Memahami Thanos, Memahami Keterbatasan “Avengers: Infinity War”

Memahami Thanos, Memahami Keterbatasan “Avengers: Infinity War”

Peringatan: artikel ini mungkin ada spoilernya. Mungkin. Saya juga gak yakin.

Setiap kali saya diajak mengobrol tentang Avengers: Infinity War, jawaban saya selalu sama: saya suka, film yang bagus.

Dan memang seperti itulah yang saya rasakan ketika meninggalkan bioskop. Ada perasaan puas karena dihibur selama lebih dari dua jam di dalam teater, dan juga pertanyaan tentang seperti apa peran Captain Marvel di film jilid kedua nanti dan apakah tebakan saya tentang bagaimana Avengers mengubah jalannya sejarah di film kedua nanti benar-benar terjadi.

Infinity War jelas film yang sangat menghibur, dan itu terbukti dari catatan 92% penonton merasa puas,  seperti yang bisa kita lihat di situs Rotten Tomatoes atau rating 8.9 yang diberikan para penonton di situs IMDB.

Saya rasa hanya dua jenis orang yang akan merasa tidak senang dengan film ini: mereka yang bingung dengan ending film dan mereka yang memang menemukan cela di sepanjang film.

Seperti Mas Agung Harsya, Pemimpin Redaksi Goal.com Indonesia yang memang sering mengkritisi film.

Saya pun sudah membaca beberapa komentar negatif terkait film ini, entah itu terkait plot, pembagian porsi peran yang terlampau kecil bagi setiap individu, dan, yang paling menarik, soal Thanos. Seperti yang ditulis Mas Agung, misalnya, “…saya sebagai penonton dipaksa memahami motivasi Thanos selaku villain.”

Penggambaran Thanos di film ini memang jauh dari kata sempurna. Fakta bahwa Thanos tidak pernah benar-benar dimunculkan di film – hanya sekelibat di The Avengers di middle dan post-credit scene; lalu di Guardian of the Galaxy; Avengers: dan Age of Ultron, juga di credit scene – membuat kisahnya yang sangat rumit jadi terburu-buru digambarkan di Infinity War. Imbasnya, latar belakang karakternya menjadi kurang kuat, karena porsi kisah pribadinya harus dipadatkan dan berbagi ruang dengan adegan aksi yang sangat banyak di film sepanjang 156 menit ini.

Hal tersebut merupakan tugas yang sangat berat karena Thanos bukanlah seorang supervillain yang sederhana layaknya Ronan the Accuser atau Ultron. Thanos adalah karakter yang rumit, dengan pemikiran yang unik dan, bisa dibilang, tak sepenuhnya jahat.

Membaca The Thanos Quest (1990) dan The Infinity Gauntlet (1991), dua komik pertama yang menceritakan petualangan Thanos mengumpulkan Infinity Gems (atau Infinity Stones di versi Marvel Cinematic Universe-nya), membuat saya semakin yakin bahwa Marvel gagal menggambarkan Thanos secara utuh. Pasalnya, dalam dua seri komik Marvel tersebut, Thanos benar-benar digambarkan sebagai karakter yang unik: ia jahat namun sangat cerdas, sombong namun sangat romantis. Dalam dua seri komik tersebut, kecerdasan Thanos digambarkan dengan bagaimana ia memperdaya para entitas kosmik yang begitu kuat untuk mendapatkan keenam batu yang sebelumnya disebut Soul Gems.

Kita juga bisa memahami sepenuhnya makna perburuan Infinity Gems tersebut bagi Thanos: sebagai usahanya untuk berdiri sejajar dengan Mistress Death alias Dewi Kematian, agar ia terbebas dari statusnya sebagai ‘budak’ Death dan agar ia bisa menyelesaikan tugas yang ia emban untuk Death, yang berpikir semesta tidak seimbang karena terlalu banyak kelahiran sementara kematian terlalu sedikit dan ingin mengeliminasi setengah makhluk hidup di semesta, dengan cepat.

Betul, Infinity War menjelaskan motif di balik perburuan Thanos akan Infinity Stones, tetapi penggambaran idealisme Thanos tersebut menjadi terasa kurang kuat. Kita mungkin akan bisa lebih memahami idealisme itu jika, misalnya, kita diperlihatkan kilas balik bagaimana Thanos menemukan fakta bahwa Titan, planet asalnya, akan hancur karena kelebihan populasi, dan bagaimana usaha Thanos meyakinkan orang-orang di sekitarnya bahwa setengah populasi Titan harus dimusnahkan.

Kita mungkin bisa lebih memahaminya jika kita sebagai penonton diizinkan untuk menyelami lebih dalam pemikirannya. Sisi romantis Thanos pun gagal digambarkan dengan baik; hubungan ‘romantis’ Gamora dan sang ayah jadi terasa dipaksakan karena semuanya terjadi dengan begitu cepat. Air mata Thanos ketika mendorong Gamora jatuh ke dalam jurang jadi terasa palsu, dan membuat kita bertanya-tanya: apakah Thanos benar-benar mencintai anak angkatnya itu, atau ini hanya siasat busuknya untuk mendapatkan Soul Stone?

Tentu saja, semua kekurangan ini bisa dipahami mengingat durasi film yang sangat terbatas, apalagi dengan begitu banyaknya aspek cerita yang berusaha dimasukkan ke dalam Infinity War. Apakah semuanya akan lebih baik jika Thanos lebih sering muncul di film-film Marvel sebelumnya, tidak cuma sekejap di sana-sini?

Entahlah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *