Ngeri

Ngeri

Sang Khatib, yang bersuara lantang itu, tiba-tiba membahas musibah yang menimpa pesawat Air Asia QZ8501. Ia menggambarkan bagaimana orang-orang di dalam pesawat, para penumpang dan kru pesawat, mungkin tidak pernah merasa bahwa mereka akan mati hari itu. Mereka tidak menyangkanya sama sekali. Ia lalu menggambarkan bahwa para korban tidak mungkin berpikir soal kematian karena mereka memikirkan akan bersenang-senang di Singapura. Merayakan tahun baru masehi di sana. Mungkin juga akan maksiat, katanya. “Sebagian (orang) Cina itu.”

Saya tidak mengerti mengapa orang rasis yang tak memiliki empati seperti ini masih dibiarkan menjadi khatib di dunia ini. Menjadi orang yang memberikan khotbah, ceramah, yang mungkin akan mempengaruhi pikiran banyak orang yang mendengarkannya – terlebih anak-anak kecil yang belum bisa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Saya tidak tahu apa isi kepalanya sehingga ia bisa seenaknya menghakimi para korban, dan berbicara tanpa rasa empati, tanpa rasa hormat pada mereka yang mungkin tak seperti dugaannya. Dan menyebut kata “Cina” dengan nada yang, menurut saya pribadi, terdengar melecehkan.

Saya tidak tahu mengapa orang rasis tanpa empati seperti ini masih bisa dipercaya.

Tapi sayangnya orang seperti ini tak hanya ada satu. Ada banyak yang seperti dirinya dan tak jarang juga mereka menjadi orang yang dipercaya kata-katanya, menjadi orang-orang yang dihormati di masyarakat. Dan ngeri rasanya jika membayangkan bahwa orang-orang tanpa empati seperti ini menjadi orang yang berpengaruh di sekitar kita. Apalagi jika mereka adalah orang yang berpengaruh di bidang agama, yang pengaruhnya bisa lebih besar lagi di masyarakat.

Ngeri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *