Namaku Jati…

Namaku Jati…

“Namaku Jati,” kataku kepada laki-laki tua yang duduk di sampingku di bus malam menuju Jogja.

“Aku berani bertaruh, bapakmu pasti menginginkanmu sekuat kayu jati,” ujarnya.

“Mungkin,” jawabku sambil mengangkat bahu.

Lalu kusebutkan nama lengkapku, yang membuatnya langsung menengok ke arahku dengan mata yang terbuka lebar. Beberapa detik kemudian, ia terkekeh.

“Tebakanku betul.”

“Karena itulah aku tak menerima tantangan taruhanmu, Pak.”

***

Entah kenapa, aku memikirkan kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lampau itu ketika aku sedang duduk menunggu namaku dipanggil oleh apoteker rumah sakit. Padahal, tak ada yang istimewa dengan kejadian di bus malam itu. Pun demikian dengan reaksi si laki-laki tua. Beberapa kali aku mendapatkan reaksi yang jauh lebih buruk.

Namaku Jati. Lengkapnya, Lelaki Sejati. Kau mungkin tak percaya, tapi ini serius. Bapakku memberikan nama itu setelah berbulan-bulan tak menemukan nama yang sesuai dengan keinginan, eh, filosofinya. Awalnya ia ingin menamaiku Power Man, seperti Luke Cage di komik Marvel, tapi ia tak ingin orang-orang salah menyebutkan nama belakang anaknya seperti ‘man’ dalam nama ‘Herman’, alih-alih ‘man’ dalam bahasa Inggris yang berarti laki-laki.

Ibu tak bisa apa-apa dan hanya menerima keputusan bapak. Pasalnya, ketika kandungannya berusia lima bulan, ia kalah taruhan dengan bapak. Ibu bertaruh Hillary Clinton bakal menang mudah di pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016, sementara bapak memegang Donald Trump. Taruhannya, tentu saja, hak untuk menentukan namaku yang saat itu masih di dalam rahim.

Ibu sebetulnya sudah sangat yakin akan menang. Ia berpikir, Trump sedang menggali kuburannya sendiri dengan membuat kaum hispanik dan muslim marah dengan ucapan-ucapannya ketika kampanye. Amerika, yang memilih seorang presiden berkulit hitam dalam dua pemilihan presiden sebelumnya, tak akan memberikan toleransi pada seorang bigot yang menjadi kandidat presiden seperti Trump. Sementara ayah lebih menyukai Trump karena menurutnya, ia benar-benar lelaki: berani berbicara apa yang ia pikirkan, tak peduli jika hal itu akan membuatnya dibenci.

Bapak adalah seorang petinju amatir yang merangkap sebagai preman pasar pagi tak jauh dari rumah. Setelah agak tua, ia memang melepaskan karier yang disebutkan pertama, tetapi di saat mudanya, ia adalah petinju yang benar-benar penuh semangat. Tinju adalah passion hidupnya, bahkan meskipun ia tahu dirinya tak terlalu berbakat.

Ia selalu bersemangat ketika menceritakan karier tinjunya kepadaku. Tak jarang ia mengajak, atau lebih tepatnya memaksa, aku menonton rekaman-rekaman pertandingannya. Aku tak pernah memahami tinju, jadi aku tak bisa menentukan seperti apa gaya tinjunya. Tapi aku tahu bahwa ia bukan petinju yang hebat. Karena aku bisa melihat betapa seringnya ia kena pukul lawannya.

Bapak juga bukan petinju yang cerdas-cerdas amat. Meski sebetulnya minimnya bakat tinju yang ia miliki bisa ditutupi oleh strategi yang bagus, ia tak pernah punya strategi apapun selain tampil habis-habisan. Ia tak pernah mau bertahan, atau setidaknya berusaha melindungi agar wajahnya tak sering-sering kena pukul. Bertahan, baginya, adalah tindakan pengecut. Menyerang adalah satu-satunya jalan bagi seorang pria.

Bapak lebih sering kalah daripada menang, tapi setahuku, ia punya catatan karier yang menarik. Hanya ada dua kemungkinan yang akan muncul setiap kali ia bertanding: entah ia meng-KO lawan, atau ia di-KO lawan. Bapak tak pernah membiarkan pertandingannya berakhir dengan penghitungan juri.

Aku bisa membayangkan betapa bahagianya bapak ketika mengetahui calon anaknya adalah laki-laki. Bahkan meskipun sejak jauh-jauh hari, ibu sudah menegaskan bahwa ia tak akan mengizinkan anaknya menjadi petinju atau profesi lain yang melibatkan kekerasan. Bapak, walau dengan hati berat, menerima keputusan ibu karena ia begitu mencintai perempuan itu, tetapi ia tetap berharap ke-macho-annya bisa menurun ke sang anak. Ia ingin anaknya menjadi seorang laki-laki sejati, sekalipun jika akhirnya sang anak tak akan meneruskan kariernya.

Itulah mengapa ia menamaiku Lelaki Sejati. “Nama adalah doa,” katanya suatu hari ketika aku masih belum sekolah. “Dan aku berharap kau bisa tumbuh dewasa dan memiliki sifat yang sesuai dengan namamu.”

***

Sejak aku di taman kanak-kanak, bapak sudah mengajariku bela diri. Selain sering menyuruhku memukul-mukul sebuah guling yang digantung layaknya tas pasir setiap sore di rumah, ia juga mengikutkanku berlatih karate. Ia juga mendoktrinku, bahwa laki-laki harus begini, harus begitu. Bahwa laki-laki tak boleh lari, ia harus menghadapi apapun dengan gagah berani.

Yang paling utama, ia mengajariku untuk menghajar siapapun yang menjelek-jelekkan nama panjangku.

Oh, tentu saja aku diolok-olok sejak kecil karena nama panjangku yang tak lazim. Di sekolah, di rumah, di masjid, di manapun. Salah satu ejekan yang paling aku ingat sampai sekarang adalah ketika seorang anak yang beberapa tahun lebih tua dariku mengatakan, “Kenapa bapakmu tidak sekalian menamaimu ‘Saya Punya Titit’?”

Sialnya bagi bapak, aku ternyata berkembang menjadi seorang anak yang tak menyukai kekerasan.

Tentu saja aku tetap mengikuti semua ‘les’ yang bapak berikan soal menjadi laki-laki sejati. Tentu saja aku tetap berlatih tinju dan karate di rumah dan di lapangan desa hampir setiap sore. Tentu saja bapak terus menanamkan doktrinnya soal laki-laki sejati. Tapi semuanya tak pernah memengaruhiku.

Tak seperti keinginan bapak, aku tak pernah menghajar (atau setidaknya mencoba menghajar) siapapun yang mengolok-olok namaku. Aku menjadi seorang anak yang nrimo. Tidak, aku tidak begitu cuek sampai tak merasa sakit hati ketika aku diejek. Tentu saja aku merasa sakit hati setiap kali aku dicela karena nama panjangku. Tapi ketidaksukaanku pada kekerasan membuatku tak pernah begitu emosional untuk kemudian melancarkan serangan fisik pada lawan-lawanku.

Aku selalu berpikir, biarlah karma yang akan memberikan mereka ganjaran. Namun bapak tak percaya karma. Ia sama sekali tak suka aku bersikap seperti orang tak berdaya. Entah berapa kali ia memarahiku habis-habisan ketika tahu bahwa aku tak berbuat apa-apa saat diejek anak lainnya. Kena satu atau dua pukulan setiap kali bapak mengetahui bagaimana aku membiarkan diriku sendiri diejek adalah hal biasa.

Suatu hari, kesabaran bapak habis dan ia menghajar anak Pak RW yang memang sangat sering menjelek-jelekkanku. Aku tak tahu separah apa ia menghajarnya – yang aku tahu, ketika bapak pulang, aku melihat ada bercak darah di kepalan tinjunya. Wajahnya merah ketika ia masuk ke dalam rumah, melihatku duduk diam di atas sofa di depan TV. Ibu menangis di meja makan. Ia tahu, bapak membuat masalah besar kali ini. Tapi ia ternyata belum selesai.

Wajahku mungkin tak sehancur anak Pak RW hari itu, tapi kenyataannya, bapak menghajarku juga. Kali ini, ia lebih beringas daripada biasanya. Aku pikir, ia mungkin sudah lelah bersabar. Saat itu, ia mungkin menyadari bahwa aku tak akan pernah bisa seperti harapannya. Tapi hal itu tak membuatnya lantas menerima kenyataan yang, baginya, pahit ini. Ia pun meluapkan emosinya pada tubuhku. Dan, tentu saja, pada tubuh anak Pak RW.

Ibu tak berbuat apa-apa dan hanya menangis hebat. Aku memang tidak seperti yang diharapkan bapak, tapi siang itu, aku tidak menangis. Satu jam setelah bapak masuk ke dalam rumah dengan kepalan tinju diwarnai bercak darah, polisi datang menjemputnya.

Ibu masih menangis di meja makan. Aku masih duduk diam di atas sofa, kali ini dengan wajah penuh darah.

Hari itu adalah hari pembebasanku.

***

Aku tersadar dari lamunanku ketika namaku dipanggil oleh apoteker. Di tangannya adalah plastik bening berisi obat-obatan yang ada dalam resep yang diberikan dokter kepadaku.

“Saudara Jati?”

“Iya betul,” jawabku.

“Ini semua obat yang ada di resepnya. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

“Tidak. Ini saja, terima kasih.”

“Baik. Silakan langsung dibayar di kasir ya.”

“Ya, terima kasih.”

Aku lalu berjalan ke arah kasir. Terpikirkan sesuatu, aku lantas berbalik dan menghampiri lagi apoteker yang tadi.

“Mbak, lain kali panggil aku Nona Jati, ya,” kataku sambil tersenyum. Apoteker itu kaget. Aku berlalu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 10 comments for this article
    • ekkyrezky Author at 10:43 am

      Makasih Nae udah baca!

      Iya, semua doktrin laki-laki sejati ala bapaknya ternyata malah membuat Jati memberontak dan berjalan ke arah sebaliknya. 🙂

  1. ari at 4:38 pm

    setelah di baca ternyata yang jadi lelaki sejati itu wanita ya :D.

    cuma bapaknya gak mau terima kalo anak yang di lahirkan istrinya wanita jadinya dia tetap menamakan anak perempuannya lelaki sejati hehehe

    bagus pak ceritanya di tunggu cerita lainnya pak

    • ekkyrezky Author at 11:49 am

      Wah, ini interpretasi baru. Kebanyakan yang baca bilangnya ini transgender. Tapi memang bisa diliat dengan cara itu juga. 😀

      Makasih sudah baca dan berkunjung ya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *