Merindukan Penang

Merindukan Penang

Ternyata sudah agak lama juga saya tak menulis sesuatu di blog ini. Menyedihkan. Pada akhirnya, niatan untuk menulis secara reguler sedikitnya tiga postingan dalam seminggu harus mengalah pada kesibukan yang menyita waktu dan tenaga.

Bahkan, dalam keadaan tak sibuk-sibuk amat pun, kadang menulis di blog bisa terasa sangat sulit. Entah apakah ini karena dalam keadaan tak sibuk-sibuk amat pun saya hampir pasti sehari penuh berada di depan laptop sehingga sungguh malas rasanya jika harus menatap laptop lagi pada malam hari demi mengupdate blog, atau karena pekerjaan saya yang juga berkaitan dengan teks sehingga menulis postingan untuk blog bisa terasa berat.

Entahlah. Tapi sepanjang dua minggu ini, pekerjaan saya memang agak padat, sehingga jangankan menulis, menonton serial yang biasanya saya sempatkan satu atau dua episode per hari pun harus dikorbankan. Dan, seperti biasa ketika sedang dipenuhi dengan pekerjaan dan harus belasan jam di depan layar komputer, saya sekali lagi merindukan liburan.

Berbeda dengan biasanya, selama kesibukan saya dua minggu ini, saya sungguh merindukan Penang. Sebuah pulau kecil di timur laut Malaysia yang terhubung dengan daratan utama semenanjung Malaya dengan jembatan dan kapal feri kecil, Penang merupakan salah satu tempat liburan yang masih terus saya kenang hingga saat ini.

Lucunya, saya masih terus terkenang dengan liburan saya ke Penang bukan karena destinasinya. Penang memang indah, dan sungguh damai – betul-betul seperti destinasi liburan yang saya sukai. Tetapi aspek yang paling saya senangi dari liburan saya ke Penang sekitar tiga tahun yang lalu itu adalah pengalaman saya selama di sana.

Saya pergi ke Penang sendirian, ketika itu karena mendapatkan tiket murah ke Kuala Lumpur dan memang penasaran dengan Penang, kota yang gagal saya kunjungi dalam ‘Banana Pancake Trip’ bersama Uli dan Niken di tahun terakhir kami kuliah. Alasan saya pergi sendiri pun sederhana: saya sungguh malas mengajak sana-sini untuk berlibur.

Sampai detik ini, saya masih hampir mengingat jelas bagaimana saya pergi ke Penang: menggunakan sleeper train hingga Buttersworth, menyeberang menggunakan kapal feri di waktu fajar, menunggu bus gratis pertama berangkat, lalu hujan-hujanan berjalan kaki dari pemberhentian terdekat ke masjid dekat penginapan saya untuk menunggu penginapan dibuka.

Saya ingat bagaimana saya berjalan keliling Georgetown yang tua namun indah untuk berburu mural-mural cantik yang memang menjadi ciri khas kota tua yang masuk dalam cagar budaya UNESCO ini. Saya akhirnya gagal menemukan semuanya, tapi setidaknya saya benar-benar ‘bertualang’ di kota kecil itu: saya bahkan datang ke kampung nelayan setempat dan melihat kehidupan masyarakat sana.

Saya juga masih ingat bagaimana saya melakukan hiking untuk pertama kalinya untuk naik ke puncak Bukit Penang, berkenalan dengan seorang Malaysia yang merupakan seorang pendaki gunung bersama tiga orang temannya, bagaimana kami berjalan bersama hingga puncak dan berbincang berbagai macam hal termasuk rencana kawan baru saya itu mendaki Rinjani.

Tapi momen yang paling berkesan buat saya dari kunjungan ke Penang adalah bagaimana saya bisa menghabiskan berjam-jam waktu sore untuk membaca buku di Penang Esplanade, sebuah area taman di pinggir pantai di mana banyak warga lokal menghabiskan waktu bersama teman atau keluarga di sore hari.

Itu adalah momen yang sungguh menyenangkan. Tanpa gangguan internet, tanpa notifikasi ponsel – hanya buku dan debur ombak. Inilah aspek yang sangat saya rindukan; setelah puluhan jam di depan berbagai macam jenis komputer (jangan lupa, ponsel pintar kita juga komputer), sepertinya saya membutuhkan detoksinasi berupa liburan tanpa gangguan internet dan gawai (oke, saya tetap butuh internet dan gawai saya… tapi cukup di malam hari saja ketika mendapatkan wifi di hotel. Hahahaha…).

Saya sepertinya membutuhkan slow traveling seperti itu. Tanpa target harus mengunjungi berbagai tempat wisata (saya mungkin hanya mengunjungi satu atau dua museum dan melihat Gereja St. George dan benteng Fort Cornwallis dari luar saja selama di Penang), dan benar-benar menikmati waktu yang berjalan lambat selama liburan.

Ah, itu pasti menyenangkan sekali. Pertanyaannya kemudian: kapan?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 6 comments for this article
    • ekkyrezky Author at 1:57 pm

      Maaf baru buka blog lagi. Bisa dicoba mbak kalau mau liburan yang gak terlalu mainstream tapi gak terlalu mahal juga. 🙂

  1. Susindra at 9:11 am

    Iya, saya juga lebih suka liburan yang slow, tak terstruktur ketat seperti dengan agen travel. Tapi memang semua ada plus minusnya sih.

    Makasih bagi kisahnya di artikel ini Mbak. Ini kali ketiga saya baca tentang Penang dan wall art-nya. Jadi makin ingin ke sana

    • ekkyrezky Author at 1:59 pm

      Maaf baru buka blog lagi. Kebetulan saya laki-laki mbak. 😀

      Tergantung tipe orang juga. Mungkin buat beberapa orang, liburan slow begini malah bisa membosankan dan buang-buang waktu. Tapi di tengah kehidupan yang semakin cepat, berhenti sejenak untuk menikmati waktu sepenuhnya juga perlu.

      Btw silakan ke Penang, gak terlalu mahal juga tiketnya, kok. Gak mainstream juga. Terima kasih sudah berkunjung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *