Menghormati Cara Berpikir Orang Lain

Kalau dipikir-pikir lagi, yang terjadi di Amerika saat ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang calon presiden yang begitu kontroversial, rasis, dan bersikap layaknya otoritarian, mendapatkan angka dukungan hingga di atas 40 persen (menurut berbagai jajak pendapat)? Jika dipikir akal sehat, ini tentu merupakan sesuatu yang aneh.

Apa yang dipikirkan oleh 40 persen lebih orang Amerika yang dengan kesadaran penuh memilih Donald Trump sebagai presiden mereka? Mengingat kembali semua yang dilakukan Trump selama ini tentu membuat jumlah dukungan yang ia dapatkan menjadi tak masuk akal.

Lebih-lebih lagi, beberapa waktu yang lalu, seorang teman yang tengah kuliah di Tsinghua University menuliskan di status Path-nya bahwa ada beberapa temannya yang mengatakan mendukung Trump dalam sebuah obrolan di kampus. Kita mungkin bisa memaafkan jika dukungan itu diberikan oleh kaum konservatif yang sudah cukup tua yang terpengaruh berbagai pidato Trump mengenai imigrasi dan kondisi ekonomi. Tapi kaum terpelajar?

Lalu hari ini, saya menemukan video ini di YouTube:

Anda bisa dimaafkan jika bereaksi layaknya sang host yang sampai menutup wajahnya mendengar pembelaan sang pendukung Trump atas kontroversi rekaman ucapan Trump yang sedang heboh itu, tapi lucunya, saya jadi mulai mengerti.

Saya mengerti bahwa cara berpikir setiap manusia tidaklah sama, dan karenanya, seringkali apa yang dipikirkan oleh seorang A akan sulit sekali diterima oleh B, yang memiliki keyakinan berbeda.

Mereka yang mendukung Hillary Clinton mungkin tak akan pernah mengerti jalan pikiran orang-orang yang memberikan suaranya untuk Trump dan terus mendukungnya meski semua bukti keburukan sang milyarder diungkap. Bagi mereka, itu adalah hal yang tak masuk akal – tetapi di balik itu, pastilah ada alasan mengapa mereka, para pendukung Trump, melakukannya.

Barangkali karena mereka tetap meyakini bahwa Trump akan membawa perubahan signifikan bagi Amerika dengan caranya yang tidak konservatif. Barangkali mereka sudah muak dengan politik yang penuh topeng dan kata-kata semanis madu yang tak memberikan gebrakan apapun. Barangkali mereka bosan melihat kemunafikan ‘politik yang baik’ dan melihat Trump sebagai sosok yang berbeda yang akan menghadirkan perubahan yang mereka inginkan.

Toh, kalau kita pikir-pikir lagi, alasan itu mirip-mirip dengan alasan orang-orang memilih mendukung Ahok walaupun sang petahana begitu kontroversial. Ahok bukanlah tipikal politisi yang kita ketahui selama ini, tapi bagi banyak orang, gayanya lebih disukai karena mereka sudah muak kata-kata manis khas politisi. Mereka seolah sepakat bahwa Ahok adalah orang yang tepat untuk memberikan perubahan besar, untuk menghapus birokrasi-birokrasi berbelit yang selama ini menghambat perkembangan ibukota.

Bagi mereka yang tidak menyukai Ahok, terutama mereka yang tidak suka karena ‘ketidaksantunannya’, bukan mereka yang tak suka karena agama atau rasnya, jalan pikiran orang-orang yang mendukung Ahok pastilah tak dapat dimengerti. “Mengapa sih orang-orang ini memilih pemimpin yang tak punya sopan santun seperti itu?” atau “Kenapa mereka mendukung pemimpin yang suka menggusur seenaknya itu?” Barangkali seperti itulah isi pikiran mereka. Tak jauh berbeda dengan para pendukung Hillary Clinton, yang tak mengerti kenapa ada orang yang mau mendukung calon presiden yang cabul dan rasis seperti itu.

Kalau dipikir-pikir, mirip kan?

Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa cara berpikir dan keyakinan setiap orang berbeda-beda. Ada banyak aspek yang menentukan kedua hal tersebut: mulai dari latar belakang keluarga (bagaimana ia diajarkan di rumah), sekolah, akses informasi yang didapat, dan lainnya. Apa yang kita yakini saat ini, bahkan, ditentukan juga dengan berbagai hal yang terjadi bertahun-tahun yang lampau dalam hidup kita. Bagaimana kita tumbuh dan di mana lingkungan kita berkembang memengaruhi betul cara berpikir dan keyakinan kita.

Dan hal ini tidak saja berpengaruh pada sikap politik kita – kehidupan kita sehari-hari pun dipengaruhi betul dengan cara kita berpikir dan keyakinan kita. Karenanya, sungguh penting untuk memiliki rasa tenggang rasa, untuk bisa menghormati pendapat dan pilihan orang lain. Hal yang, sayangnya, sudah sering kita lupakan dalam kehidupan kita sehari-hari…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here