Mengapa Memilih Sony a6000?

Mengapa Memilih Sony a6000?

Setelah mempertimbangkan banyak aspek dalam waktu yang lama, akhirnya saya membeli kamera. Dan setelah mempertimbangkan banyak pilihan yang tersedia di pasaran saat ini, saya akhirnya memilih Sony a6000.

Jujur saja, memilih kamera serius pertama untuk dibeli dan dipelajari bukanlah sesuatu yang mudah. Saya mungkin menghabiskan puluhan jam untuk membaca dan menonton review kamera yang ini dan yang itu, mempertimbangkan bujet yang tersedia, bertanya ke sana dan ke sini, memantau harga pasar, hingga memilih tempat yang menjual kamera tersebut dengan harga paling terjangkau. Saya mungkin sampai menghabiskan dua bulan lamanya untuk menentukan kamera mana yang saya beli. Iya. Dua bulan.

Harap maklum jika kualitas gambar kurang bagus. Difoto menggunakan smartphone.

Untuk bisa mencapai ke kesimpulan akhir, ada tahap-tahap pertimbangan yang harus saya lalui. Tahap-tahap ini mungkin juga akan dilalui Anda kalau Anda baru pertama kali ingin membeli kamera dan memiliki bujet terbatas. Ini tahap-tahap pertimbangan saya:

Kenapa harus beli kamera?

Ini bukan pertanyaan yang pas untuk Anda yang punya uang berlebih terlalu banyak dan bisa membeli apapun dengan mudah. Tapi sebagai kelas menengah ngehe yang punya tabungan sedikit tapi pengen banyak gaya, ini adalah tahap pertama yang harus saya lalu.

Sampoerna Strategic Squares

Oke, kenapa saya ingin membeli kamera?

Tentu saja karena saya ingin jadi selebgram. Saya ingin belajar fotografi. Ini adalah bidang yang sebetulnya saya minati sejak lama, dan karena itu saya sempat mengambil mata kuliah jurnalisme fotografi (dosennya Arbain Rambey yang keren itu pula) di universitas dulu. Saya sempat mempunyai kamera point-and-shoot saat SMP dulu, dan sempat juga mendapatkan kamera analog Minolta bekas dari gudang almarhum kakek saya, sayangnya ketika saya bawa ke Jakarta, kamera itu ternyata sudah rusak. Tapi setelah sekian lama, baru kali ini saya merasa saya perlu belajar fotografi dengan serius.

Alasannya adalah: ini adalah era visual. Saya tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan saya menulis teks untuk bisa meraih sesuatu di dunia digital sekarang. Sekarang, tak banyak orang yang bisa tahan berlama-lama membaca teks tanpa gambar. Karenanya, dukungan dari gambar sangat diperlukan, dan kemampuan fotografi dan kepemilikan kamera akan sangat berguna di sini.

Her Smile

Selain itu, saya merasa perlu memiliki kemampuan lain di luar menulis, media sosial, dan sebagainya. Selama ini, basis kemampuan saya adalah teks. Tulisan. Saya merasa saya perlu mempelajari hal lain untuk bisa mengembangkan diri saya.

Oke, sekarang memang eranya kamera ponsel pintar. Tapi sebagus apapun ponsel pintar, ada batasan-batasan yang membuat proses belajar itu tidak maksimal. Selain itu, kamera Xiaomi Redmi Note 3 saya memang cukup busuk.

Nah, kalau alasan Anda, apa? Sebelum membeli kamera, buatlah alasan-alasan seperti ini dulu. Selain untuk meyakinkan diri Anda bahwa kamera itu akan berguna nantinya, dan tidak hanya dikeluarkan ketika ada acara keluarga atau ketika liburan saja, alasan-alasan ini juga dibutuhkan ketika harus memberikan pengertian kepada pasangan kita yang kerap protektif untuk urusan uang.

DSLR atau mirrorless?

Ini perdebatan yang cukup hangat dan bikin saya bingung sampai akhir. Dua bulan saya tidak bisa benar-benar memilih: DSLR atau mirrorless? Video dari Phil Steele ini cukup bagus dalam membandingkan kedua sistem kamera:

Satu hal yang paling penting dalam penjabaran Steele adalah: “…you get a lot of bang for your buck.” Anda bisa mendapatkan lebih banyak nilai lebih dengan harga yang lebih murah. Menurut hasil membaca banyak review di dunia maya, dengan bujet 6 juta, misalnya, Anda sudah akan mendapatkan kamera DSLR bagus dalam diri Nikon D3400 (yang sering dianggap sebagai kamera pemula terbaik) atau Canon 12000D. Sementara dengan bujet yang sama, Anda hanya akan mendapatkan mirrorless seperti Canon EOS M10 yang relatif kurang oke (sekali lagi, ini berdasarkan banyak review yang saya baca) untuk standar kamera mirrorless.

Untuk mendapatkan kamera mirrorless dengan kualitas apik, diperlukan dana minimum 7 sampai 8 juta rupiah, misalnya untuk Sony a6000 atau Fujifilm X-A2. Mahal!

Lalu kenapa saya malah memilih mirrorless? Saya turut mempercayai anggapan bahwa kamera terbaik yang bisa Anda miliki adalah kamera yang selalu Anda bawa. Membawa DSLR yang relatif berat dan besar ke mana-mana adalah tugas yang sulit – apalagi saya juga harus membawa laptop ke mana-mana karena pekerjaan saya. Membawa DSLR yang relatif jauh lebih ringan dan ringkas adalah hal yang masuk akal.

Anak Kecil di Kereta

Saya takut, jika saya memaksakan membeli DSLR, akan muncul rasa malas membawa ke mana-mana dalam waktu cepat, yang pada akhirnya membuat saya tidak bisa benar-benar belajar fotografi. Karena itulah, saya akhirnya memilih mirrorless. Ketimbang membeli kamera mahal hanya untuk menganggur, lebih baik membeli kamera yang sedikit lebih mahal tapi membuat kita tak segan untuk menggunakannya dan berlatih terus-terusan, bukan?

Karena itulah, akhirnya saya memutuskan untuk mengorbankan sedikit lebih banyak tabungan saya untuk membeli mirrorless.

Lalu kenapa Sony a6000?

Sebelum memilih a6000, ada tiga pilihan lain yang masuk pertimbangan saya: Samsung NX-3000, Canon EOS M10, dan Fujifilm X-A2. Dua nama pertama masuk pertimbangan karena harga yang relatif masuk bujet awal saya, sementara nama terakhir masuk pertimbangan karena sangat populer di Indonesia. Tapi pada akhirnya saya mencoret tiga nama tersebut karena berbagai alasan.

Samsung NX-3000: Review-review di internet positif, dan bentuknya pun bagus – tak kalah dengan Fuji X-A2 dengan gaya retro dan warna yang ciamik. Tapi lingkungan kamera Samsung NX-3000 cukup sempit, dengan pilihan lensa yang agak terbatas. Pilihan bagus untuk belajar dengan harga murah, tapi mungkin tak bisa diandalkan untuk jangka panjang.

Foto dari CameraLabs

Canon EOS M10: Review lumayan. Tapi desain bodinya kurang oke, sistem kameranya cenderung terlalu simpel hingga seperti kamera point-and-shoot. Canon juga cenderung setengah-setengah di pasar kamera mirrorless, karena mereka memang memiliki pasar DSLR yang jauh lebih besar. Pilihan lensa sih banyak.

Foto dari ePhotozine

Fujifilm X-A2: Kamera terkenal dengan review-review yang bagus. Desain bodinya bagus, hasil jepretannya pun bagus. Lensa kitnya jauh lebih bagus daripada Sony E-Mount. Tapi tak punya viewfinder. Harga di atas Sony a6000.

Foto dari DPReview

Sony a6000 bisa dibilang merupakan kamera mirrorless level pemula dengan sistem yang jauh lebih pas untuk seseorang yang ingin mempelajari kamera dan fotografi secara lebih maksimal. Sensor kameranya bisa dibilang merupakan yang terbaik, dan sistem kameranya cukup lengkap walau tak terlalu kompleks (salah satu teman saya menyebut Sony terlalu rumit dengan begitu banyak tombol di bodi kameranya, tapi setelah menggunakannya sebulan, saya justru merasa terbantu dengan banyaknya tombol itu).

Harganya pun cenderung terjangkau. Tak heran jika beberapa reviewer menganggapnya sebagai kamera mirrorless terbaik untuk pemula yang ingin belajar fotografi. Singkatnya, walau harganya tak jauh berbeda dengan Fujifilm X-A2 (sekitar 300-500 ribu lebih murah), tapi saya merasa saya bisa mendapatkan lebih banyak dari Sony a6000.

Selain itu, aspek lain yang membuat saya juga lebih memilih Sony a6000 adalah auto-focusnya yang bersistem hybrid dan memiliki kecepatan jepretan mencapai 11 frame per second. Sebagai perbandingan, Nikon D3400, yang juga saya inginkan, hanya bisa menjepret dengan kecepatan 4 fps. Ini sangat berguna, misalnya, untuk menjepret aktivitas bergerak, seperti olahraga. Mengingat saya berkecimpung di media sepakbola, Sony a6000 menjadi pilihan yang masuk akal – siapa tahu berguna ketika saya harus turun ke lapangan untuk belajar fotografi olahraga.

Menunggu Maghrib

Tapi bukannya kamera ini tanpa kelemahan. Lensa kitnya memang sangat ringkas, dengan jangkauan focal length yang bagus. Tapi dibandingkan lensa kit Fujifilm, Sony E PZ 16-50mm F3.5-5.6 OSS memiliki banyak kelemahan: tingkat ketajaman yang kurang oke, hasil warna foto yang terkesan flat sehingga membutuhkan proses editing, dan distorsi yang terlalu masif – terutama vignetting untuk hasil foto dalam format RAW. Ini sempat saya baca sebelumnya di blognya mas Aad di sini.

Solusinya adalah membeli lensa baru, terutama prime lens yang memang berkualitas lebih tinggi. Tapi buat pemula seperti saya, sepertinya lensa kit ini masih cukup bisa diandalkan. Apalagi, harga lensa memang tidak murah. Bahkan ada beberapa lensa yang harganya lebih mahal daripada harga bodi kameranya!

Jadi, menyesal nggak beli a6000?

Tidak. Lensa kit yang kurang apik memang bikin hati sedikit terganjal, tapi mengingat saya masih dalam proses belajar, ini bukan masalah yang terlalu besar. Sistem kameranya pas untuk proses belajar, ukurannya sangat ringkas dan cukup ringan, sehingga saya hampir selalu membawanya ke mana-mana. Ada masih banyak yang harus saya pelajari, terutama untuk menentukan pengaturan terbaik buat saya, dan saya pikir a6000 bisa membantu saya untuk belajar lebih banyak lagi.

Untuk kamera hore-hore, a6000 saya rasa bukan kamera yang terlalu tepat karena hasil foto dari lensa kit yang masih kalah bagus dengan Fujifilm, tetapi jika ingin belajar fotografi secara lebih dalam dan berniat untuk berinvestasi dengan lensa prime yang mahal, saya rasa ini kamera yang bagus. Bukan berarti saya menganggap Fujifilm kamera hore-hore ya – beberapa teman saya menggunakan kamera ini dan bisa menghasilkan foto layaknya profesional! – saya hanya merasa sistem Sony a6000 lebih mendukung untuk proses belajar dalam jangka panjang.

Artinya, mungkin saya tidak perlu ganti kamera hingga 3-5 tahun mendatang.

Mungkin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 11 comments for this article
  1. William Lesi at 7:31 pm

    Mantap mantap artikelnya bang 🙂 aku juga pengen beli kamera tapi pengen nabung dulu.. wwkwk.. aku pengen Canon M3 sama Sony A6300 keren tu bang. Cuman mesti nabung dulu deh.. soalnha belum ada duitwkkwkw

  2. Lena at 11:48 pm

    Sony a6000 mmg keren kok (krn saya jg pake itu, hehe). Tp ya itu lensa kitnya parah, punya saia dah rusak, sekali saat msh garansi lalu rusak lg setelah itu kemudian resmi saya museumkan dan ganti dg lensa lain yg cukup menguras tabungan, haha!

    Selamat jeprat-jepret dan mengabadikan kenangan!

    • ekkyrezky Author at 11:28 am

      Terima kasih Lena! Boleh tahu lensanya pakai yang apa? Buat pertimbangan, dari kemarin-kemarin masih rajin cari rekomendasi yang sesuai bujet.

        • ekkyrezky Author at 11:57 am

          Makasih rekomendasinya, tapi Samyang agak mahal. Mendingan Sigma 30mm yang 1.4 untuk E mount, cuma 4,5 juta walau nyarinya agak susah hehe…

  3. Al Antoni at 8:44 pm

    Sony A6000 merupakan kamera ke 3 saya, dan saya sangat puas dengan kinerja dan hasilnya. Sebelumnya saya pakai Sony HX400V, tapi hasilnya kurang gereget mbanget tapi cukup lumayan dan yang paling saya sukai zoomnya 50x bisa untuk moto jarak jauh dan nggak perlu ganti-ganti lensa serta stylenya kayak DSLR tapi cukup ringan. Selanjutnya saya pakai Canon Eos M, kamera ini tidak terlalu memuaskan dipakai dan menurut saya hanya bagus untuk portrait di outdoor akhirnya saya pensiunkan dan nggak pernah dipakai sama sekali.

    Sebenarnya sekarang saya mau beli Lensa Sony 50mm f1.8 FE, sebagai lensa prime tapi harganya sangat mahal. Karena saya juga baru belajar dengan kamera ini, akhirnya saya beli lensa jadul Minolta MD 50mm f1.7 produksi tahun 1981 tapi bagi saya hasilnya sangat memuaskan dibanding lensa kit. Selain itu saya juga sering menggunakan lensa Super Ozeck 28mm f2.8, Mitakon 28-200mm dan Printzflex 70-162 f3.5. Semua lensa tersebut sangat murah hanya dibawah 300ribuan tapi hasilnya sangat memuaskan. Klo lensa Sony SEL 55-210mm malah jarang saya pakai, kecuali untuk event tertentu. Kalau mau lihat hasil sample photo dari masing-masing lensa tersebut bisa dilihat di flickr.com. https://www.flickr.com/photos/145910488@N03/

    • ekkyrezky Author at 11:58 am

      Wah terima kasih rekomendasinya mas, maaf baru baca.

      Iya saya tertarik juga untuk nyoba pakai lensa jadul manual. Belinya biasanya di toko loak atau online?

  4. tamba at 4:39 pm

    mantap artikel nya bang, saya pengguna a6000 baru beberapa bulan dan saya merasa belajar photography lebih efektif dengan fitur yg di bawa oleh a6000 meski untuk sekarang kit lens nya kurang menjanjikan dan saya setuju untuk upgrade ke prime lens seperti 50mm f/1.7 ato 30mm f/ 1.7 hasil nya tidak mengecewakan berdasarkan review yang saya tonton di youtube

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *