[Resensi] Ranah 3 Warna

Tak banyak orang yang berkesempatan bisa menginjakkan kaki ke luar negeri, apalagi sampai tinggal dan berinteraksi dengan orang asing selama berbulan-bulan. Apalagi jika Anda seorang mahasiswa yang baru saja ditinggal ayahnya dan uang yang dikirimkan ibu dari kampung tak mencukupi untuk bisa hidup di kota besar seperti Bandung. Tetapi Alif Fikri membuktikan bahwa dirinya bisa mewujudkan impiannya sejak masih sekolah di Pondok Madani untuk pergi ke benua Amerika walau dengan hidup serba kekurangan seperti itu.

Buku kedua dari trilogi “Negeri 5 Menara” ini menceritakan kehidupan Alif setelah lulus dari Pondok Madani. Setengah bagian dari buku ini akan membawa Anda menyelami kehidupan Alif di Bandung, tempatnya menuntut ilmu selepas PM, sedangkan setengah bagian lagi menceritakan petualangan Alif di belahan dunia yang lain. Ahmad Fuadi sukses menggambarkan segala cobaan yang diterima Alif hingga kita akan terbawa ke dalam kefrustrasian Alif menjalani kemalangan demi kemalangan yang ia dapatkan selama menjadi mahasiswa. Sampai pada satu titik ia akan menyadari bahwa mantra man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil) tak cukup untuk membuatnya bertahan menghadapi cobaan. Ia melupakan satu hal lagi yang diajarkan di PM: man shabara zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Dua “mantra” sakti itulah yang kemudian membuat ia bangkit berdiri menghadapi tantangan hingga akhirnya ia merebut mimpi yang sempat ditertawakan oleh teman-temannya.

Dibandingkan buku pertamanya, Negeri 5 Menara, buku Ranah 3 Warna ini jauh lebih hidup dan menarik. Lebih banyak konflik yang disajikan Ahmad Fuadi dalam buku ini dibandingkan buku pertamanya sehingga pembaca tak akan merasa bosan mengikuti alur cerita. Dan jikapun trilogi novel ini dibuat untuk menginspirasi pembacanya, bisa dibilang Ranah 3 Warna juga jauh lebih berhasil untuk memberikan inspirasi dibanding buku pertamanya.

Singkat cerita, Ranah 3 Warna merupakan novel yang menarik, pantas untuk dibeli dan dikoleksi. Tinggal kita nantikan, apakah Ahmad Fuadi bisa memberikan akhir yang klimaks di buku ketiganya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *