Online & Offline Tak Perlu Bersaing, Tapi Saling Melengkapi

Online & Offline Tak Perlu Bersaing, Tapi Saling Melengkapi

Sore ini saya membaca artikel menarik di Tirto tentang New Retail, konsep perdagangan baru yang dikembangkan Grup Alibaba di China, yang berniat menggabungkan perdagangan online dan offline. Tak cuma Alibaba, pesaing utamanya, Tencent, pun sedang mengembangkan konsep serupa yang bernama Smart+.

Ini bukan pertama kalinya saya mengetahui soal revolusi perdagangan online dan offline yang sedang terjadi di Negeri Tirai Bambu. Sebelumnya, saya pernah menonton video “How China is Changing Your Internet” dari The New York Times. Video ini memang tak secara khusus menyoroti soal revolusi perdagangan online dan offline tersebut, tetapi lebih membahas soal super-app seperti WeChat, yang menyediakan berbagai layanan dalam satu aplikasi. Tetapi salah satu yang jadi pembahasan adalah bagaimana seseorang di Tiongkok bisa memesan dan membayar makanan di sebuah restoran tanpa dilayani pelayan dan kasir, namun melakukan segalanya lewat WeChat. Lihat menit ke 3:00 dalam video di bawah ini untuk langsung ke bagian tersebut.

Ada banyak video lain di YouTube yang menggambarkan revolusi gaya hidup masyarakat China dalam hal berbelanja, misalnya “China’s Great Leap to Wallet-Free Living” dari Wall Street Journal. Lihat videonya di bawah ini:

Pada intinya sama: para pengembang aplikasi dan perusahaan besar China telah mengembangkan sebuah gaya berbelanja baru di mana online dan offline bersatu, persis seperti yang diceritakan oleh artikel Tirto yang saya baca sore ini.

Bagi saya isu ini menarik karena hal ini sudah terpikirkan selama beberapa waktu: bahwa perkembangan bisnis online seharusnya tidak membuat bisnis retail offline tergerus – sebaliknya, kehadiran e-commerce sebetulnya bisa menjadi pendorong berkembangnya bisnis offline yang dijalankan.

Saya terpikirkan ini setelah membaca berita soal banyaknya toko retail offline yang tutup, baik toko-toko besar maupun toko-toko kecil. Misalnya pemberitaan soal banyaknya toko elektronik di Glodok yang tutup, yang menjadi tajuk pemberitaan pada Juli 2017 lalu. Kondisi yang mengenaskan jika kita mengingat bagaimana besarnya nama Glodok sebagai salah satu tujuan belanja elektronik yang tersohor di ibukota.

Kita mungkin akan langsung berpikir bahwa perkembangan perdagangan online yang membuat banyak orang tak perlu repot-repot berkendara jauh ke Glodok dan tinggal menunggu barang di antar ke rumah menjadi penyebabnya. Mungkin tak salah, tetapi perkembangan jaman seperti itu seharusnya tak menjadi alasan: mungkin yang menjadi masalah adalah para pedagangnya terlambat menyadari pentingnya ikut dalam perkembangan jaman dan menggunakan platform online untuk menjajakan dagangannya.

Bagi saya pribadi, keberadaan toko offline masih sangat penting meski saya juga sudah sangat terbiasa berbelanja secara online. Ada kalanya, terutama menyangkut barang yang berharga mahal seperti ponsel atau laptop, saya lebih menyukai membelinya secara langsung di toko ketimbang ‘berjudi’ dengan membelinya di toko online yang tidak jelas. Atau, jika harga di online lebih murah daripada offline, saya akan mencoba mencari toko online yang memiliki toko fisik, untuk memastikan bahwa ketika ada masalah dengan barang yang saya beli, saya tahu ke mana saya harus pergi.

Bagi saya, lapak online sangat penting untuk memberikan saya kepastian harga, mempermudah saya membandingkan harga satu toko dengan toko yang lain, untuk memastikan saya mendapatkan harga terbaik tanpa harus berkeliling satu toko dan toko lain yang pasti melelahkan. Sementara toko fisik secara offline tetap sangat penting untuk memberikan saya kepastian, ke mana saya harus pergi ketika saya harus mengadukan masalah dengan barang yang saya beli.

Online dan offline tak perlu bersaing, tetapi bisa saling melengkapi. Para pedagang offline seperti di Glodok bisa memanfaatkan kehadiran toko online untuk mempermudah para pelanggannya menemukan mereka, sementara kredibilitas para pedagang toko online bisa lebih baik jika mereka memiliki toko offline.

Begitulah. Yang saya pikirkan mungkin belum semaju yang dipikirkan Jack Ma atau Ma Huateng atau Jeff Bezos yang mencoba memadukan online dan offline dengan cara yang begitu futuristik. Tetapi saya menyetujui pemikiran mereka bahwa kedua aspek yang sebelumnya terlihat bersaing itu sebetulnya bisa saling melengkapi.

Seperti mengutip salah satu paragraph terakhir di artikel Tirto di atas: “Merujuk jurnal berjudul “Integration of Online and Offline Channels in Retail: The Impact of Sharing Reliable Inventory Availability Information” (2014) karya Santiago Gallino, mengungkapkan bahwa cara terbaik untuk berdamai dengan dunia online atau digital ialah dengan mengintegrasikan secara menyeluruh antara online dan offline.”

Siapa setuju?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article
  1. Addina at 9:45 pm

    tbh kalau aku harus seperti kaya yg di China itu aku masih takut sih Ky, bukan takut privacy, data, dsb, tapi lebih takut ke hal-hal di luar kendali semacam: hp mati, ga ada internet, dicuri, atau kelupaan. Tapi akibat culture itu juga, temen2 China aku hampir pasti ‘terikat’ sama hp nya (yang beberapa temen2 internasional menganggap ini kurang baik untuk sosialisasi).

    Anyway, untuk beli barang-barang pun aku sekarang banyak beli online (hp, kamera, elektronik lain), bahkan untuk baju aku juga sering beli online, dengan catatan aku ambil di toko offline (buat nyobain) jadi kalo ga cocok tinggal balikin. Sistem cashless di Eropa udah lumayan teraplikasi sih tapi lebih ke credit card karena semua akun bank di Eropa dianggap credit card secara otomatis, mungkin kalau di Indonesia diibaratkan sama Go-Jek dan Go-Pay kali ya yang paling mendekati..

    • ekkyrezky Author at 6:06 am

      Idem, sekarang gaya belanjaku juga sudah berubah banyak – apa-apa, nyarinya online dulu. Tapi ya itu, aku lebih suka beli di toko yang memang ada toko fisiknya untuk memastikan barang. Kayak terakhir aku beli lensa, tau tokonya lewat Tokopedia, tapi akhirnya dateng sendiri ke sana karena ngeri ada apa-apa sama pengirimannya dan karena toh tokonya gak jauh, cuma di Kemang.

      Kalau soal kultur di China itu, aku juga ngeri tapi lebih ke soal data pribadi. Sekarang, penyalahgunaan data pribadi yang remeh kayak nomor handphone yang dijual ke telemarketer aja udah bikin kesal karena bikin aku dapet telepon dan sms gak jelas, apalagi kalau data pribadi lain yang lebih besar juga disalahgunakan? Untuk praktis sih memang praktis banget. Tapi rasanya terlalu rentan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *