Pelajaran Hidup: Betapa Pentingnya Merencanakan Keuangan

Beberapa hari yang lalu, saya sempat membaca sebuah judul artikel di Vox.com (untuk yang bertanya-tanya: ya, saya secara reguler membaca Vox.com dan The Guardian), berbunyi, “Why we need to plan for a future without jobs“. Mengapa kita harus merencanakan masa depan tanpa pekerjaan. Artikel ini tidak membicarakan soal merencanakan masa pensiun, tapi mengenai prospek sebagian besar pekerjaan manusia akan dikerjakan oleh mesin. Dan bagaimana manusia harus bersiap untuk memiliki keahlian lain yang tak bisa ditiru oleh robot dan komputer. Meski begitu, ketika membaca judulnya, saya langsung teringat pengalaman yang saya rasakan setahun yang lalu.

Tahun 2015 adalah tahun yang cukup berat bagi saya karena saat itu saya harus kehilangan pekerjaan saya di sebuah situs sepakbola yang baru berusia beberapa tahun. Saya menjabat sebagai editor di sana, dan selama satu tahun lebih, saya mendapatkan pemasukan yang cukup besar untuk seorang yang baru dua tahun lulus kuliah. Tapi tiba-tiba semuanya berubah menjadi mimpi buruk, dan saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus diputus kontraknya tanpa pesangon karena suatu alasan.

Itu adalah salah satu periode paling sulit dalam hidup saya. Bagaimana caranya bertahan hidup di Jakarta (oke, Depok) tanpa pemasukan dan hanya bermodal tabungan sebesar dua bulan gaji sementara saya masih punya cicilan motor yang cukup besar nilainya?

Itu adalah periode yang buruk, tapi di sisi lain juga sangat berharga bagi kehidupan saya: saat itulah saya menyadari beberapa hal penting. Bahwa mencari pekerjaan saat ini, meski memiliki pengalaman yang cukup banyak dan merupakan lulusan dari universitas ternama, bukanlah hal yang mudah. Bahwa hidup untuk masa sekarang dan tak terlalu mengkhawatirkan masa depan adalah hal yang bodoh. Bahwa kita benar-benar harus merencanakan keuangan kita dengan baik.

Saya jadi ingat, suatu hari, teman saya, Hades, pernah menanyakan pendapat saya soal bekerja sebagai freelancer. Pekerja lepas. Waktu itu, dia baru saja mengundurkan diri dari kantornya, sebuah agensi digital di Jakarta. “Gue mau jadi freelancer, tapi masih ragu,” kira-kira begitu inti pesannya ketika itu.

Salah satu saran yang saya sampaikan adalah, belajar mengelola keuangan dulu. “Apa lo bisa mengatur keuangan lo? Freelancer kan kerjanya nggak tetap, nggak selalu ada kerjaan.” Dan itu betul. Rekan kerja saya di FourFourTwo, yang seorang fotografer lepas, pernah bercerita pada saya soal pentingnya menabung karena tidak setiap bulan ada pekerjaan untuknya. Kadang, dalam sebulan, ada banyak permintaan sekaligus yang membuat dia mendapatkan pemasukan seperti tiga bulan gajinya di kantor dia yang lama, tapi kadang ada juga momen ketika dia tidak mendapatkan tawaran job apapun selama sebulan penuh. “Ya kalau kayak gitu, gue hidup dari tabungan gue,” katanya.

Tapi, percayalah, menabung untuk situasi yang tidak terduga, atau yang disebut juga dana darurat, adalah hal yang penting buat SEMUA ORANG, termasuk mereka yang punya pekerjaan tetap sekalipun. Karena, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi. Misalnya, apakah ribuan orang yang di-PHK oleh perusahaan tambang di sepanjang tahun 2016 ini sebelumnya tahu bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan mereka? Apakah kamu yakin bahwa pekerjaanmu akan aman selamanya? Apakah kamu yakin tidak akan terjadi sesuatu yang begitu darurat yang membuatmu membutuhkan dana besar?

Saya belajar ini dari pengalaman saya selama menganggur dulu. Setelah selama beberapa tahun memiliki gaji yang cukup besar, saya hampir tak punya tabungan sama sekali dan tak tahu ke mana uang saya pergi. Walhasil, ketika menganggur, saya kelimpungan. Tak punya pemasukan, tapi memiliki pengeluaran besar setiap bulan.

Tidak mempunyai dana darurat untuk situasi yang tidak terduga seperti itu adalah penyesalan terbesar saya ketika menganggur. Pengalaman itulah yang membuat saya berubah dan mulai mengelola keuangan saya dengan hati-hati.

Percayalah, seandainya saya mengetahui hal ini sejak awal, saya pasti akan melakukannya sejak saya pertama kali bekerja.

Mengelola keuangan sebetulnya juga bukan hal yang sulit – menekan keinginan untuk membeli sesuatu yang sebetulnya tak penting-penting amatlah yang paling sulit. Mulailah dengan mencatat pengeluaran-pengeluaran tetap yang pasti terjadi setiap bulan, lalu hitung sisanya. Kemudian sisihkan sebagiannya untuk tabungan, dan sisanya adalah uang yang bisa kamu habiskan selama sebulan penuh. Tapi, agar tidak overbudget dan menganggu tabungan yang sudah disisihkan, buatlah sebuah batasan pengeluaran, misalnya per hari atau per minggu.

Hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah disiplin: bahwa apapun yang terjadi, kamu tidak boleh menganggu gugat pos pengeluaran tetap yang lain dan, terutama, tabungan, kecuali sesuatu yang benar-benar gawat terjadi. Aspek disiplin inilah yang paling sulit, karena terkadang, kita bisa tidak tega melihat ada uang yang menganggur di rekening kita. Rasanya ingin menggunakannya untuk membeli sesuatu…

Lalu, berapa banyak sih harus menabung untuk dana darurat? Menurut berbagai sumber yang saya pelajari, idealnya jumlah dana darurat adalah 3-12 kali jumlah pengeluaran kita selama sebulan. Lebih besar, tentu lebih baik.

Saran saya yang lain: gunakan persentase untuk menentukan berapa jumlah yang perlu kamu tabung dalam sebulan. Minimal, sisihkanlah 10 persen pemasukanmu untuk ditabung. Dan yang lebih penting: sisihkanlah dari awal, sejak kamu menerima pemasukan, jangan menabung di akhir bulan alias mengandalkan sisa pengeluaran selama sebulan penuh.

Saran saya yang terakhir: jangan menunggu sampai kondisi sudah gawat untuk mengelola keuangan. Karena penyesalan biasanya datang terlambat…

Catatan: kenapa fotonya sepatu? Asal comot aja yang ada di galeri Google Photos saya…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here