Review Forward 2019: Gary Vee Membuatnya Sepadan

Kami sedang makan malam di sebuah restoran Thailand ketika Deony tiba-tiba bertanya, “Memangnya apa sih yang bikin kamu pengen dateng ke acara Forward 2019 itu?”

Yang ia maksud adalah acara Forward yang digelar Jouska pada 9 Maret 2018 lalu, yang menghadirkan Gary Vaynerchuk, seorang entrepreneur dan motivator yang terkenal karena video-video YouTube-nya. Harga tiketnya memang lumayan untuk kelas menengah ngehe – termurah Rp 1,7 juta, termahal Rp 2,7 juta.

Saya bukan penggemar Gary Vee, walau sudah tahu tentangnya sejak lama. Saya pun bukan yang biasanya tertarik untuk duduk di sebuah hall lalu mendengarkan orang berbicara di depan tentang nilai-nilai mereka – saya, misalnya, belum pernah dan tidak pernah benar-benar tertarik untuk datang ke TEDx atau semacamnya. Jadi apa alasannya?

Jujur, alasan saya akhirnya membeli tiket untuk acara ini tidak terlepas dari rasa penasaran saya soal Jouska. Perusahaan yang bergerak di bidang penasihat keuangan independen ini memang telah membuat gebrakan hebat dalam dua tahun terakhir, yang semuanya berakar dari kemampuan mereka untuk memanfaatkan Instagram dengan sangat baik untuk marketing mereka. Lewat pendekatan storytelling yang baik, Jouska berhasil menjadi fenomena tersendiri yang ikut mengerek ketertarikan anak-anak muda Indonesia untuk lebih melek finansial.

Singkatnya, I’m one of the “victims” of Jouska’s clever marketing.

Jadi apakah saya menyesal mengeluarkan banyak uang untuk datang ke acara besar perdana Jouska ini? Apakah saya menyesal menjadi “korban” marketing cerdas Jouska?

Surprisingly, no.

Dan alasannya adalah Gary Vaynerchuk.

Gary Vee yang Benar-Benar Menyihir

Jujur saja, sebenarnya hanya sedikit hal yang benar-benar baru dari apa yang dibagi oleh Gary Vee dalam Forward 2019.

Setidaknya ada beberapa insight yang ia bagi dalam acara ini:

  • Konten digital sangat penting untuk menjual diri. Ini bukan sesuatu yang baru, kan? We all know this already.
  • Kita semua bisa membuat konten. Kita semua punya alat untuk melakukannya; smartphone yang ada di saku kita. Dan untuk bisa terjun ke dunia content creating di platform digital ini adalah gratis. Sekali lagi, ini bukan pengetahuan baru. Tanpa disadari, kita semua pasti tahu soal ini.
  • Instagram adalah platform terpenting saat ini, tetapi pelan-pelan podcast akan berkembang menjadi salah satu yang terpenting. Ini juga bukan hal baru jika Anda mengamati perkembangan dunia digital dalam satu-dua tahun terakhir. Podcast memang kembali booming dalam dua tahun terakhir, demikian juga di Indonesia. Dalam setahun terakhir saja, podcast-podcast baru bermunculan di berbagai platform, dari Soundcloud hingga Spotify.
  • Linkedin telah berkembang lebih dari sekadar platform mencari kerja dan networking, tetapi juga untuk content creating. Oke, yang ini cukup baru. Saya tahu bahwa rajin berbagi konten di Linkedin bagus untuk mendongkrak keberadaanmu di platform tersebut, tetapi saya baru tahu bahwa it’s kinda big deal. Mungkin di masa depan kita akan melihat kelahiran influencer Linkedin?

Tetapi lebih dari semua insight tentang digital media tersebut, yang membuat Gary Vee istimewa adalah kemampuannya untuk menyihir, menampar, dan memecut semua orang di dalam ruangan untuk mulai melakukan sesuatu, berhenti meragukan diri sendiri, dan mencoba semuanya. Ia berulang kali mengeluarkan smartphone-nya dari saku, mengangkatnya ke udara, dan berkata (kurang lebih seperti ini), “Kita hidup di era ketika segalanya begitu mudah dan tersedia. Kakek-nenek Anda dulu mungkin punya alasan untuk tidak melakukan apa-apa ketika mereka tak punya modal karena dulu segalanya membutuhkan uang. Anda tak punya alasan untuk itu karena sekarang Anda bisa melakukan apapun dengan gratis, hanya dengan ponsel Anda.”

Gary menekankan betul betapa besarnya privilese generasi saat ini dengan perkembangan teknologi yang menghadirkan media sosial, yang bisa dimanfaatkan dengan luas dan secara cuma-cuma. Gary menekankan betul pentingnya membuat kehadiran kita di ranah online, karena sekarang dunia berputar di sana. Gary menekankan pentingnya membuang semua keraguan dan ketakutan dan mulai berkreasi. Gary menekankan juga tentang potensi besar yang dimiliki Indonesia: negara ini adalah negara dengan salah satu jumlah netizen teraktif di dunia, dengan penetrasi internet yang bahkan baru setengah dari populasinya.

Seperti yang ia katakan: kita beruntung hidup pada masa ini. Anda beruntung hidup di negara ini.

Tentu, tak perlu keluar berjuta-juta sebetulnya untuk mendengarkan sabda Gary tentang berbagai hal tersebut. Gary telah mengeluarkan banyak video di YouTube maupun Instagram dan rata-rata selalu membicarakan hal yang serupa. Tetapi ada daya magis tersendiri ketika mendengarkannya langsung dalam sebuah ruangan – sesuatu yang tidak saya rasakan ketika menonton videonya lewat laptop atau ponsel.

Daya magis itulah yang membuat saya sama sekali tidak merasa rugi mengeluarkan uang untuk acara ini.

https://www.instagram.com/p/BurxhD5FuAJ/

Forward 2019 Terasa Terlalu Singkat

Tetapi secara keseluruhan, Forward 2019 mungkin terasa terlalu singkat. Total, acara hanya sekitar 2,5 jam, mulai dari pembukaan hingga Gary Vee keluar dari panggung. Tidak ada acara apa-apa lagi setelah Gary Vee naik panggung, hanya makan siang. Bagi beberapa orang, termasuk saya, rasanya seperti cepat sekali.

Tentu, Anda bisa saja menyebut bahwa 2,5 jam adalah standar sebuah pertunjukkan – dan Jouska memang menyebut bahwa ini adalah sebuah show – tetapi tetap saja rasanya begitu sebentar, begitu cepat. Sesi speech mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, misalnya, terasa sangat singkat padahal ada banyak sekali data dan insight tentang makro-ekonomi yang sangat menarik.

Forward 2019 juga kekurangan sesi diskusi panelis yang mungkin bisa menambah isi acara ini agar semakin menarik dan insightful. Cerita Jouska dan perihal financial literacy juga tidak disajikan – padahal inilah salah satu alasan mengapa banyak orang mengikuti dan tertarik pada Jouska.

Untungnya ada beberapa video rekaman wawancara dengan beberapa subjek cerita Jouska yang pernah disajikan di Instagram Stories mereka (entah memang itu subjek yang sebenarnya atau bukan) yang diputar sebelum acara dimulai, yang membuat acara ini, setidaknya, ada elemen yang “Jouska banget” – tentu saja di luar sesi Aakar Abyasa yang beretorika tentang concern dan mimpinya soal Indonesia.

Beberapa kekurangan tersebut jadi sangat disayangkan, tetapi semua kekecewaan itu bisa ditutupi dengan penampilan hebat Gary Vee. Jadi bisa dimengerti sih kenapa Jouska begitu mendorong Gary Vee dalam berbagai materi promosinya (selain untuk urusan menjual tiket, tentu) – Gary Vaynerchuk memang benar-benar seorang penampil yang luar biasa.

Dan ia memang, seperti kata-kata yang dikatakannya sendiri, “is truly talented”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here