Karena Nabi pun Menghormati Makanan…

Kalau ada yang bertanya mengapa tubuh saya besar dan punya nafsu makan yang besar pula, saya biasanya ‘menyalahkan’ almarhumah nenek saya. Sebagai orang yang sering mengasuh saya ketika kecil, beliau memang tak pernah tidak memberikan saya makan dalam porsi yang banyak dan wajib dihabiskan. Hal inilah yang, menurut saya, jadi penyebab saya memiliki nafsu makan yang besar dan memiliki tubuh yang besar pula.

Ajaran untuk menghabiskan makanan itu kemudian benar-benar membentuk sikap dan kebiasaan saya saat makan. Kebiasaan untuk selalu menghabiskan makanan jadi terbawa terus sampai saya besar. Bahkan di rumah, saya mendapatkan julukan “si tempat sampah” karena selalu menjadi orang yang menghabiskan sisa lauk yang masih ada di atas meja makan ketika yang lain sudah selesai makan. Kadang, ini karena saya memang menginginkannya, tapi lebih sering lagi kasusnya adalah karena saya merasa sayang jika makanannya dibuang (ini paling sering terjadi kalau makan dengan Deony yang makannya sering tak habis!).

Saya memang sangat tidak tega kalau melihat ada makanan yang dibuang. Sebisa mungkin, saya akan berusaha untuk mencegah hal itu terjadi, kecuali saya sudah benar-benar kenyang atau saya benar-benar tidak suka makanan yang tersisa.

Tapi bukan cuma nenek saya saja yang membentuk sikap saya ini. Kakek saya (yang saya panggil Datuk, sementara panggilan untuk nenek adalah Mamam – saya pun tak paham alasannya kenapa), juga beberapa kali menegur saya jika saya menyisakan makanan. Tapi berbeda dengan Mamam, nasihat-nasihat Datuk lebih dipertegas dengan argumen agama.

Dari Datuk lah saya mengetahui kisah kalau Nabi Muhammad SAW selalu makan hingga piring bersih dari sisa makanan. Nabi pun, menurut ceritanya, juga seringkali menjilati sisa makanan di jari-jarinya (sesuatu yang jadi kebiasaan saya juga akhirnya). Ini bukan karena Nabi rakus, tetapi agar benar-benar tidak ada makanan yang tersisa. Agar sisa makanan kita tidak dimakan oleh setan, katanya.

Dari Datuk lah saya tahu kalau Nabi sangat menghormati makanan, walau beliau tidak pernah menyebutkan hadistnya secara utuh. Hari ini, saya tiba-tiba teringat kisah Datuk mengenai Nabi setelah melihat foto-foto roti yang diinjak-injak oleh mereka yang mengaku muslim di media sosial, dan akhirnya memutuskan untuk mencari apakah benar ada hadist-nya lewat gugel.

Mengenai menjilati jari, inilah yang saya temukan:

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031).”

(Sumber: https://muslim.or.id/44-adab-makan-seorang-muslim-3.html)

Sedangkan mengenai menghormati makanan, ini yang saya temukan:

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].”

(Sumber: https://almanhaj.or.id/3788-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-pernah-mencela-makanan.html)

Sikap Nabi sederhana sekali: jika suka, makanlah, jika tidak, tinggalkan saja tapi tak perlu mencelanya. Dan meski saya bukan seorang yang berpengatahuan soal agama, saya cukup tahu kalau Bukhari dan Muslim adalah dua sumber hadist yang terpercaya. Artinya, ini benar-benar merupakan ajaran Nabi, bukan yang dibuat-buat.

Nabi jelas tidak mungkin menganjurkan pengikutnya untuk menginjak-injak roti yang tak berdosa Roti-roti yang hanyalah korban dari kesalahpahaman yang tercipta berkat kesalahan strategi PR perusahaan pembuatnya dan berkat provokasi-provokasi oknum tertentu di dunia maya.

Roti-roti yang sebetulnya enak (terutama varian roti sobek coklat srikaya…) dan bisa disumbangkan bagi mereka yang membutuhkan.

Ah, sayang sekali. Saya pikir, sebagai seorang yang mengaku membela agamanya, seharusnya mereka yang menginjak-injak roti itu sudah belajar tentang ajaran Nabi-nya…

Catatan: Sayang sekali saya tak punya foto roti, padahal hampir setiap hari makan roti tawar. Jadilah saya gunakan foto longtong sayur Padang yang ternyata ENAK BETUL.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here