Penembakan di YouTube, Isu yang Lebih Rumit daripada Sekadar Isu Senjata

Penembakan di YouTube, Isu yang Lebih Rumit daripada Sekadar Isu Senjata

Sebelumnya dirilis di Kumparan.com pada 5 April 2018. Bisa dibaca di sini.

“Diyakini bahwa tersangka marah pada kebijakan dan praktik YouTube. Ini tampaknya menjadi motif untuk insiden ini,” kata Kepala Kepolisian San Bruno, Ed Barberini, seperti dikutip The New York Times.

Nasim Aghdam ‘sukses’ menyita perhatian pada Selasa (4/4) kemarin setelah melakukan aksi penembakan di kantor YouTube di San Bruno, California, Amerika Serikat. Ia melukai tiga orang dengan aksinya, sebelum kemudian mengakhiri hidupnya sendiri dengan pistol yang ia bawa. Beritanya pun menjadi tajuk utama di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

AS memang sudah tidak asing lagi dengan insiden penembakan seperti ini. Menurut laporan Gun Violence Archive, sebuah organisasi non-profit yang memonitor insiden penembakan di Amerika Serikat, di sepanjang tahun 2018 saja, sudah terjadi 57 insiden penembakan massal, dengan total 14.353 insiden kekerasan yang melibatkan senjata api. Insiden Nasim Aghdam di kantor YouTube ini pun menjadi aksi penembakan massal terkini yang sukses menyita perhatian dunia, dan membuat dunia, terutama AS, sekali lagi meributkan soal kebebasan kepemilikan senjata di Negeri Paman Sam di sela-sela kesibukan memberi ucapan belasungkawa bagi para korban dan mengutuk aksi sang pelaku.

Urusan kekerasan dengan senjata api di AS memang begitu pelik dan sudah menjadi topik pembicaraan menahun. Tak heran jika insiden Nasim Aghdam kemudian juga memanaskan kembali isu tersebut, yang sebenarnya belum turun dari trending topic pasca penembakan massal di sebuah SMA di Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang pada Februari lalu. Tetapi di balik isu penembakan massal, ada juga isu yang tak boleh dilewatkan dari insiden ini: masalah-masalah yang dimiliki YouTube.

Penembakan di kantor Youtube. (Foto: Elijah Nouvelage/REUTERS)

Selama setidaknya dua terakhir, YouTube diterpa berbagai isu yang tak sedap terkait layanan video mereka. Semuanya berujung pada dua isu utama: perubahan kebijakan monetisasi dan kontroversi algoritma yang digunakan oleh anak perusahaan Google ini.

Perubahan kebijakan monenitasi ini sudah menjadi isu sejak tahun 2017 lalu, ketika mereka membuat aturan bahwa pengguna yang bisa memonetisasi videonya harus sudah memiliki 10.000 views di sepanjang usia akun mereka. Kemudian, pasca insiden Logan Paul, YouTube membuat perubahan lagi: sebuah akun yang ingin memonetisasi videonya, harus minimal memiliki 1.000 pelanggan dan video-videonya setidaknya ditonton 4.000 kali dalam 12 bulan terakhir. Aturan yang, jelas, akan sangat berdampak bagi para YouTuber kecil atau pemula.

Tetapi selain perubahan aturan, ada juga isu lain: berubahnya status monetisasi video-video yang sebetulnya sudah memenuhi standar. Isu ini sempat ramai dibahas oleh para kreator kelas kakap seperti Casey Neistat dan Philip DeFranco, yang mengaku beberapa videonya gagal dimonetisasi. Ini membuat kita masuk ke masalah kedua: algoritma, yang memang bertanggung jawab atas perubahan status monetisasi hingga penurunan video yang dianggap tidak pantas.

Urusan algoritma ini memang menjadi isu yang cukup pelik selama sekitar setahun terakhir. Pada tahun lalu, YouTube telah mengubah algoritma layanan mereka untuk meminimalisir munculnya konten-konten buruk di layanan video terbesar di jagat raya tersebut. Ini merupakan reaksi mereka atas protes yang dilakukan oleh para pengiklan yang tidak suka ketika iklan-iklan mereka dipasang di video-video negatif yang mempromosikan terorisme, bad word ografi, dan semacamnya.

Tapi akibat algoritma yang kian ‘keras’ ini, video-video yang sebetulnya tidak bermasalah pun jadi korban. Masalah yang dihadapi Casey Neistat, misalnya, cukup menarik: pada awal Oktober lalu, Casey Neistat mengunggah video tentang penembakan di Las Vegas dan mengajak para penontonnya untuk memberikan sumbangan kepada para keluarga lewat laman crowdfunding yang ia buat. Selain itu, ia juga berikrar bahwa seluruh hasil monetisasi dari video yang ia unggah tersebut akan disumbangkan juga.

Namun tiga hari kemudian, Casey mengunggah gambar bukti di Twitternya yang menunjukkan bahwa videonya dianggap “tidak cocok untuk para pengiklan”. YouTube memberikan respon dengan menulis, “Kami menyukai apa yang kamu lakukan untuk membantu para korban, tetapi tidak peduli apapun niatnya, kebijakan kami adalah tidak memasang iklan di video-video soal tragedi.”

DeFranco, yang juga seorang YouTuber kenamaan, mengunggah bukti lain bahwa “Respon kalian omong kosong”, dengan menunjukkan bagaimana video Jimmy Kimmel Live yang juga membahas soal penembakan massal di Las Vegas masih memiliki iklan yang terpasang.

Selesai sampai di situ? Tidak.

Baru-baru ini, Marietje Schaake, seorang anggota parlemen Eropa (MEP) dari Belanda, membuat sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh The Guardian, di mana ia bercerita bagaimana videonya satu setengah tahun lalu, yang berisi cuplikan isi pidatonya dalam debat di Parlemen Eropa, diturunkan paksa oleh algoritma YouTube. Ia menduga bahwa ini ada kaitannya dengan kata ‘torture’ atau penyiksaan di bagian judul video, karena saat itu ia memang berbicara dalam debat tentang mengakhiri penjualan alat-alat penyiksaan dan hukuman mati di seluruh dunia. Videonya sendiri akhirnya ditayangkan kembali oleh YouTube setelah ia menulis sebuah tweet tentang betapa berbahayanya ketika konten diturunkan paksa secara otomatis, dan membuat pihak Google meneleponnya. Tetapi, menurut Schaake, “Saya tidak yakin ini adalah sikap yang juga akan didapatkan oleh pengguna internet biasa lainnya,” merujuk pada statusnya sebagai salah satu politisi Eropa.

Belum lagi dengan dugaan bahwa YouTube ikut membantu mempengaruhi pemilihan presiden AS pada 2016 lalu dengan algoritma untuk merekomendasikan video-video yang bisa disaksikan oleh pengguna, yang diungkap oleh Guillaume Chaslot, mantan teknisi di Google. Dalam sebuah artikel panjang di The Guardian pada awal Februari lalu, Chaslot menunjukkan bagaimana ia mengungkap algoritma rahasia YouTube yang menunjukkan dugaan bahwa YouTube ikut terlibat dalam mempengaruhi pemilihan presiden AS, yang sebelumnya hanya menyeret Facebook.

Perwakilan Twitter, Facebook, dan Google dalam ‘committee hearing’ di AS (Foto: Shawn Thew/EPA)

Rumit? Ya. Bahwa Nasim Aghdam kemudian memuntahkan rasa frustrasinya (yang diduga disebabkan oleh algoritma yang membuat video-videonya diturunkan paksa atau tidak bisa dimonetisasi, merujuk pada protes-protes yang ia buat di video dan situsnya) dengan cara melakukan penembakan di kantor raksasa layanan video itu jelas menunjukkan betapa seriusnya isu-isu yang tengah menjangkiti tubuh YouTube dalam dua tahun belakangan.

Jelas, melihat berbagai masalah di atas, kita bisa katakan kasus Nasim Aghdam adalah kasus yang unik, dan lebih rumit daripada isu bebasnya kepemilikan senjata di AS semata, yang selama ini selalu menjadi pembicaraan utama ketika kasus penembakan massal seperti ini terjadi. Ini yang mestinya harus diingat oleh YouTube: Nasim Aghdam jelas bukan satu-satunya orang yang frustrasi dengan masalah algoritma dan monetisasi yang belum mampu diselesaikan sepenuhnya oleh mereka. Dan itulah mengapa kedua isu tersebut sangat penting, dan seharusnya menjadi prioritas mereka, untuk diselesaikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *