Review Buku: Sabtu Bersama Bapak

Review Buku: Sabtu Bersama Bapak

Agak telat membaca novel ini sebetulnya. Saya sudah menonton filmnya terlebih dahulu sebelum membaca ini. Dan, sebagaimana banyak kasus yang serupa, bukunya ternyata lebih baik daripada filmnya (walaupun harus diakui juga, filmnya menangkap dan menceritakan dengan baik inti cerita buku meski banyak melalui penyesuaian kisah).

Seperti yang banyak dikatakan penulis review lainnya untuk buku ini, Sabtu Bersama Bapak adalah novel berbalut panduan menjadi orang tua yang baik (atau malah sebaliknya?). Cara penulis untuk meletakkan pesan-pesan Bapak di berbagai bagian buku di tengah-tengah cerita yang tengah dibangun sangat baik dan enak – tidak ada kesan bahwa kisahnya seperti melompat-lompat layaknya cerita dengan alur campuran. Kisahnya dibangun dengan baik, meskipun saya pribadi merasa bahwa konflik rumah tangga antara Satya dan Rissa terasa terlalu singkat sementara tahap memperbaiki hubungan mereka berlalu dalam beberapa bab.

Kita hanya mengetahui masalah Satya dan keluarganya lewat satu bab dan penjelasan yang terkesan singkat, dan bukannya dibangun dalam bentuk yang lebih panjang dan lebih mendalam. Hal ini sebetulnya tidak terlalu mengganggu, karena dibantu dengan penceritaan yang baik oleh penulis, tapi secara keseluruhan, mungkin ini adalah satu-satunya kelemahan terbesar dari Sabtu Bersama Bapak.

Setelah menutup buku, saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri, “Mengapa saya baru membaca buku ini sekarang?” Ini adalah buku yang bagus untuk orang tua dan calon orang tua – penjelasan Saka tentang hubungan suami-istri yang diajarkan oleh sang Bapak ketika bertemu dengan Retna sangat bagus untuk mereka yang hendak atau sedang menuju jenjang pernikahan. Singkatnya: ini buku (bukan hanya novel) yang bagus.

Saya memang selalu menyukai karya-karya Adhitya Mulya – terlepas dari fakta bahwa saya sempat tak menyukai pandangannya atas suatu isu yang membuat saya meng-unfollow-nya di Twitter. Sabtu Bersama Bapak adalah buku keempatnya yang saya baca setelah Jomblo, Gege Mengejar Cinta, dan Travelers’ Tale. Saya menyukai gaya penulisannya, humor yang selalu ia selipkan, dan catatan kaki yang banyak tersebar di Sabtu Bersama Bapak benar-benar mengingatkan saya pada novel Jomblo, yang pernah difilmkan. Serius, saya jadi kangen novel itu. Jomblo, menurut saya, adalah novel pop terbaik yang pernah saya baca. Sayangnya, buku yang saya miliki dipinjam dan kini entah di mana.

Ada yang masih punya dalam kondisi bagus dan bersedia menjualnya ke saya, mungkin?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblrmail
There are 2 comments for this article
  1. Andhikamppp at 2:49 pm

    Sepakatt dengan bukunya yang bagus. Tapi di filmnya gue ga begitu nikmatin.

    Pesan pesan bapak buat satya banyak yang dipangkas:'(

    Gue yang (laki-laki) sulung soalnya lebih ngena bagian bagian Satya

    • ekkyrezky Author at 6:22 am

      Untuk Satya lebih panjang di drama pertengkarannya ya, bukan di penyelesaiannya. Penyelesaiannya jadi terkesan simpel, baru kepikiran sekarang setelah baca.

      Syukurlah gue nonton dulu baru baca. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *