[Rangkum] Donald Trump Memang Fenomenal, Tapi Ia Bukan Fenomena Baru

Artikel ini merupakan rangkuman dari artikel panjang (8500 kata) di Vox berjudul “White Riot” karya Zack Beauchamp. Kamu bisa membaca tulisan aslinya di sini.

Ada banyak orang yang tidak mengerti mengapa orang seperti Donald Trump bisa maju sebagai calon presiden Amerika Serikat. Ketika ia pertama kali menjadi bakal calon presiden AS dari Partai Republik, bisa dibilang, hampir semua orang berpendapat sama: orang ini, yang menghasut munculnya kebencian atas kaum imigran, Islam, dan bangsa Asing (termasuk: Tiongkok, Jepang, hingga rekan-rekan ‘seperjuangan’ AS di NATO), diperkirakan tak akan mampu meraih cukup dukungan untuk maju sebagai calon presiden.

Menariknya, ternyata semua orang kalah. Trump berhasil meraih dukungan Partai Republik, mengalahkan Ted Cruz, Jed Bush, dll, untuk maju menghadapi Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Ini menimbulkan pertanyaan, bahkan di kalangan pemimpin-pemimpin dunia sekalipun: kenapa Amerika mendukung Trump yang rasis dan tak masuk akal?

Jawabannya adalah: Trump, ternyata, mampu mengeluarkan perasaan yang sebenarnya dari sebagian orang AS tentang berbagai hal: imigran, Islam, dan globalisasi. Bagi sebagian orang, apa yang dikatakan Trump bukanlah omong kosong belaka – sebagian darinya adalah bagian dari kekhawatiran, harapan, dan bahkan cita-cita dari mereka. Trump berkata para imigran mengubah wajah Amerika, dan pendukungnya pastilah setuju, bahkan mungkin sudah memiliki perasaan itu sebelum mendengar Trump berbicara. Trump ingin lebih tegas pada tindakan kriminal? Para pendukungnya, yang diam-diam memiliki sifat otoritarian, pastilah setuju. Apalagi jika bisa membangun dinding besar yang memisahkan AS dengan Meksiko – bagi sebagian orang, itu mungkin adalah salah satu harapan besarnya sejak lama.

Tapi menariknya, Trump bukanlah fenomena baru. Pemimpin eksentrik yang memiliki gaya berpikir yang xenophibic dan islamophobic bukanlah barang baru di dunia Barat. Prancis sudah memilikinya dalam diri Jean-Marie Le Pen, pemimpin partai politik Front National (FN) sejak 1970an, dan mendapatkan 11 persen suara pada pemilu tahun 1984. Belanda sudah memiliki Geer Wilders, yang pernah terkenal di Indonesia karena film pendeknya yang menyerang Islam habis-habisan: Fitna. Pendahulu Wilders, seorang profesor sosiologi bernama Pim Fortuyn, pernah mendirikan partai bernama Pim Fortuyn List yang menolak imigran muslim, dan mereka sempat berada di posisi kedua dalam sebuah jajak pendapat di tahun 2002.

Foto: Telegraph.co.uk
Foto: Telegraph.co.uk

Saat banjir imigran dari Suriah terjadi pada 2015 lalu, pemimpin-pemimpin anti-imigran dan islam mulai terlihat bersuara. Hungaria menutup perbatasannya dari imigran – sebagian imigran yang bertahan di perbatasan Hungaria bahkan diberi makan layaknya hewan dengan cara dilemparkan melewati pagar pembatas.

Puncaknya adalah ketika rakyat Britania Raya mendukung negaranya keluar dari Uni Eropa atau dengan istilah yang dikenal dengan istilah Brexit. Salah satu isu besar yang dikampanyekan oleh UKIP (United Kingdom Independent Party) untuk memenangkan hati rakyat dan memuluskan Brexit, adalah mengenai imigran. UKIP beralasan, keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa akan membuat mereka bisa memiliki otoritas penuh atas perbatasan negara mereka sendiri, sehingga mereka berhak menolak imigran untuk masuk ke negara mereka. Dan betul saja, strategi ini sukses. 51,9% orang Britania Raya alias Briton mendukung Brexit.

Brexit bisa dikatakan sebagai kemenangan besar pertama kaum kanan jauh di dunia politik. Dan jika Trump juga menang atas Hillary Clinton dalam pemilihan yang akan digelar pada 8 November mendatang, komplet lah kemenangan mereka.

Di dunia yang semakin multikultural ini, mengapa para pemimpin dan partai kanan jauh justru mendapatkan dukungan yang semakin besar?

Dugaan awal yang banyak diapungkan adalah alasan ekonomi. Logikanya begini: semakin banyak imigran yang masuk, semakin ketat pula persaingan mendapatkan pekerjaan dan hal itu akan mengancam warga asli. Juga, begini: semakin meluasnya skema perdagangan pasar bebas, semakin besar juga pengaruh asing bagi ekonomi negara tersebut, dan, lagi-lagi, hal itu akan membuat warga setempat merasa terancam.

Isu ini pula yang sering digunakan oleh UKIP dalam kampanye Brexit dan Trump kala mengampanyekan dirinya untuk menjadi presiden. Seolah-olah, rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang bisa melindungi ekonomi dalam negeri dari pengaruh asing – Trump, misalnya, berulang kali membahas efek buruk NAFTA (pakta perdagangan bebas Amerika Utara) dan pengaruh perdagangan dengan Tiongkok dan negara-negara lainnya. Ia mencitrakan dirinya akan melindungi kaum minoritas Amerika yang, mungkin, merasa dirugikan dengan perdagangan bebas.

Padahal, menurut banyak hasil penelitian (yang kebanyakan dicantumkan dan dijelaskan di dalam artikel ini), ekonomi sebetulnya bukan faktor kunci yang membuat orang-orang mendukung Trump atau Brexit. Oke, tentu saja meskipun kecil, faktor ekonomi juga memiliki pengaruh. Tapi faktanya, efek isu ini terhadap dukungan pada kaum kanan jauh sangatlah kecil.

Philip Klinkner, ilmuwan politik dari Hamilton College, sempat melakukan sebuah studi yang membandingkan tingkat optimisme seseoang dan sikapnya terhadap masalah rasial dan tingkat dukungan mereka pada Trump. Jika hipotesa banyak jurnalis tentang besarnya pengaruh ekonomi terhadap dukungan terhadap Trump benar, seharusnya, semakin pesimis seseorang terhadap kondisi ekonomi AS, semakin besar pula dukungan mereka ke Trump, tak peduli apakah orang itu lebih contong ke sikap rasis atau tidak.

Ternyata hasilnya malah terbalik: semakin rasis seseorang, semakin condong dukungan mereka terhadap Trump, tak peduli bagaimanapun pandangan mereka terhadap ekonomi AS.

Begitu juga dengan kasus Brexit. Menurut studi yang dilakukan setelah referendum, ditemukan bahwa faktor ekonomi ternyata tidak berpengaruh banyak terhadap keputusan seseorang mendukung ‘Leave’ atau ‘Stay’. Torsten Bell dari Resolution Foundation, misalnya, berusaha mencari hubungan antara dukungan terhadap ‘Leave’ dengan situasi ekonomi suatu wilayah dengan melihat data hasil referendum per wilayah dan membandingkannya dengan data pendapatan rata-rata mereka.

Hasilnya: tidak ada hubungannya. Padahal, semestinya, jika memang Brexit dipengaruhi oleh isu ekonomi, wilayah-wilayah yang memiliki pendapatan rata-rata besar akan lebih condong ke ‘Stay’ sementara wilayah-wilayah yang pendapatan rata-ratanya kecil akan condong ke ‘Leave’.

Semua ini memberikan gambaran mengenai alasan mengapa Trump bisa mendapatkan dukungan yang begitu besar walau ucapan-ucapannya sering tak masuk akal dan sangat ofensif. Trump, dan juga pemimpin kanan jauh lainnya seperti Le Pen, hanyalah perwakilan dari mereka yang merasa sepaham. Dan ini memberikan gambaran besar terhadap masyarakat masyarakat barat yang memberikan dukungan besar bagi orang-orang sepertinya: bahwa ternyata, mereka yang xenophobic jumlahnya sangat besar di sana.

Foto: wonkette.com

Rangkum adalah seri artikel di mana saya berusaha untuk merangkum artikel-artikel panjang yang menarik yang saya temukan di internet 1000 kata atau kurang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here