Pengalaman Pertama yang Tak Menyenangkan: Big Bad Wolf 2017

Pengalaman Pertama yang Tak Menyenangkan: Big Bad Wolf 2017

Saya sebetulnya sangat ingin menuliskan ini tepat sehari setelah merasakan pengalaman ini, tapi apa daya waktu dan niat tak cukup untuk melakukannya.

Pada intinya: pengalaman pertama saya datang ke Big Bad Wolf, acara pameran buku diskon (yang sepertinya) terbesar di Indonesia, benar-benar mengecewakan.

Tak seperti tahun lalu, tahun ini, saya memang cukup bersemangat menyambut BBW. Entah kenapa, saya sedang senang-senangnya membeli buku – tak peduli walau daftar buku yang belum saya baca pun sebetulnya sudah menumpuk.

Saya sengaja datang di preview sale yang dikhususkan bagi pemegang tiket VIP, yang bisa didapatkan dengan berbagai cara seperti mendaftar di situs BBW, memenangkan kuis di Twitter atau Instagram, mendaftar sebagai blogger atau vlogger, dan mendapatkannya dari Bank Mandiri, partner BBW 2017.

Saya mendapatkan tiket VIP saya lewat situs BBW, registrasi menjadi member di sana. Awalnya saya pikir tiket ini tak bisa didapat dengan mudah – mungkin lewat undian atau semacamnya – dan karena itu saya merasa gembira ketika setelah mendaftar, saya mendapatkan email kalau saya mendapatkan tiket VIP untuk preview sale untuk dua orang.

Belakangan saya menduga bahwa semua orang yang mendaftar di situs BBW akan mendapatkan tiket VIP tersebut. Ini terbukti dengan begitu banyaknya orang yang datang di preview sale, di sepanjang hari. Ini artinya, tiket VIP yang dibagikan untuk hari itu ternyata sangat banyak. Singkatnya, kami yang datang ini tidak benar-benar VIP.

Membludaknya orang yang datang di H-1 pembukaan BBW untuk publik umum diperparah dengan tidak siapnya BBW menampung orang-orang yang begitu antusias untuk belanja. Semakin diperparah pula dengan hadirnya para jastip alias jasa penitipan. Mereka menerima pesanan dari orang-orang yang tidak bisa datang ke BBW, dengan upah tertentu. Para jastip inilah yang kemudian menjadi masalah bagi BBW.

BBW memang sudah menyediakan kasir dalam jumlah banyak (54 kasir, menurut panitia yang sempat saya ajak bicara), yang kabarnya lebih banyak daripada tahun 2016 lalu. Masalahnya, jumlah pengunjung di preview sale hari itu sangat banyak, sementara proses pembayaran di setiap kasir sangat lambat. Ada berbagai masalah di bagian kasir: petugas yang belum berpengalaman (karena memang mereka adalah volunteer dan bukan kasir profesional), alat pembayaran yang seringkali bermasalah, hingga sistem input yang juga bermasalah.

Saya juga mengalami masalah ini. Bukan dari alat EDC yang eror, tapi dari sistem yang tidak bisa melacak status keanggotaan saya. Masalahnya, ada satu buku di keranjang belanja saya yang memiliki harga khusus member, jadi status keanggotaan saya harus dicek terlebih dahulu di sistem agar saya bisa mendapatkan harga khusus member. Ini memakan waktu lama, terlebih lagi ternyata sistem tak menemukan status keanggotaan saya. Sekitar lima menit saya mengurus masalah ini, sampai akhirnya seorang supervisor yang sepertinya dari Malaysia mengatakan pada kasir yang melayani saya untuk abaikan dulu masalah member, dan langsung input harga saja.

Saya berdiri di kasir sekitar 6-7 menit. Dan itupun hanya belanja sedikit (jika dibandingkan dengan orang-orang lain yang bisa membeli buku sebanyak satu troli atau lebih). Bayangkan jika saya membawa satu troli, berapa lama saya harus berdiri di kasir? Sekarang, bayangkan ada 300-400 orang yang mengantri dan membutuhkan waktu yang kurang lebih sama untuk membayar belanjaan mereka. Bisa dipastikan, antrian untuk membayar di kasir pun akan sangat panjang dan para konsumen harus menunggu lama.

Saya sendiri terhitung cukup beruntung. Saya mulai mengantri pukul 12.30 WIB, dan keluar dari kasir pukul 15.00 WIB. 2,5 jam. Ini belum seberapa. Ternyata, mereka yang mengantri di atas jam 13.00 WIB, harus mengalami nasib yang lebih nahas: bisa sekitar 4-5 jam. Saya sempat membaca twit salah satu pengunjung yang mengaku mengantri dari pukul 13.30 WIB sampai 18.30 WIB. Edan.

Belum lagi dengan permasalahan antrian yang mengular sampai di luar zona antri. Karena tidak ada petugas yang mengatur, antrian sampai terpecah menjadi tiga dan akibatnya ada ‘rebutan’ antrian ketika masuk zona antri. Bisa dipastikan: kaos.

Cukup banyak yang menyerah di tengah jalan dalam perjalanan menuju kasir, dan itu terlihat dengan banyaknya keranjang belanja yang ditinggalkan begitu saja di zona antri. Seandainya saya tinggal di daerah BSD, Alam Sutra, atau Bintaro, mungkin saya akan melakukan hal serupa dan kembali lagi keesokan harinya di jam-jam sepi. Tapi berhubung saya tinggal di Bekasi, tidak ada pilihan lain kecuali tetap tancap gas, walau harus menahan lapar karena tak membawa bekal makan siang.

Malam harinya, pihak BBW memang mengungkapkan permintaan maaf mereka atas kekacauan hari itu. Dan kabarnya, di hari-hari berikutnya, proses antrian jauh lebih cepat dan lebih tertata. Ini bisa saja disebabkan karena para jastip dan pemborong lainnya sudah datang di preview sale sehingga di hari-hari berikutnya, hanya pembeli biasa yang datang. Tapi bisa juga karena memang ada pembenahan dari panitia BBW 2017 sehingga proses pembayaran lebih cepat.

Ada beberapa masalah yang bisa saya simpulkan dari pengalaman preview sale BBW 2017 ini:

  1. Tiket VIP terlalu banyak. VIP jadi tak terasa seperti VIP. Justru merasa seperti ‘kelinci percobaan’ untuk pemanasan panitia BBW agar mengetahui kekurangan-kekurangan di masa beta agar di acara untuk umumnya bisa lebih baik.
  2. Sistem yang tak siap – baik kasir secara pribadi, mesin EDC, maupun sistem input.
  3. Sistem kasir yang tidak antisipatif. BBW seperti tidak mengantisipasi datangnya para jastip dan pemborong yang datang di preview sale dan ‘mengacau’ di hari itu. Kasir untuk pemborong dan pembeli biasa tidak dibedakan, sehingga mereka yang hanya membeli dua-tiga buku pun harus mengantri dalam waktu yang sama dengan para pemborong yang bisa menghabiskan Rp50-100 juta sekali belanja.

Terakhir, yang tak kalah penting, adalah masalah antusiasme yang berlebihan. Saya akui, ada ketakutan bahwa buku yang saya incar akan habis jika saya tidak datang di preview sale, dan mungkin orang-orang yang datang di hari itu juga berpikiran sama. Seharusnya tidak perlu sampai seperti itu. Ini menjadi pelajaran bagi saya pribadi untuk ke depannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There is 1 comment for this article
  1. Pingback: Bagaimana Konten Digital Bisa Membantu Penjualan Risilan Fisik | tamankosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *