Mewawancarai Zola

Mewawancarai Zola

Tak sampai satu minggu setelah saya mewawancarai Gianfranco Zola (bersama beberapa rekan media lainnya), Paolo Bandini, seorang jurnalis Italia yang juga merupakan kolumnis tetap di surat kabar ternama Inggris, The Guardian, mengeluarkan artikel wawancara dengan orang yang sama.

Menariknya, ia mengambil pembahasan utama yang sedikit mirip dengan yang saya ajukan: mengenai kehidupannya sebagai manajer dan tentang bisnis gelato-nya di London.

Bedanya? Tentu saja, kualitas dan pengalaman berbicara: tulisan Bandini jauh lebih dalam, lebih personal, dan lebih menarik daripada artikel wawancara yang saya hasilkan.

Tetapi saya tentu bisa berkilah; selain soal pengalaman yang memang kalah jauh, saya tidak mendapatkan kesempatan yang sama yang mungkin didapat Bandini – rencana saya untuk mewawancarai Zola sendirian kandas karena acara yang ia hadiri di Jakarta ngaret sampai satu jam dan imbasnya, saya harus mewawancarainya bersama beberapa wartawan lain secara sekaligus, yang berarti saya harus berbagi kesempatan bertanya dengan yang lain.

Itu bukan situasi yang ideal; selain Anda tidak bisa menanyakan semua yang ingin Anda tanyakan, Anda juga harus menjalani sesi wawancara yang mbingungi, karena sementara saya ingin bertanya soal kehidupannya sebagai manajer, yang lain lebih ingin bertanya soal kegagalan Italia di kualifikasi Piala Dunia, misalnya.

Beruntung lah saya sempat ‘mendominasi’ awal sesi sehingga sempat mendapatkan beberapa jawaban yang memang saya cari. Tak semua pertanyaan saya bisa dijawab, sesuatu yang sangat disayangkan, karena jujur saja, ketimbang mencari pendapatnya soal kegagalan Italia atau soal Ronaldo vs Messi, saya lebih ingin mencari tahu insight tentang kariernya sebagai manajer, bagaimana efek kegagalan bagi psikologisnya, apa yang membuatnya mau mengambil pekerjaan di Qatar (dan gagal total), dan semacamnya.

Bagi saya, hal-hal yang mungkin hanya dirasakan dan dialami oleh orang-orang tertentu, seperti yang dialami Zola – seorang pemain luar biasa namun tak begitu beruntung sebagai manajer – jauh lebih menarik; dari sisi itu, kita bisa membayangkan betapa beratnya menjadi seorang manajer, sebuah kehidupan yang tidak pernah benar-benar kita ketahui, bahkan meski Anda bermain Football Manager sepanjang tahun sekalipun.

Sayangnya, saya tidak punya kesempatan untuk menanyakannya pekan lalu. Tapi setidaknya, saya bisa membaca sebagian dari apa yang ingin saya ketahui dari Zola di artikel Bandini ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *