[Rangkum] Ketika Uber Menjadi Transportasi Publik yang Didukung Pemerintah

Artikel ini merupakan rangkuman dari artikel panjang (4300 kata) di The Verge berjudul “Welcome to Uberville” karya Spencer Woodman. Kamu bisa membaca tulisan aslinya di sini.

Secara umum, salah satu penilaian akan kualitas sebuah kota adalah berdasarkan transportasi publik yang tersedia. Kota yang baik, seharusnya memiliki transportasi publik yang baik pula. Namun seringkali kita melupakan bahwa hal ini tidak melulu bisa terealisasi: di kota-kota kecil, transportasi publik yang tersedia seringkali terbatas dan ini memang wajar: biaya untuk menghadirkan transportasi publik tertentu (kereta bawah tanah, misalnya) terlampau besar, sementara pemasukan untuk menutupi setidaknya sebagian dari biaya itu akan terlalu kecil karena jumlah penggunanya yang sedikit (ingat, ini di kota kecil, lho).

Singkatnya: transportasi publik, walau memang dibutuhkan warganya, tak terjangkau dan dirasa kurang efektif bagi pemerintah kota-kota kecil, yang tentunya memiliki anggaran yang jauh lebih kecil juga dibanding kota-kota besar.

Masalahnya, warga kota kecil tentu saja tetap membutuhkan transportasi publik yang bisa membuat mereka nyaman untuk bepergian. Bus yang hanya datang satu jam sekali, tentu saja, bukan jenis transportasi publik yang menyenangkan. Tapi meningkatkan jumlah armada bus agar mereka bisa datang ke setiap halte setiap 10 menit sekalipun tak mungkin dilakukan karena jumlah pengguna jasa ini sedikit, dan bakal membuat anggaran pemerintah kota jebol.

Lalu, bagaimana solusi terbaik untuk masalah ini?

Frank Mertz, manajer kota Altamonte, sebuah kota kecil di negara bagian Florida, Amerika Serikat, pernah punya ide menarik: menghadirkan FlexBus, sebuah sistem transportasi umum bus yang tak memiliki rute yang kaku layaknya bus umum. Rute bus terus-menerus disesuaikan dengan tujuan para penggunanya saat itu secara real time. Pengguna bisa memesan bus agar dijemput dan diantarkan ke daerah tujuannya dengan komputer di halte atau malah rumah sendiri.

Bayangkan lah sistem transportasi umum yang bisa dipesan layaknya layanan berbagi tumpangan daring ala Uber namun berbentuk bus. Pengguna bisa dijemput di tempat yang ia mau (atau setidaknya di halte terdekat) dan di antar ke halte atau tempat tujuan tanpa harus menunggu terlalu lama hanya karena bus harus melewati rute yang memutar jauh padahal tak ada penumpang yang naik atau turun di daerah tersebut.

Ini adalah ide yang menarik karena: 1. Bus menjadi lebih efektif, karena tidak perlu membuang terlalu banyak waktu dan bahan bakar untuk memutari kota melewati rute yang sepi penumpang. 2. Pengguna tidak perlu menunggu terlalu lama di halte karena, seperti poin nomor 1, bus tidak memutari rute terlalu jauh dan hanya melalui rute yang paling efektif untuk mengantar para penumpangnya.

Sayangnya, ide ini tidak didukung oleh pemerintah kota Altamonte, bahkan meski Mertz melakukan lobi berkali-kali dalam waktu yang panjang untuk membuat impiannya terlaksana.

Mertz pun akhirnya menghubungi Uber dan menawari startup paling bernilai di dunia saat ini itu untuk bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menjadi sistem transportasi publik di Altamonte. Singkatnya, setelah proposalnya untuk FlexBus mental, Mertz ingin Uber menjadi alternatif pilihan sistem transportasi publik di kota kecil tersebut. Toh, Uber dan FlexBus sama-sama mirip: layanannya sama-sama bergantung pada permintaan (demand) dari pengguna, layaknya FlexBus yang jadi ide awal Mertz tersebut.

Uber diharapkan Mertz bisa menjadi alternatif sarana transportasi publik yang pas untuk kota kecil seperti Altamonte: masyarakat kota tak perlu berjalan terlalu jauh untuk menuju halte atau stasiun, atau menunggu kereta dan bus terlalu lama karena jumlah angkutan yang sedikit. Uber, tentu saja, menyambut kesempatan ini dengan tangan terbuka.

Seperti apa kerja sama Altamonte dan Uber? Sederhana: pemerintah kota menggunakan anggaran belanja mereka (alias uang pajak warga Altamonte) untuk memberi subsidi bagi Uber, sehingga ongkos berkendara dengan Uber di Altamonte menjadi lebih murah.

Altamonte bukan satu-satunya kota kecil di Amerika yang mengajak Uber (dan Lyft, kompetitor Uber) untuk bekerja sama, dan semuanya menggunakan metode yang mirip: memberikan subsidi agar biaya berkendara dengan Uber di kota-kota kecil itu menjadi lebih murah.

Di satu sisi, ini menguntungkan semua pihak: pengguna Uber, Uber, dan pemerintah kota, yang tak perlu membangun infrastruktur transportasi yang memakan biaya besar.

Di sisi lain, ini menghadirkan sisi negatif: tidak semua warga kota menggunakan ponsel pintar dan mempunyai kartu kredit, sehingga mereka tak bisa merasakan manfaat uang pajak mereka sendiri. Selain itu, bekerja sama dengan perusahaan seperti Uber yang sangat ketat dengan data-data mereka membuat pemerintah tidak bisa seterbuka seharusnya. Misalnya saja, bahkan data penggunaan Uber (ridership data) pun tidak boleh dibuka ke publik, sehingga publik tak bisa menilai apakah program ini berdampak positif atau hanya membuang-buang anggaran saja.

Semakin banyaknya pemerintah kota yang menginginkan kerja sama dengan Uber, tentu saja, membuat Uber gembira. Bukan saja hal ini meningkatkan nama dan penghasilan mereka, tapi ini sejalan dengan target jangka panjang mereka.  Uber bukan hanya ingin menjadi alternatif transportasi publik seperti yang saat ini mereka rasakan, tapi menjadi transportasi publik utama yang bahkan lebih murah daripada bus dan kereta, dan membuat orang-orang merasa tak perlu lagi mempunyai mobil sendiri. Ini adalah masa depan yang coba diraih oleh startup yang kini memiliki nilai valuasi sebesar $66 miliar.

Tentu saja ada banyak hal yang perlu dipikirkan sebelum Uber bisa mencapai masa depan yang mereka bayangkan, mulai dari isu kerahasiaan data, layanan bagi difabel, dan masalah kemacetan yang mungkin dihasilkan jika Uber menggantikan peran bus dan kereta. Tapi untuk saat ini, mereka berada di trek yang tepat untuk bisa mewujudkan mimpi besar itu.

Rangkum adalah seri artikel di mana saya berusaha untuk merangkum artikel-artikel panjang yang menarik yang saya temukan di internet 1000 kata atau kurang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here