Rekomendasi Akhir Pekan #6: Lagu, Video, Komik, dan Artikel yang Saya Rekomendasikan Pekan Ini

Rekomendasi Akhir Pekan #6: Lagu, Video, Komik, dan Artikel yang Saya Rekomendasikan Pekan Ini

Sudah cukup lama juga sejak terakhir kali saya menulis Rekomendasi Akhir Pekan – seri artikel yang niat awalnya adalah dibuat reguler setiap akhir pekan *nyengir*. Seperti artikel Rekomendasi Akhir Pekan sebelum-sebelumnya, saya ingin berbagi beberapa artikel, video, lagu, hingga buku yang ingin saya rekomendasikan, yang mungkin bisa kamu nikmati di akhir pekan ini.

Dan yang pertama adalah lagu yang sedang saya dengarkan berulang-ulang kali saat mengupdate blog ini…

Lagu: “Luna” dari Bombay Bicycle Club

Ini bukan lagu baru – lagu ini adalah bagian dari album “So Long, See You Tomorrow” yang dirilis pada tahun 2014 lalu. Saya pun sudah mengetahui Bombay Bicycle Club sejak saya masih kuliah dulu, namun saya tidak pernah benar-benar mendengarkan secara baik lagu-lagu mereka.

Kemarin, saat sedang mencari lagu yang enak didengarkan sambil bekerja, saya kembali memutar Bombay Bicycle Club di Spotify dan ketika mendengarkan “Luna”, konsentrasi saya malah buyar. Jujur saja, saya sudah mendengarkan lagu ini berkali-kali dulu, tapi baru kali ini saya menyadari bahwa ini lagu yang bagus sekali.

Ada berbagai unsur dalam lagu ini yang membuat saya begitu terpikat: intro-nya yang terdengar Bollywood, bass yang muncul ketika Jack Steadman (vokalis utama) masuk ke verse 2, suara kedua yang diisi oleh Rae Morris di bagian chorus, tepatnya ketika ia menyanyikan nada yang lebih tinggi di bagian “…to find out…”, dan juga verse 3-nya yang sangat asyik.

Now the Sun glows soft and red…

Ah, brilian. Kenapa saya tidak menyadarinya sejak dulu, ya?

Video: Vox Borders di YouTube

Lagi, ini bukan seri video lama. Saya mengikuti seri video Vox Borders ini sepanjang tahun 2017 lalu, yang terdiri dari enam video utama dan beberapa video catatan ringan yang diunggah di kanal YouTube Vox. Johnny Harris, sang kreator seri video ini, benar-benar berhasil memberikan narasi cerita yang sangat bagus untuk menggambarkan bagaimana ‘garis imajiner’ yang dibuat oleh manusia benar-benar membuat perbedaan besar di dunia.

Saya benar-benar terkesan dengan gaya vlogging-nya dalam mengisahkan petualangannya ke 11 negara berbeda di dunia, yang ditopang dengan kemampuan tim video Vox dalam membuat animasi hebat untuk mewarnai video-video ini (salah satu alasan saya menggemari video-video Vox adalah infografis dalam bentuk animasinya yang keren). Harris adalah seorang storyteller yang bagus – kamu bisa membuktikannya juga dengan bagaimana ia bisa membuat kisah yang menarik lewat caption di foto-fotonya di Instagram – dan saya pun merasa kehilangan ketika seri Vox Border ini selesai akhir tahun lalu.

Berhubung saya baru membuat artikel Rekomendasi Akhir Pekan ini lagi, saya pun ingin merekomendasikannya sekarang. Serius, ini wajib ditonton.

Video: An Inconvenient Border: Where China Meets North Korea

Masih tentang perbatasan, satu lagi video dokumenter bagus yang saya temukan di YouTube baru-baru ini adalah video feature dari ABC News ini. Ini juga bukan video baru (saya memang sungguh tidak up to date!), video ini sudah dirilis sejak akhir September 2017 lalu di kanal YouTube ABC News, media berita Amerika Serikat.

Video ini mengikuti perjalanan Bob Woodruff, seorang jurnalis veteran AS yang pernah meliput perang di Irak dan menjadi korban salah satu ledakan bom di Taji, Irak, pada tahun 2006, menyusuri perbatasan Republik Rakyat Tiongkok dan DPR Korea dari selatan ke utara. Dokumenter ini menarik karena sementara banyak dokumenter tentang Korea Utara lainnya lebih banyak menggambarkan Pyongyang, ibukota Korea Utara, Bob Woodruff justru ingin ‘mengintip’ keadaan di daerah pedesaan Korea Utara lewat perbatasan mereka dengan Tiongkok.

Pemerintah Korea Utara memang cukup sering mengizinkan jurnalis asing datang ke Korut untuk meliput dengan izin khusus, namun mereka tak pernah diizinkan meliput daerah di luar Pyongyang. Wajar, pasalnya warga Korea Utara sendiri tidak bisa leluasa keluar dan masuk ibukota, apalagi jurnalis asing yang sangat dijaga ketat.

Bob Woodruff juga mencoba mengeksplor hubungan diplomatik dan ekonomi antara Tiongkok dan Korut, yang mulai merenggang sejak Kim Jong-un menjadi Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) DPR Korea, dan bagaimana perasaan orang-orang Tiongkok di daerah perbatasan sejak Korut gencar melakukan tes rudal nuklir di daerah utara negara tersebut, tak jauh dari perbatasan Tiongkok-Korut.

Komik: Membaca Ulang Dragon Ball

Seminggu terakhir, entah kenapa, saya ingin membaca lagi manga Dragon Ball sejak awal dan saya baru menyadari ada begitu banyak detail yang saya lewatkan ketika membacanya masih kecil. Ini komik yang benar-benar menyenangkan, terutama di volume-volume awal ketika Son Goku masih kecil dan tinggal bersama Kamesennin dan Kuririn, dan meski perkembangan ceritanya agak janggal – terutama sejak melawan Freeza, tapi saya tetap bisa menikmatinya tanpa ada masalah.

Ada detail-detail yang saya sadari ketika saya membaca manga ini secara keseluruhan lagi. Misalnya soal Dragon Ball Planet Namek, yang hanya membutuhkan waktu 130 hari untuk bisa kembali digunakan lagi alias sepertiga waktu yang dibutuhkan Dragon Ball Bumi, dan saya menduga itu karena Planet Namek memiliki tiga matahari sementara Bumi hanya satu. Atau soal mengapa Son Gohan, meski memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada ayahnya, pada akhirnya hanya satu kali mampu mengeluarkan potensi terbaiknya (ketika melawan Cell).

Saya menduga ini karena unsur manusia dalam diri Gohan lebih besar daripada unsur Saiya-nya, tak seperti Goten, misalnya, yang terlihat sejak kecil memiliki unsur Saiya yang lebih besar daripada aspek manusianya. Ini ada hubungannya dengan product rule dalam konsep peluang genetika yang merupakan bagian dari Hukum Pewarisan Mendel – konsep yang, kalau saya tidak salah ingat, pernah saya pelajari di pelajaran Biologi kelas 1 SMA (kelas X sekarang) dulu.

Tentu saja ini hanya dugaan. Tapi setelah membaca ulang Dragon Ball, saya melihat manga ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki manga populer lain seperti One Piece, misalnya; sementara One Piece adalah manga yang sangat kompleks, Dragon Ball memiliki kompleksitas yang masih bisa dipahami bahkan oleh anak kecil sekalipun. Singkatnya: kisah kompleks yang dibuat begitu sederhana.

Artikel: “’Fiction is outperforming reality’: how YouTube’s algorithm distorts truth” – The Guardian

Ini adalah artikel panjang tentang hasil investigasi Guillaume Chaslot, seorang mantan pegawai di YouTube yang berusaha mengungkap bagaimana algoritma situs video terpopuler sejagat raya ini bisa membawa kita melihat video-video yang ‘berbahaya’ – video-video ‘tak layak’ yang kian marak diunggah di YouTube dalam beberapa tahun terakhir.

Paul Lewis, penulis artikel ini, lebih banyak mengaitkan bagaimana algoritma YouTube ikut ambil bagian dalam mendorong Donald Trump meraih kesuksesan di pemilihan presiden AS 2016 lalu, tapi di luar itu, artikel ini secara lebih luas akan membuka mata kita bagaimana algoritma komputer, yang selama ini dianggap mampu netral tak seperti manusia, ternyata bisa membiaskan kita ke satu sisi dalam dunia yang semakin terpolarisasi.

Ini artikel yang menarik karena, sementara ulasan mengenai biasnya Facebook dengan algoritma Newsfeed mereka sudah cukup banyak, saya rasa belum banyak yang membahas biasnya YouTube dalam mendukung perkembangan paham kanan yang kian populer dalam beberapa tahun terakhir.

Baca artikelnya di sini: https://www.theguardian.com/technology/2018/feb/02/how-youtubes-algorithm-distorts-truth

Selamat berakhir pekan!

Kredit foto utama: youtube.com/voxdotcom

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *