka itu begitu besar, kita selaku konsumen biasanya tidak akan memikirkan lagi soal harganya yang awalnya kita rasa terlalu mahal. Karena ketika kita menyukai sesuatu, kita seringkali tidak akan berpikir harga suatu karya terlalu mahal, tetapi kita akan berpikir bahwa harga tersebut layak untuk sebuah karya yang bagus.

Ini tak ubahnya seperti musik digital: ketika seorang artis bisa membuat sebuah album yang benar-benar bagus, meski pada awalnya orang hanya mendengarkan versi digitalnya saja secara cuma-cuma (misalnya melalui YouTube), tapi akan muncul kemungkinan orang-orang yang menyukainya akan berusaha membelinya demi alasan koleksi.

Contoh kasus ini, misalnya adalah ketika saya membeli album Modern Times Repackage karya IU, yang saya beli dengan cara menitip ke Mas Billy ketika eks mentor saya ini pergi ke Jepang dan bayarnya pun mencicil (karena harganya kelewat mahal, hampir Rp500.000). Karena saya begitu menyukai album ini, apapun saya lakukan demi memilikinya dan mengoleksinya, bahkan meski harganya sangat mahal sekalipun.

Norak.

A post shared by Muhammad Rezky Agustyananto (@ekkyrezky) on

Pun demikian dengan buku. Ketika saya pergi ke bazar buku yang saya ceritakan dalam dua postingan sebelumnya, niatan utama saya bukanlah mencari buku yang belum saya baca, melainkan buku-buku yang saya sukai dan ingin saya koleksi. Lihat saja daftar buku yang ingin saya beli sebelum pergi ke sana: The Science of InterstellarAnimal Farm, Sputnik Sweetheart, hingga komik-komik seperti Old Man Logan hingga Saga. Semuanya sudah saya baca baik secara ilegal maupun legal di tablet, tapi malah buku-buku itu yang saya cari-cari (walau pada akhirnya, tak ada satupun buku dalam wishlist saya yang saya temukan di sana).

Merilis eBook lebih dulu untuk meningkatkan minat publik terhadap judul buku tertentu, menurut artikel Cocozza di atas, ternyata cukup efektif untuk meningkatkan penjualan buku fisik – dan jika melihat bahwa ada orang-orang seperti saya di dunia ini, itu masuk akal. Apa yang dilakukan para penerbit buku di UK itu adalah sebuah langkah marketing yang cukup jempolan. Para penerbit buku sepertinya sudah menyadari bahwa inilah cara utama untuk menghadapi era digital – memanfaatkannya alih-alih takut bahwa keberadaan buku digital akan membuat penghasilan mereka mengalami penurunan.

When you come under pressure, you have to raise your game, and that’s what has gone on throughout the industry,” kata James Daunt dari Waterstones, seperti dikutip Cocozza.

Perlu diketahui bahwa inovasi marketing seperti ini sebetulnya bukanlah aksi marketing digital yang baru, karena banyak musisi sudah mengaplikasikannya sejak beberapa tahun terakhir. Ingat, misalnya, Radiohead yang ‘nekat’ membebaskan orang mengunduh album In Rainbows dengan harga sesuka pendengarnya (pay-what-you-want) satu dekade yang lalu, dan Anda selanjutnya tahu, itu bukan tindakan bunuh diri – itu adalah aksi marketing yang brilian. Ketika album fisiknya dirilis dua bulan kemudian, In Rainbows langsung memuncaki daftar album di UK Albums Chart dan Billboard 200.

Kuncinya adalah kualitas konten yang dijual: ketika konten itu disukai orang, orang pada akhirnya akan menghargainya dengan cara membelinya.

Sekali lagi: ini bukan ide marketing yang baru. Bahkan sekitar satu dekade yang lalu juga (saya lupa tepatnya kapan), saya pernah membacanya di eBook cuma-cuma yang dibuat oleh seniman dalam negeri sendiri, Pandji Pragiwaksono, yang berjudul “How I Sold 1000 CDs in 30 Days” (buku ini kemudian dirilis dalam bentuk fisik oleh Gramedia).

Meski secara tata bahasa mungkin tak ideal, tapi buku How I Sold ini adalah salah satu buku marketing tersimpel namun paling mengena buat saya. Idenya selalu tertanam dalam otak saya, dan itulah kenapa saya langsung mengingatnya ketika membaca strategi marketing para penerbit buku di UK ini.

Pada akhirnya, ketika Anda menciptakan konten yang bagus, dan pintar dalam memasarkannya, orang akan menghargai Anda. Itu kuncinya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *